DONASI untuk pengembangan profil pesantren 1.820, kitab 700, makam 634, biografi Ulama 2.577 dan silsilah, tuntunan ibadah, Al-Qur'an dan Hadis serta asbabulnya, weton, assessment kepribadian, fitur komunitas media sosial.
KH. Muhammad Nuh Al Hafiz (Mbah Nuh Pageraji) Ulama Nahdlatul Ulama Cilacap Jawa Tengah
KH. Muhammad Nur adalah pendiri Pesantren Langitan. Beliau adalah sosok inspiratif yang penuh dengan kesabaran dan ketelatenan memberikan bimbingan mulai tingkat dasar sampai lanjut di bidang agama secara Istiqomah. Beliau tak segan-segan mendatangi rumah per rumah untuk menyebarkan ajaran agama Islam.
Sejak kecil, beliau diasuh dan besarkan dalam kultur keagamaan yang sangat kuat. Karena beliau berasal dari keluarga agamis, maka beliau belajar ilmu agama pertamanya dari kelaurga terdekat, yakni kedua orang tuanya.
KH. Muhammad Ridwan Sururi Ulama Nahdlatul Ulama Banyumas Jawa Tengah
Di lain kesempatan, konon KH. Romli pernah di tahan oleh penjajah, namun anehnya setiap shalat jamaah di Pondok Njoso akan dimulai, beliau selalu hadir dan mengimami shalat, namun kemudian kembali lagi. Hal inilah yang pada akhirnya menggemparkan para penjajah saat itu.
KH. Muhammad Sahal Adzkiya atau akrab dipanggil Kyai Sahal lahir di Cilacap tepatnya tanggal 21 Juli 1945, ayah beliau bernama KH. Muhammad Minhajul Adzkiya bin KH. Abdulloh Asro yang beristrikan ibu Ny. Siti Nur Jauharotutauhidiyah binti Mbah Kurdi Petanahan Kebumen.
KH. Muhammad Salim Ma’ruf lahir di kampung Keramat, Kecamatan Martapura Timur, sekitar tahun 1913. Ayah beliau bernama Ma’ruf bin Nafis asal kampung Melayu, salah seorang bilal di masjid Jami’ al-Karomah, Martapura.
KH. Muhammad Salman Dahlawi adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Manshuriyah, Popongan, pesantren tertua di Klaten. Sejak 21 Juni 1980, Pesantren Popongan berganti nama menjadi Pondok Pesantren Al-Manshur, untuk mengenang pendirinya, bersamaan peresmian yayasannya.
Pada saat usia 10 tahun, Kyai Sanusi disekolahkan di Volk School (Sekolah Rakyat) yang terletak di Desa Ciporang. Kendati sudah berumur 10 tahun, Kyai Sanusi termasuk murid yang paling kecil. Dalam buku catatan Kyai Sanusi, setiap sore dirinya selalu mengaji di pesantren KH. Ghazali.