Asbabun Nuzul Surat Al-Ahzab Ayat 4

Ayat ini turun sebagai tanggapan atas kaum munafik yang menuduh Rasulullah mempunyai dua hati: satu hati bersama sahabatnya, dan satu hati bersama kaum munafik.

  1. عَنْ أَبِي ظَبْيَانَ أَنَّهُ قَالَ: قُلْنَا لاِبْنِ عَبَّاسٍ: أَرَأَيْتَ قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ‏:‏ ‏(‏ما جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ‏)‏ مَا عَنَى بِذَلِكَ؟ قَالَ: قَامَ نَبِيُّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمًا يُصَلِّي، فَخَطَرَ خَطْرَةً، فَقَالَ الْمُنَافِقُونَ الَّذِينَ يُصَلُّونَ مَعَهُ أَلاَ تَرَى أَنَّ لَهُ قَلْبَيْنِ قَلْبًا مَعَكُمْ وَقَلْبًا مَعَهُمْ؟‏‏ فَأَنْزَلَ اللَّهُ‏:‏ ‏(‏ما جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ‏). (1)

    Abu> Z{abya>n bercerita, “Kami bertanya kepada Ibnu ‘Abba>s, ‘Bagaimana penjelasanmu mengenai maksud firman Allah ‘azza wajalla, ma> ja‘alalla>hu lirajulin min qalbaini fi> jaufih?’ Ia menjawab, ‘Pada suatu hari Nabi s}allalla>hu ‘alaihi wasallam salat, lalu terbersitlah sesuatu dalam pikiran beliau. Mengetahui hal itu, orang-orang munafik yang salat bersama beliau mengatakan, "Tidakkah kalian lihat bahwa dia (Muhammad) memiliki dua hati: satu hati bersama kalian (orang-orang munafik) dan satu hati lagi bersama mereka (para sahabatnya)?’ Untuk menanggapi ucapan mereka, Allah ‘azza wajalla lalu menurunkan ayat, ma> ja‘alalla>hu lirajulin min qalbaini fi> jaufihi.”

    Sumber artikel:
    Buku Asbabul Nuzul: Kronologi dan Sebab Turun Wahyu Al-Qur'an
    Buku disusun oleh Muchlis M. Hanafi (ed.)
    Buku diterbitkan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, Badan Litbang dan Diklat, Kementerian Agama RI, 2017


    (1) Hasan; diriwayatkan oleh at-Tirmiz\iy, Ah}mad, dan al-H{a>kim. Lihat: at-Tirmiz\iy, Sunan at-Tirmiz\iy, dalam Kita>b at-Tafsi>r, Ba>b wa min Su>rah al-Ah}za>b, hlm. 722–723, hadis nomor 3199; Ah}mad, al-Musnad, juz 4, hlm. 233, hadis nomor 2410; al-H{a>kim, al-Mustadrak, dalam Kita>b at-Tafsi>r, Ba>b Tafsi>r Su>rah al-Ah}za>b, juz 2, hlm. 450, hadis nomor 3555. Sanad hadis ini sebetulnya masih diperdebatkan kesahihan maupun ked}aifannya. Di antara ulama hadis yang menilainya baik adalah at-Tirmiz\iy, al-H{a>kim. at-Tirmiz\iy mengatakan hadis ini hasan. al-H{a>kim menilai sanad hadis ini sahih. Lihat: al-H{a>kim, al-Mustadrak, dalam Kita>b at-Tafsi>r, Ba>b Tafsi>r Su>rah al-Ah}za>b, juz 2, hlm. 450, hadis nomor 3555; Ah}mad, al-Musnad, hadis nomor 2410; at-Tirmiz\iy, Sunan at-Tirmiz\iy, hadis nomor 3199. Sementara itu, di antara ulama yang menilai sanad hadis ini d}aif adalah az\-Z|ahabiy.

    Selain persoalan sanad, keterkaitan peristiwa yang dikisahkan dalam hadis ini dengan turunnya ayat di atas juga masih diperdebatkan. at}-T{abariy mengatakan, “Para mufasir berbeda pendapat tentang maksud ayat ini. Ada yang mengatakan ayat ini turun untuk menyanggah kaum munafik yang menuduh Nabi mempunyai dua hati. Ada pula yang mengatakan ayat itu turun untuk menyanggah masyarakat yang menjuluki seorang pria Quraisy yang teramat cerdik dengan z\u> al-qalbai>n (orang yang berhati dua). Ada pula yang mengatakan bahwa ayat ini turun terkait Zaid bin H{a>ris\ah yang dijadikan anak angkat oleh Nabi. Menurutku (at}-T{abariy), dari sekian banyak pendapat ini, yang paling mendekati kebenaran adalah pendapat yang mengatakan bahwa ayat ini turun untuk menyanggah orang yang mengatakan bahwa ada orang yang mempunyai dua hati dalam dadanya. Dengan demikian, ayat ini bisa jadi menyanggah tuduhan kaum munafik kepada Rasulullah dan bisa juga menyanggah julukan masyarakat kepada pria cerdik dari Quraisy sebagai ‘orang yang berhati dua’.” Lihat: at}-T{abariy, Ja>mi‘ al-Baya>n, juz 19, hlm. 6–9.