KH. Muhammadun adalah ulama NU kharismatik dan pendiri pesantren pondowan Pati
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Penerus
3.1 Murid-Murid
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Mendirikan Pesantren
4.2 Mendirikan Masjid Podowan
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Muhammadun lahir pada tanggal 10 Januari 1910 M di Desa Cebolek, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Ali Murtadlo dan Hj. Halimatus Sa’diyyah.
Secara genealogis, nasab KH. Muhammadun sambung sampai Kyai Mutamakkin Kajen, baik dari jalur ayah maupun dari jalur ibu, berikut silsilah beliau: KH. Muhammadun bin Ali Murtadlo (alias Murtomo) bin Nyai Thohiroh (istri Kyai Nurwi Cebolek) binti KH. Raden Mohammad Sholeh bin Nyai Jiroh (istri Kyai Hasan Wira’i bin Kyai Abdur Rohman Waru Rembang) binti Nyai Alfiah (alias Nyai Godek) istri Kyai Sholeh (alias Kyai Gerong bin Kyai Ageng Selo Purwodadi) binti KH. Ahmad Mutamakkin Kajen.
1.2 Riyawat Keluarga
Setelah beberapa lama mengajar di pesantren, Kyai Yasin menjodohkan KH. Muhammadun dengan putrinya sendiri yang bernama Nyai Nafisatun. Dari pernikahannya, beliau dikaruniai tiga anak yakni, Kyai M. Badruddin, Kyai Ahmad Rifa’i, dan Nyai Afifah.
KH. Muhammadun berkeinginan untuk membuat rumah sendiri. Awalnya, ingin membuat rumah di sekitar Pesantren Kauman. Namun, karena kesulitan menemukan tanah yang cocok, akhirnya pada hari Senin, 2 Safar 1364 H. Pada tahun 1943 KH. Muhammadun beserta keluarga kecilnya boyongan ke Desa Pondowan, yang kala itu masyarakatnya masih didominasi kaum abangan.
Sehingga ketika awal-awal KH. Muhammadun datang ke Pondowan, beliau tak jarang mendapat olok-olok dan ejekan dari warga sekitar. Namun, hal itu ditanggapi oleh KH. Muhammadun dengan sabar dan lapang dada.
1.3 Wafat
Beliau meninggal dikarenakan menderita sakit stroke yang sudah sangat kronis. Awalnya pada hari Selasa, 23 Juni, KH. Muhammadun terjatuh ketika akan berwudhu untuk mendirikan shalat Dhuha di Masjid Pondowan. Kemudian atas saran dokter, beliau diantar ke Rumah Sakit Roemani Semarang oleh seorang dokter Puskesmas Margoyoso yang bernama Dr. Muhtadi dan dikawal oleh santri yang bernama Syafi’i dari Majalengka dirawat di sana sampai hari Rabu.
Setelah mendapatkan perawatan intensif selama sehari semalam, KH. Muhammadun menghembuskan nafas terakhirnya pada Rabu, 24 Juni 1981 M. pukul 17:00 WIB. Sontak mendengarkan kabar tersebut, kabut kesedihan menyelimuti Desa Pondowan. Umat Islam berdatangan dari berbagai kalangan untuk ikut hormat jenazah sang Kyai. Doa dan tahlil terdengar dimana-mana mengiringi keberangkatan seorang Kyai yang terkenal dengan semangatnya, ketekunannya dalam berjuang di j
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

