Menjiwai Kepribadian Nabi Muhammad SAW

 
Menjiwai Kepribadian Nabi Muhammad SAW
Sumber Gambar: Ilustrasi/Laduni.ID

Laduni.ID, Jakarta – Status Nabi Muhammad SAW adalah untuk menjadi rahmat semesta jagad. Bahkan oleh Michael Hart, Nabi Muhammad Saw telah menjadi tokoh terbaik dunia diantara 100 tokoh lainnya.

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)

Demikian hebat dan beratnya posisi Nabi SAW itu, tentunya dibutuhkan kapasitas dan kualitas diri yang mumpuni. Diantara kualifikasi yang dimiliki Nabi Muhammad Saw adalah pribadi yang mengagumkan.

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

Artinya: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur. (QS. Al-Qalam: 4)

Kualitas kepribadian Qur'ani dengan julukan the living Al-Qur'an. Pribadi yang menjadi rule model/uswah bagi umat manusia.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Pada gilirannya, kepribadian Rasul SAW ini menjadi modal utama untuk misi menyempurnakan akhlak manusia (makarim al-akhlaq).

Secara psikofisiologis, seorang sahabat pernah menggambarakan sosok Nabi Muhammad SAW dengan kalimat, "Kana Rasulullah ahsanannasi khalqan wa khuluqan", bahwa Rasulullah Saw adalah manusia yang terbaik secara khalq (lahir) dan khuluq (bathin). Dengan demikian, Nabi Muhammad SAW adalah manusia sempurna dalam segala aspek, baik lahiriah maupun bathiniah.

Secara fisikis, Hindun bin Abi Halah misalnya mendeskripsikan sifat-sifat lahiriah beliau, bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang manusia yang sangat gagah, indah dan berwibawa, yang wajahnya bercahaya bagaikan bulan purnama. Badannya tinggi sedang, postur tubuh Nabi tegap, rambutnya ikal dan panjang tidak melebihi daun telinganya, warna kulitnya terang, dahinya luas.

Alisnya memanjang halus, bersambung dan indah. Sepotong urat halus membelah kedua alisnya yang akan timbul saat marahnya. Hidungnya mancung yang bagian atasnya berkilau cahaya, janggutnya lebat, pipinya halus. Matanya hitam, mulutnya sedang, giginya putih tersusun rapi. Dadanya bidang dan berbulu ringan.

Lehernya putih, bersih dan kemerah-merahan. Perutnya rata dengan dadanya, bila berjalan, jalannya cepat laksana orang yang turun dari atas. Bila menoleh, seluruh tubuhnya menoleh. Pandangannya lebih banyak ke arah bumi ketimbang langit, sering merenung. Beliau SAW mengiringi sahabat-sahabatnya di saat berjalan, dan beliau jugalah yang memulai salam.

Sedangkan secara psikis, Mushthofa Al ‘Adawi dalam kitab beliau Fiqhul Akhlak 1/7 mengatakan, “Dan telah terhimpun pada diri Rasulullah sifat-sifat yang terpuji seperti malu, dermawan, pemberani, berwibawa, sambutan yang baik, lemah lembut, memuliakan anak yatim, baik batinnya, jujur dalam ucapan, menjaga diri dari perkara yang mendatangkan maksiat, suci, bersih, suci dirinya dan segala sifat-sifat yang baik.”

Jadi kepribadian Qur'ani Nabi SAW adalah perpaduan antara khalq dan khuluqan yang indah berkharisma. Pribadi yang mulia dihadapan Allah dan manusia. Hingga seorang, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW memadukan takwa kepada Allah dengan sifat sifatnya yang mulia. Karena takwa kepada Allah dapat memperbaiki hubungan antara seorang hamba dengan penciptanya, sedangkan akhlak mulia dapat memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia. Jadi, takwa kepada Allah akan melahirkan cinta seseorang kepada-Nya dan akhlak yang mulia dapat menarik cinta manusia kepadanya.

Lalu bagaimanakah menteladani kepribadi Nabi Saw sebagai bukti iman dan cinta kita kepada-Nya? Dalam konteks tegaknya sunnah, maka sebagai mukmin kita harus menginternalisasikan 4 sunnah kedalam kehidupan nyata, yakni:

1. Amalkanlah sunnah qauliyah Nabi SAW

2. Tirulah sunnah fi'liyah Nabi SAW

3. Patuhilah sunnah taqririyah Nabi SAW

4. Penuhilah sunnah hammiyah Nabi SAW

Dengan tunduk dan patuh kepada 4 sunnah tersebut, perlahan dan pasti akan menampakkan kepribadian ala Nabi di dalam diri kita.

Semoga bermanfaat

Oleh: Rakimin Al-Jawiy, Dosen Psikologi Islam Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


Editor: Daniel Simatupang