Nyai Hj. Aisyah Hamid Baidlowi memulai perannya dengan menjabat Ketua Fatayat NU Wilayah DKI Jakarta (1959-1962) di usia 19 tahun. Dari sini, meskipun Nyai Aisyah termasuk keturunan darah biru NU, ia tetap menjalani proses kaderisasi dari tingkat bawah. Baginya, proses berjenjang dalam aktif di organisasi akan menempa seseorang menjadi lebih matang.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendiidkan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Kiprah di Nahdlatul Ulama
3.2 Memajukan Perempuan Nahdliyin
3.3 Menjadi Anggota DPR RI
4. Karir-Karir
5. Penghargaan
6. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Nyai Hj. Aisyah Hamid Baidlowi lahir pada tanggal 4 Juni 1940 di Jombang. Beliau merupakan putri kedua dari KH. Wahid Hasyim dan Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim. Saudara-saudara beliau antara lain: KH. Abdurrahman Wahid, KH. Salahuddin Wahid, KH. Umar Wahid, Nyai Lily Chodijah Wahid, dan KH. Hasyim Wahid.
1.2 Wafat
Nyai Hj. Aisyah Hamid Baidlowi wafat pada hari Kamis 8 Maret 2018 di Rumah Sakit Mayapada Lebak Bulus, Jakarta Selatan, sekitar pukul 12.50 WIB. Jenazah beliau dimakamkan di pemakaman keluarga di area MQ Tebuireng.
Warga NU berduka atas kepergian beliau yang banyak mengajarkan bagaimana kemandirian perempuan harus terwujud sebagai pondasi kemajuan sebuah bangsa
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Dalam perjalanan kehidupannya, beliau selalu berpindah-pindah tempat tinggal, pada usia tiga tahun, Nyai Hj. Aisyah Hamid Baidlowi mengikutinya orang tuanya pindah ke Jakarta. Namun, karena situasi saat itu belum aman karena pendudukan Nippon atau Jepang, Nyai Aisyah diajak ibunya Nyai Hj. Sholichah Wahid Hasyim kembali ke Jombang.
Kembali ke Jombang bagi Nyai Aisyah bisa kembali merasakan tanah kelahiran sekaligus menempa diri di pesantren. Hingga ayahnya, KH. Wahid Hasyim diangkat menjadi menteri agama pada 1945, Nyai Aisyah masih mengikuti pendidikan di Jombang.
Setelah situasi normal di Jakarta pada 1950, Nyai Aisyah sekeluarga diboyong ke Jakarta. Ketika sedang menikmati kehidupan bersama keluarga, Nyai Aisyah harus menghadapi situasi tidak mudah ketika ayahnya KH. Wahid Hasyim meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di daerah Cimahi pada 1953.
Sebagai putri tertua, sejak saat itu Nyai Aisyah memahami dan sadar, dirinya harus dapat berperan sebagai seorang ibu bagi keempat adiknya Salahuddin Wahid, Umar Wahid, Lily Chodijah Wahid, dan Hasyim Wahid. Hal itu dilakukan ketika sang
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

