Biografi KH. Bisri Mustofa

 
Biografi KH. Bisri Mustofa

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga 
1.3       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau
2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren 

3          Penerus Beliau
3.1       Putera dan puteri Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Karier dan Karya Beliau
4.1       Karier Beliau
4.2       Karya Beliau 

5          Teladan Beliau
5.1       Orator Ulung
5.2       Seorang Muallif Kitab yang Produktif

6          Referensi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir

KH. Bisri Mustofa Beliau lahir pada tahun 1915 M atau bertepatan dengan 1334 H di Kampung Sawahan, Rembang, Jawa Tengah. Beliau merupakan putra pertama dari empat bersaudara, dari pasangan H. Zainal Musthofa dan Chodijah. Ketiga saudara KH. Bisri Mustofa diantaranya, Salamah (Aminah), Misbach, dan Ma’shum.

Pada awalnya KH. Bisri Mustofa diberi nama oleh kedua orang tuanya yaitu dengan nama Mashadi. Tapi setelah menunaikan ibadah haji pada tahun 1923, ia mengganti nama dengan Bisri dan dikenal dengan nama Bisri Mustofa. 

Setahun setelah menikah, KH. Bisri Mustofa berangkat lagi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji bersama-sama dengan beberapa anggota keluarga dari Rembang. Namun, seusai haji,KH. Bisri Mustofa tidak pulang ke tanah air, melainkan memilih bermukim di Mekkah dengan tujuan menuntut ilmu di sana. Di Mekkah, pendidikan yang dijalani KH. Bisri Mustofa  bersifat non-formal.

Beliau belajar dari satu guru ke guru lain secara langsung dan privat. Di antara guru-gurunya terdapat ulama-ulama asal Indonesia yang telah lama mukim di Mekkah. Secara keseluruhan, guru-gurunya di Mekkah adalah: (1) Shaykh Baqir, asal Yogyakarta. Kepadanya, Bisri belajar kitab Lubb al-Usul, Umdât al-Abrâr, Tafsîr al-Kashshâf; (2) Syeikh Umar Hamdan alMaghribî. Kepadanya, Bisri belajar kitab hadis Sahîh Bukhârî dan Sahîh Muslim; (3) Syeikh Alî Malîkî. Kepadanya, Bisri belajar kitab al-Ashbah wa al-Nadâir dan al-Aqwâl al-Sunan al-Sittah; (4) Sayyid Amin. Kepadanya, Bisri belajar kitab Ibn Aqîl; (5) Shaykh Hassan Massat. Kepadanya, Bisri belajar kitab Minhaj Dzaw al-Nadar; (6) K.H. Abdullah Muhaimin. Kepada beliau, Bisri belajar kitab Jam’ al-Jawâmi.

1.2       Riwayat Keluarga

KH. Bisri Mustofa melepas masa lajangnya dengan menikahi Ma’rufah, putri KH. Cholil Kasingan. Beliau melaksanakan akad nikah pada tanggal 17 Rajab 1354 H / Juni 1935. Pada waktu pernikahan, KH. Bisri Mustofa baru berusia 20 tahun dan Ma’rufah juga berusia 20 tahun. Buah dari pernikahannya, mereka dikaruniai delapan orang anak.  

Seiring perjalanan waktu, KH. Bisri Mustofa kemudian menikah lagi dengan seorang perempuan asal Tegal Jawa Tengah bernama Umi Atiyah pada tahun 1967-an.

1.3      Wafat

Pada hari Rabu, 17 Februari 1977 (27 Shafar 1397 H) waktu asar, KH. Bisri Mustofa dipanggil ke haribaan Allah SWT. Beliau wafat di Rumah sakit Dr. Karyadi Semarang karena serangan jantung, tekanan darah tinggi, dan gangguan pada paru-paru.

Saat pemakaman Mbah Bisri, masyarakat Rembang dan umumnya Jawa Tengah bahkan juga, dari berbagai pelosok negeri ini, berdatangan dan bertakziah, untuk memberikan penghormatan kepada almaghfurlah. Ratusan ribu pelayat rela berdesak-desakan, untuk menghadiri upacara pemakaman.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Mengembara Menuntut Ilmu

Sejak kecil KH. Bisri Mustofa sudah menunjukkan kecerdasannya. Sepeninggal sang ayah pada tahun 1923, tanggung jawab keluarga berganti kepada H. Zuhdi. Saat itu, di Rembang terdapat beberapa sekolah. Pertama, Eropese School, kedua, Hollands Inlands School (HIS), ketiga, Sekolah Ongko Loro.

Mulanya, KH. Bisri Mustofa hendak di daftarkan H. Zuhdi di Hollands Inlands School. Namun, karena KH. Cholil Kasingan mendatangi H. Zuhdi dengan alasan bahwa sekolah itu diperuntukan bagi pegawai negeri yang berpenghasilan tetap, sedangkan KH. Bisri Mustofa saat itu adalah anak dari seorang pedagang. Akhirnya, KH. Bisri Mustofa menempuh sekolahnya di Sekolah Ongko Loro kurang lebih selama tiga tahun.

Pada tahun 1925, KH. Bisri Mustofa diminta untuk mengaji selama bulan Ramadhan di Pesantren Kajen milik KH. Chasbullah dan diantar oleh H. Zuhdi. Namun baru beberapa hari di sana, Mbah Bisri pulang dengan alasan tidak betah.

Lalu pada tahun 1930 KH. Bisri Mustofa diperintah kembali untuk mondok, kali ini beliau diperintah untuk mondok di Kasingan, tempat KH. Cholil. Sesampainya di Kasingan, beliau tidak langsung diajar oleh KH. Cholil, namun terlebih dulu belajar pada Suja’i, ipar KH. Cholil.

Selama diajar Suja’i, KH. Bisri Mustofa hanya belajar kitab Alfiyah Ibnu Malik selama kurang lebih dua tahun. Sampai akhirnya KH. Bisri Mustofa menjadi rujukan teman-temannya saat mendapat kesulitan dalam pelajaran, karena KH. Bisri Mustofa sangat menguasai kitab tersebut. 

Setahun setelah menikah dengan putri Kiai Kholil, Bisri muda berniat melanjutkan petualangan keilmuan (rihlah ilmiah). Semangat belajar sebagai santri kelana memuncak pada diri Bisri muda. Akhirnya, jejak langkahnya untuk mengaji mendapat kesempatan, dengan melanjutkan tabarrukan kepada Kiai Kamil, Karang Geneng Rembang.

Pada 1936, Kiai Bisri menuju Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan mengaji kepada ulama-ulama Hijaz. Di antaranya guru-gurunya: Syeikh Hamdan al-Maghribi, Syeikh Alwi al-Maliki, Sayyid Amin, Syeikh Hasan Massyat dan Sayyid Alwi. Selain itu, Kiai Bisri juga mengaji kepada ulama-ulam Hijaz asal Nusantara, yakni KH. Abdul Muhaimin (menantu KH. Hasyim Asy'arie) dan KH. Bakir (Yogyakarta).

2.2      Guru-Guru Beliau

  1. KH. Cholil Kasingan
  2. KH. Chasbullah
  3. Suja’i
  4. Kiai Kamil
  5. Syeikh Hamdan al-Maghribi
  6. Syeikh Alwi al-Maliki
  7. Sayyid Amin
  8. Syeikh Hasan Massyat dan Sayyid Alwi
  9. KH. Abdullah Muhaimin (menantu KH. Hasyim Asy'arie)
  10. KH. Bakir (Yogyakarta).

2.3      Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

Setelah setahun belajar kepada ulama Hijaz, KH. Bisri Mustofa pulang ke tanah air pada 1937. KH. Bisri Mustofa kemudian membantu mertuanya, KH. Kholil Kasingan mengasuh pesantren di Rembang. Setelah itu, Kiai Bisri bersama keluarga memutuskan untuk menetap di Leteh, dengan mendidik santri dan mendirikan  pondok pesantren Raudhatut Thalibin di desa Leteh, Rembang, Jawa Tengah.

3          Penerus Beliau

3.1       Putera dan puteri Beliau

KH. Bisri Mustofa memiliki putera-puteri berjumlah 8 orang yang menjadi penerusnya, yaitu:

  1. Kholil Bisri
  2. Musthofa Bisri
  3. Adib Bisri
  4. Audah
  5. Najikah
  6. Labib
  7. Nihayah 
  8. Atikah

3.2       Murid-murid Beliau

Sedangkan murid-murid beliau di pesantren adalah:

  1.  KH. Saefullah (pengasuh sebuah pesantren di Cilacap Jawa Tengah)
  2.  KH. Muhammad Anshari (Surabaya)
  3.  KH. Wildan Abdul Hamid (pengasuh sebuah pesantren di Kendal)
  4.  KH. Basrul Khafi
  5.  KH. Jauhar
  6.  Drs. Umar Faruq SH
  7.  Drs. Ali Anwar (Dosen IAIN Jakarta)
  8.  Drs. Fathul Qorib (Dosen IAIN Medan)
  9.  KH. Rayani (Pengasuh Pesantren al-Falah Bogor)

4          Karier dan Karya Beliau

4.1.      Karier Beliau

Karier beliau adalah:

  1. Menjadi Pengasuh pesantren
  2. Menjabat sebagai kepala Kantor Urusan Agama dan ketua Pengadilan Agama Rembang. 
  3. Menjadi anggota konstituante 1955 perwakilan dari NU
  4. Rais Syuriyah pengurus wilayah NU Jawa Tengah
  5. Majelis Syuro DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP)

4.2.      Karya-karya Beliau 

Hasil karya KH Bisri Mustofa umumnya mengenai masalah keagamaan yang meliputi berbagai bidang seperti Ilmu Tafsir dan Tafsir, Ilmu Hadis dan Hadis, Ilmu Nahwu, Ilmu Saraf, Syari’ah atau Fiqih, Tasawuf/Akhlak, Aqidah, Ilmu Mantiq/Logika dan lain sebagainya. Kesemuanya itu berjumlah kurang lebih 176 judul. Beberapa diantaranya adalah:

  1. Tafsir al-Ibriz li Ma’rifati Al-Qur’an al- ‘Azizi bi al-Lugati al-Jawiyyah
  2. Al-Iksir Fi Tarjamah  ‘Ilmi Tafsir (1380 H/1970 M)
  3. Tarjamah Manzumah al-Baiquni (1379 H/1960 M)
  4. Al-Azwadu al-Mustafayah Fi Tarjamah al-Arba’in an-Nawawiyyah
  5. Sullamul Afham Tarjamah Bulugul Maram
  6. Nazam as-Sullam al-Munawaraq Fi al-Mantiq
  7. Sullamul Afham Tarjamah Aqidatul Awam (1385 H/1966 M)
  8. Durarul al-Bayan Fi Tarjamah Sya’bi  al-Iman
  9. Tarjamah Nazam al-Faraidul Bahiyah Fi al-Qawaidi al-Fiqhiyyah (1370 H/1958 M)
  10. Aqidah Ahlu as-Sunnah Wal Jama’ah
  11. Al-Baiquniyah (ilmu hadis)
  12. Tarjamah Syarah Alfiyah Ibnu Malik
  13. Tarjamah Syarah Imriti
  14. Tarjamah Syarah al-Jurumiyah
  15. Tarjamah Sullamu al-Mu’awanah
  16. Safinatu as-Salah
  17. Tarjamah kitab Faraid}u al-Bahiyah
  18. Muniyatu az-Zaman
  19. Ataifu al-Irsyad
  20. An-Nabras
  21. Manasik Haji
  22. Kasykul
  23. Ar-Risalatu al-Hasanah
  24. Al-Wasaya Lil Aba’ Wal Abna’
  25. Islam dan Keluarga Berencana (KB)
  26. Kutbah Jum’at
  27. Cara-caranipun Ziarah lan Sintenke Mawon Walisongo Punika
  28. At-Ta’liqat al-Mufidah Li al-Qas}idah al-Munfarijah
  29. Syair-syair Rajabiyah
  30. Al-Mujahadah wa ar-Riyadah
  31. Risalah al-Ijtihad Wa at-Taqlid
  32. Al-Habibah
  33. Al-Qawaidu al-Fiqhiyyah
  34. Buku Islam dan Shalat
  35. Buku Islam dan Tauhid, dan lain-lain.

5          Teladan Beliau 

5.1.      Orator Ulung

Selain sebagai ulama yang gemar menulis, KH. Bisri Musthofa juga dikenal sebagai seorang orator atau ahli pidato. Menurut KH. Saifuddin Zuhri, KH. Bisri Mustofa mampu mengutarakan hal-hal yang sebenarnya sulit menjadi begitu gamblang, mudah diterima semua kalangan baik orang kota maupun desa. 

KH. Bisri Mustofa dikenal sebagai tokoh yang Handal dalam berpidato. Beliau adalah seorang orator. Dalam setiap kampanye  pasti menjadi juru kampanye andalan dari partainya. Kemampuan panggung KH. Bisri Mustofa memang tidak terbantah dan diakui oleh siapa pun. Benar apa yang digambarkan oleh KH. Saifuddin Zuhri bahwa KH. Bisri Mustofa adalah orator, ahli pidato yang dapat mengutarakan hal-hal yang sebenarnya sulit menjadi gamblang. Mudah diterima dan tidak membosankan.

Pemikiran keagamaan KH. Bisri Mustofa dinilai oleh banyak kaingan bersifat moderat. Sikap moderat ini merupakan sikap yang diambil dengan menggunakan pendekatan ushul figh yang mengdepankan kemaslahatan dan kebaikan umat islam yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi zaman clan masyarakatnya. 

5.2     Seorang Muallif Kitab yang Produktif

Melihat dari jumlah karya ilmiyahnya di bidang keislaman menunjukkan bahwa KH. Bisri Mustofa benar-benar seorang ulama yang allamah pada bidangnya dan seorang muallif kitab yang produktif. Justru di bidang inilah kebesaran seorang muallif kitab yang produktif yang jarang diperbuat oleh ulama tradisional abad ke-20.

Padahal ulama-ulama abad sebelumnya banyak sekali kita ketahui yang merupakan muallif terkenal. Melalui karya-karya ilmiahnya ini seorang muallif kitab yang produktif mampu memberikan tuntunan yang mudah kepada santri-santri pemula, santri-santri di desa dan kampung juga orang-orang awam, dalam memahami Islam. Peninggalan atau warisan berupa kitab atau karya ilmiyah biasanya jauh lebih awet dibanding dengan peninggalan lainnya..      

6          Referensi

https://wiki.laduni.id/KH_Bisri_Mustofa

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya