Biografi KH Imron Hamzah

 
Biografi KH Imron Hamzah

Kelahiran

KH Imron Hamzah lahir di Desa Ngelom, Kecamatan Taman Sidoarjo, 17 Agustus 1938. Kiai yang sekarang menjadi Rois Syuriah PBNU ini adalah anak kedelapan dari sebelas bersaudara. Lahir dari pasangan Kiai Chamzah Ismail dan Nyai Muchsinah. Semasa hidup, sebagian besar waktunya lebih dikonsentrasikan untuk kepentingan umat dengan dakwah.

Kewafatan

K.H. Imron Hamzah tutup usia 62 tahun, pada 23 Mei 2000 di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya.

Riwayat Pendidikan

Ketika umur 9 tahun (1946), Imron yang masih darah biru keturunan Mas Karebet atau Joko Tingkir itu, dikirim ke Pesantren Tebuireng Jombang, bersama kakak tuanya KHM Rifa’i. Dari pesantren asuhan KHM Hasyim Asyari ini, Imron pindah ke Pesantren Buntet Cirebon.

Setelah tiga tahun, pindah lagi ke Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang hingga 1954. Dari Jombang berguru kepada Mbah Maksum di PP Al Hidayah Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Dari situ pindah-pindah lagi ke Salatiga dan Krapyak Yogyakarta.

Jasa-jasa di Nahdlatul Ulama

Semenjak masih mondok, Imron sudah aktif berorganisasi. Mulai mencuat namanya pada tahun 1952, menjadi anggota pleno GP Ansor Cabang Jombang. Tahun 1954, menjadi pengurus IPNU Cabang Jombang. Ketika di Lasem (1959), kiai yang tak dikaruniai anak ini menjadi pengurus cabang NU Lasem. Tahun 1962-1965 naik ke puncak menjadi ketua. Pada tahun terakhir di Lasem ini meletus pembernatakan G 30 S/PKI, Kiai Imron tampil sebagai wakil komandan penumpasan PKI.

Setelah pulang ke Ngelom, 1967, masuk di bagian penerangan PERTANU Wilayah Jatim. Tahun itu juga, menjadi ketua Departemen Penerangan GP Ansor Jatim. Tahun 1967-1982 sebagai Katib Syuriyah NU Jatim, yakni saat KH Machrus Ali menjadi Rais.

Saat NU menjadi partai politik, maka jabatan yang disandang Kiai Imron adalah jabatan politik. Untuk itu, pada tahun 1971-1982 menjadi anggota DPRD Tingkat I Jatim, 1973-1986 wakil ketua PPP Wilayah Jatim (Ketuanya KHM Hasyim Latif), 1982-1987 wakil ketua DPRD Tingkat I Jatim, 1989-1994 Sekjen PP RMI. Dua kali menjadi anggota MPR-RI utusan Daerah Jatim, masa jabatan 1987-1992 dan 1992-1997.

Suami Hj Churiyah ini juga pernah menjabat Rois Syuriyah PWNU Jatim selama dua periode 1992-1997 dan 1997-2002. Saat itu, Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim dipegang KH A Hasyim Muzadi. Hanya saja, amanah periode kedua ini tidak bisa tuntas, karena Kiai Imron dipercaya menjadi Rois Syuriah PBNU periode 1999-2004 berdasarkan keputusan Muktamar Lirboyo. (hel - Duta Masyarakat Baru 23 Mei 2000).

Salah satu peran penting Kiai Imron di bidang pengembangan fiqih adalah usahanya merintis kegiatan pengkajian khazanah keislaman salaf melalui berbagai kegiatan halaqah. Upaya itu dilakukannya bersama KH Wahid Zaini, KH Masdar F. Mas’udi, dan sejumlah kiai muda lainnya melalui Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M). Salah satu hasil upaya itu adalah lahirnya rumusan Metode Pengambilan Hukum yang menjadi keputusan Musyawarah Nasional NU di Lampung pada 1992.