Biografi Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim

 
Biografi Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim

Daftar Isi Profil Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Peranan di Muslimat NU
  5. Menjadi Kepala Keluarga

Kelahiran

Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim lahir 11 Oktober 1922 di Pondok Pesantren Denanyar Jombang. Beliau merupakan anak kelima dari 10 saudara, dari pasangan KH. Bisri Syansuri dengan istri Nyai Hj. Nur Chadijah (adik dari Mbah Abdul Wahab Hasbullah).

Wafat

Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim wafat pada Jum’at, 29 Juli 1994, sekitar pukul 23.00 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, pada usia 72 tahun. Jenazah beliau dimakamkan di kompleks pemakaman Pondok Tebuireng Jombang. Nama beliau, diabadikan untuk nama Masjid di Ciganjur, menjadi Masjid al-Munawwaroh.

Keluarga

Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim melepas masa lajangnya dengan dinikahi Gus Abdurrahim, putra dari KH. Cholil Singosari, tetapi sang suami kemudian wafat pada tahun awal pernikahan mereka.

Kemudian, Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim menikah kembali dengan KH. Wahid Hasyim pada tahun 1936 M, tepat hari Jum’at, 10 Syawal 1356 H. Setelah menikah, pada awalnya, mereka tinggal di Denanyar, tetapi kemudian pindah ke Tebuireng, sampai sekitar tahun 1942.

Buah dari penikahannya lahir enam anak yang di kemudian hari menjadi tokoh hebat yakni Presiden keempat Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid, Aisyah Hamid Baidlowi, KH. Salahuddin Wahid, Umar Wahid, Lily Chodijah Wahid, dan Hasyim Wahid.

Mahligai rumah tangga KH. Wahid dengan Neng Waroh yang usai menikah lebih akrab dikenal dengan nama Nyai Sholichah ini hanya berlangsung 15 tahun. Tepatnya tahun 1953, KH. Wahid Hasyim meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil di Jawa Barat.

Peranan di Muslimat NU

Pada tahun 1950, ketika KH. Wahid Hasyim diangkat menjadi menteri agama, Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim ikut pindah lagi ke Jakarta. Di Jakarta beliau terlibat dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, terutama di Muslimat NU Jakarta.

Keterlibatannya yang aktif di arena perbaikan masyarakat dan kepejuangannya, dimulai dengan menjadi anggota Muslimat NU Gambir (1950), Ketua Muslimat NU Matraman (1954), Ketua Muslimat NU DKI Jaya (1956), hingga Ketua I Pimpinan Pusat Muslimat NU tahun 1959 sampai beliau wafat pada Jumat, 29 Juli 1994 dalam usia 72 tahun.

Dalam kegiatan di lingkungan Muslimat, Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim merintis berdirinya Yayasan Kesejahteraan Muslimat (YKM) yang mengelola segala jenis fasilitas umum seperti Rumah Sakit, klinik, panti asuhan, rumah bersalin, dan fasilitas sosial lainnya.

Kegiatan sosialnya tidak hanya di lingkungan Muslimat NU saja, ia juga aktif di berbagai organisasi sosial seperti YDB (Yayasan Dana Bantuan), Yayasan Bunga Kamboja, IKPNI (Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia), Home Care, panti jompo dan pengajian untuk para ibu yang dinamakan al-Ishlah di Mataraman. Di dalamnya ia sangat aktif dan cukup berperan.

Keterlibatannya di Muslimat NU itu, masih ditambah dengan keterlibatannya sebagai legislator DKI Jakarta (1957), DPR-GR/MPRS (1960), DPR/MPR (1971 mewakili NU, 1978-1987 mewakili PPP).

Menjadi Kepala Keluarga

Ketika KH. Wahid wafat dalam kecelakaan di Cimahi, pada 1953, Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim mengambil alih semua peran menghidupi, membimbing, dan mendidik keluarga. Karena beliau tidak mau tinggal di Jombang dan tetap memilih di Jakarta. Beliau dijadikan oleh Allah, menjadi seorang yang harus menghadapi liku-liku hidup dan merawat-membesarkan anak-anaknya di dalam belantara Jakarta yang keras.

Pada awalnya KH. Bisri Syansuri memang menghendaki, melalui musyawarah keluarga, agar dia kembali ke Jombang, dan bahkan ketika anak-anaknya akan dibagi di antara paman-pamannya untuk diasuh, Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim tidak bersedia. Beliau memilih tinggal di Jakarta bersama anak-anak mereka.

Ketangguhan, kesabaran, dan keuletan, kiprahnya di masyarakat, integritasnya, dan dipadu dengan munajat-munajat beliau kepada Allah, telah menjadikan Nyai Hj. Solichah ini, sebagai sosok yang sangat dihormati, bukan hanya oleh anak-anaknya, tetapi juga oleh tokoh-tokoh NU, dan kolega-koleganya di luar NU.

Gus Dur menyebut sang ibu, seperti dituturkan dalam buku Ibuku Inspirasiku, dengan menyebutnya, seperti “ayam induk” bagi para pimpinan NU pada masanya, tidak pernah lepas kontak dengan para pimpinan masyarakat, lokal, dan nasional.

Bahkan keputusan kembali ke Khitah NU di Situbondo, tidak juga terlepas dari sosok beliau. Gus Dur yang dicalonkan di arena Muktamar NU di Situbondo, juga mau maju setelah meminta restu dulu kepada sang Ibu, Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh Wahid Hasyim.