Ayat ini turun berkenaan dengan seorang sahabat yang menjadi imam salat dalam keadaan mabuk. Dalam kondisi demikian ia tidak sadar telah melakukan kesalahan besar dalam melantunkan ayat Al-Qur’an.
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، قَالَ: صَنَعَ لَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ طَعَامًا فَدَعَانَا وَسَقَانَا مِنَ الْخَمْرِ فَأَخَذَتِ الْخَمْرُ مِنَّا وَحَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَقَدَّمُونِي فَقَرَأْتُ: (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) لاَ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ وَنَحْنُ نَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ. قَالَ: فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَقْرَبُوا الصَّلاَةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ). (1)
Aliy bin Abī ṭālib berkata, “Suatu hari ‘Abduraḥmān bin ‘Auf menyuguhi kami makanan dan khamar. Kami pun minum hingga mabuk. Ketika waktu salat tiba, mereka mendorongku menjadi imam. Karena mabuk, aku membaca, qul yā ayyuhal-kāfirūn lā a‘budu mā ta‘budūn wanaḥnu na‘budu mā ta‘budūn. Allah lalu menurunkan ayat, yā ayyuhal-lażīna āmanū lā taqrabuṣ-ṣalāta wa antum sukārā ḥattā ta‘lamū mā taqūlūn.”
(1) Sahih; diriwayatkan oleh Abū Dāwud, at-Tirmiżiy, an-Nasā’iy, al-Baihaqiy, al-Ḥākim, dan aṭ-Ṭabariy. At-Tirmiżiy mengatakan hadis ini ḥasan ṣaḥīḥ garīb. Lihat: Abū Dāwud, Sunan Abī Dāwud, dalam Kitāb al-Asyribah, Bāb fī Taḥrīm al-Khamr, hlm. 406, hadis nomor 3671; at-Tirmiżiy, Sunan at-Tirmiżiy, dalam Kitāb at-Tafsīr, Bāb wa min Sūrah an-Nisā’, hlm. 676–677, hadis nomor 3026; an-Nasā’iy, as-Sunan al-Kubra, dalam Kitāb at-Tafsīr, Bāb Lā Taqrabū aṣ-Ṣalāh wa Antum Sukārā, juz 10, hlm. 65, hadis nomor 11040; al-Baihaqiy, as-Sunan al-Kubrā, dalam Kitāb aṣ-Ṣalāh, Bāb Ṣifah Aqall as-Sakr, juz 1, hlm. 572, hadis nomor 1828; al-Ḥākim, al-Mustadrak, juz 2, hlm. 336, hadis nomor 3199, dan juz 4, hadis nomor 7220, 7221, dan 7222; aṭ-Ṭabariy, Jāmi‘ al-Bayān, juz 7, hlm. 45–46. Al-Ḥākim dalam keempat riwayatnya mengatakan sanad hadis ini sahih; dan aż-Z|ahabiy setuju dengannya. Sebetulnya riwayat ini mempunyai beberapa versi, baik dari segi sanad maupun redaksinya. Dari sisi sanad, ada beberapa perawi yang meriwayatkan hadis ini secara mursal. Dari sisi redaksi, beberapa perawi berbeda riwayat mengenai siapa yang menjadi imam pada waktu itu; ada yang mengatakan ‘Aliy (misalnya dalam riwayat at-Tirmiżiy dan Abū Dāwūd), ada yang mengatakan ‘Abdurraḥmān bin ‘Auf (misalnya dalam riwayat al-Ḥākim, dan aṭ-Ṭabariy), ada yang menyebut “seorang pria” (misalnya dalam riwayat al-Bazzār); dan ada pula yang menyebut “sebagian kaum” tanpa menyebut nama secara spesifik (misalnya dalam Tafsīr al-Waṣīt,} karya al-Wāḥidiy).