Asbabun Nuzul Surat Al Baqarah Ayat 115

Ayat ini turun untuk memberi penjelasan bahwa kemana pun seseorang menghadap—karena tidak bisa menentukan arah kiblat akibat mendung atau semisalnya—selama itu ditujukan untuk mencari keridaan Allah, ia akan menemukannya di sana. Ada beberapa riwayat tentang sebab nuzul ayat ini, beberapa di antaranya adalah:

  1. عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: كانَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ يُصَلِّي وَهو مُقْبِلٌ مِن مَكَّةَ إلى المَدِينَةِ علَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ كانَ وَجْهُهُ، قالَ: وَفِيهِ نَزَلَتْ (فَأَيْنَما تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ). (1) حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَكِيمٍ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ حَدَّثَنَا أَشْعَثُ بْنُ سَعِيدٍ أَبُو الرَّبِيعِ السَّمَّانُ عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَتَغَيَّمَتْ السَّمَاءُ وَأَشْكَلَتْ عَلَيْنَا الْقِبْلَةُ فَصَلَّيْنَا وَأَعْلَمْنَا فَلَمَّا طَلَعَتْ الشَّمْسُ إِذَا نَحْنُ قَدْ صَلَّيْنَا لِغَيْرِ الْقِبْلَةِ فَذَكَرْنَا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ (فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ). (2) عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: بَعَثَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَرِيَّةً كُنْتُ فِيْهَا، فَأَصَابَتْنَا ظُلْمَةٌ فَلَمْ نَعْرِفِ الْقِبْلَةَ ، فَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنَّا: اَلْقِبْلَةُ هَاهُنَا قِبَلَ الشِّمَالِ، فَصَلُّوْا وَخَطُّوْا خَطًّ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: اَلْقِبْلَةُ هَاهُنَا قِبَلَ الْجَنُوْبِ، وَخَطُّوْا خَطًّا. فَلَمَّا أَصْبَحْنَا وَطَلَعَتِ الشَّمْسُ أَصْبَحَتْ تِلْكَ الْخُطُوْطُ لِغَيْرِ الْقِبْلَةِ، فَقَدِمْنَا مِنْ سَفَرِنَا فَأَتَيْنَا النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلْنَاهُ عَنْ ذَلِكَ فَسَكَتَ ، وَأَنْزَلَ الله عَزَّ وَجَلَّ: (ولِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ الله). (3)

    Ibnu ‘Umar berkata,“Suatu hari Rasulullah shallalla>hu ‘alaihi wasallam salat (sunah) di atas untanya dalam perjalanan dari Mekah menuju Madinah. Beliau menghadapkan wajahnya kemana saja unta itu menghadap. Terkait peristiwa ini turunlah ayat, fa ainama> tuwallu> fas}amma wajhulla>h.

    ‘A‘ah berkata, “Kami menemani Rasulullah shallalla>hu ‘alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan. Tiba-tiba langit tertutup mendung sehingga kami kesulitan menentukan arah kiblat. Kami pun salat dan memberi tanda (pada arah salat kami). Begitu matahari muncul, kami sadar telah salat dengan tidak menghadap ke arah kiblat. Kami laporkan hal ini kepada Rasulullah. Allah lalu menurunkan ayat, fa ainama> tuwallu> fas}amma wajhulla>h.

    Ja>bir bin ‘Abdulla>h radliyalla>hu ‘anhuma> berkata, “Suatu hari Rasulullah shallalla>hu ‘alaihi wasallam mengutus sejumlah pasukan -aku salah satu dari mereka. Di tengah perjalanan malam pun turun sehingga kami tidak tahu arah kiblat. Beberapa dari kami berkata, ‘Kiblat di arah utara.’ Mereka pun salat menghadap ke utara dan membuat sebuah garis (untuk menandainya). Sebagian yang lain berkata, ‘Kiblat di arah selatan.’ (Mereka pun salat menghadap ke selatan) dan membuat sebuah garis pula (untuk menandainya). Ketika pagi tiba dan matahari terbit, kami sadar kedua garis itu tidak mengarah ke kiblat. Usai menunaikan tugas, kami menghadap Rasulullah dan menceritakan hal ini kepada beliau. Beliau diam (tidak menjawab) sampai turun firman Allah, fa ainama> tuwallu> fas}amma wajhulla>h.”

    Sumber artikel:
    Buku Asbabul Nuzul: Kronologi dan Sebab Turun Wahyu Al-Qur'an
    Buku disusun oleh Muchlis M. Hanafi (ed.)
    Buku diterbitkan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, Badan Litbang dan Diklat, Kementerian Agama RI, 2017


    (1) Diriwayatkan oleh Muslim bin Hajja>j an-Naisa>bu>riy, S{ah}i>h Muslim, (Kairo: Da>r Ihya>’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, cet. 1, 1991), dalam Kita>b Sala>h al-Musa>firi>n wa Qasriha>, Ba>b Jawa>z Sala>h an-Na>filah 'ala> ad-Da>bbah, juz 1, hlm. 486, hadis nomor 70.

    (2) Hasan; diriwayatkan oleh Ibnu Ma>jah, al-Baihaqiy, dan at-Tirmiz}iy dari jalur Asy'as bin Sa'i>d dari 'Ah dari ‘Abdulla>h bin ‘Abi'ah. at-Tirmiz{y cenderung melemahkan sanadnya karena menilai Asy'as sebagai perawi yang lemah (d{a'i>f). 'Illat (cacat) yang lain dijumpai pada 'Ah yang dinilai buruk hafalannya, sebagaimana disebutkan dalam at-Taqri>b. Namun hadis Ja>bir setelah ini bisa menjadi sya>hid (penguat) atas hadis ini sehingga derajat hadis ini terangkat menjadi hasan. Lihat: Ibnu Ma>jah al-Qazwi>niy, Sunan Ibni Ma>jah, (Riyad: Maktabah al-Ma'a>rif, cet 1, t.th), dalam Kitab Iqa>mah as-S}alawa>t, Ba>b Man S}alla> li Gair al-Qiblah, hlm. 184, hadis nomor 1020; al-Baihaqiy, as-Sunan al-Kubra>, (Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. 3, 2003), dalam Kita>b as-S}ala>h, Ba>b Istihya>n al-Khat}a' ba‘d al-Ijtiha>d, juz 2, hlm. 17, hadis nomor 2241; at-Tirmiz}iy, Sunan at-Tirmiz}iy, Kita>b Mawa>qi>t as-S}ala>h, Ba>b Ma> Ja>’a fi> ar-Rajul Yus}alli li Gair al-Qiblah fi> al-Gai>m, hlm. 95, hadis nomor 345. Lihat pula: Ibnu Ha>jar, Taqri>b at-Tahz}i>b, hlm. 472.

    (3) Hasan; diriwayatkan oleh al-Baihaqiy. Menurut beberapa kritikus, pada sanad riwayat ini dijumpai sedikit kelemahan, yaitu pada diri Muhammad bin Sa>lim. Kendati demikian, hadis ini bisa terangkat derajatnya menjadi hasan karena adanya beberapa sya>hid dan ta>bi'. As-Suyu>t}iy pun cenderung menilai hasan hadis ini, begitu pula Ahmad Sya>kir dalam ta‘li>q-nya atas Sunan at-Tirmiz}iy. Lihat: Ibra>hi>m Muhammad al-‘Aliy, Sa>hih Asba>b an-Nuzu>l, (Damaskus: Da>r al-Qalam, cet. 1, 2003) hlm. 25. Lihat pula: al-Baihaqiy, as-Sunan al-Kubra>, dalam Kita>b as-S}ala>h, Ba>b Istihya>n al-Khata>' ba'd al-Ijtiha>d, juz 2, hlm. 18–19, hadis nomor 2243; at-Tirmiz}iy, Sunan at-Tirmiz{iy, ta'li>q Ahmad Muhammad Sya>kir, (Kairo: Must}afa> al-Ba>biy al-H{alabiy, cet. 2, 1977), juz 2, hlm. 177.