Ayat ini turun berkenaan dengan seorang tunanetra (‘Abdullāh bin Ummi Maktūm) yang menghadap Nabi untuk belajar agama. Kebetulan waktu itu Nabi sedang menjamu seorang pembesar kaum musyrik. Beliau ingin sekali sang pembesar masuk Islam sehingga tidak mengacuhkan permintaan pria buta tadi. Ayat di atas turun untuk menegur perlakuan Nabi tersebut.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: أُنْزِلَ (عَبَسَ وَتَوَلَّى) فِي ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ الأَعْمَى، أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَجَعَلَ يَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرْشِدْنِي! وَعِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَجُلٌ مِنْ عُظَمَاءِ الْمُشْرِكِينَ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُعْرِضُ عَنْهُ وَيُقْبِلُ عَلَى الآخَر،ِ وَيَقُولُ: أَتَرَى بِمَا أَقُولُ بَأْسًا؟ فَيَقُوْلُ: لاَ. فَفِي هَذَا أُنْزِلَ. (1)
Ā’isyah berkata, “‘Abasa watawallā (Surah ‘Abasa) turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktūm, seorang pria buta. Ia menghadap Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, ajarilah aku agama!’ Kebetulan saat itu Nabi sedang menjamu seorang pembesar kaum musyrik. Rasulullah pun berpaling dari Ibnu Ummi Maktūm dan memusatkan perhatiannya kepada pembesar musyrik itu. Karena Nabi tidak segera menjawab, Ibnu Ummi Maktūm bertanya, ‘Adakah yang salah dengan ucapanku?’ Nabi menjawab, ‘Tidak.’ Berkaitan dengan kisah inilah ayat tersebut diturunkan.
(1) Sahih; diriwayatkan oleh at-Tirmiżiy, al-Ḥākim, dan Ibnu Ḥibbān. al-Ḥākim menilai sanad hadis ini sahih berdasarkan syarat al-Bukhāriy dan Muslim, dan aż-Z|ahabiy menyetujuinya. Lihat dan bandingkan dalam: at-Tirmiżiy, Sunan at-Tirmiżiy, dalam Kitāb Abwāb Tafsīr al-Qur’ān, Bāb wa min Sūrah ‘Akim, al-Mustadrak, dalam Kitāb at-Tafsīr, Bāb Tafsīr Sūrah ‘Abasa wa Tawallā, juz 2, hlm. 558–559, hadis nomor 3896; Ibnu Ḥibbān, Ṣaḥīḥ Ibni Ḥibbān, dalam Kitāb al-Birr wa al-Iḥsān, Bāb żikr mā Yustaḥabb li al-Mar’ al-Iqbāl ‘alā aḍ-Ḍu‘afā’, juz 2, hlm. 291–292, hadis nomor 535. 237 Al-Bagawiy menjelaskan, ayat ini turun berkenaan dengan seorang tunanetra bernama Ibnu Ummi Maktūm. Ia menghadap Nabi tepat ketika beliau sedang menjamu beberapa pembesar Quraisy, seperti ‘Utbah bin Rabī‘ah, Abū Jahl bin Hisyām, ‘Abbās bin ‘Abdul-Muṭṭalib, Ubay bin Khalaf, dan Umayyah bin Khalaf. Nabi menyeru mereka masuk Islam. Ibnu Ummi Maktūm berkata, “Wahai Rasulullah, bacakanlah Al-Qur’an kepadaku dan ajari aku apa yang telah Allah ajarkan padamu.” Tanpa tahu bahwa Nabi sedang menerima tamu, ia terus mengulang-ulang permintaannya. Raut muka Rasulullah mulai berubah dan tampak agak kesal karena ada yang menyela pembicaraan beliau dengan mereka. Nabi berkata dalam hati, ‘Mereka itu pasti akan menghinaku karena tahu bahwa pengikutku adalah orang yang buta.’ Nabi pun bermuka masam dan berpaling dari Ibnu Ummi Maktūm. Allah lalu menurunkan ayat ini untuk menegur Nabi. Setelah kejadian ini Nabi selalu memuliakan Ibnu Ummi Maktūm. Tiap kali melihatnya, beliau selalu bersabda, ‘Selamat datang, wahai orang yang karenanya Allah menegurku. Lihat: Abū Muḥammad al-Ḥusain bin Mas‘ūd al-Bagawiy, Ma‘ālim at-Tanzīl fī Tafsīr al-Qur’ān, (Beirut: Dār ṭaibah, cet. 4, 1997), juz 8, hlm. 332.