Biografi KH Ahmad Zamachsyari

 
Biografi KH Ahmad Zamachsyari

Daftar Isi Profil KH Ahmad Zamachsyari

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Keluarga
  5. Hijrah Ke Gondanglegi
  6. Pandai Melihat Peluan
  7. Jiwa Wirausaha

 

Kelahiran

Kyai Achmad Zamachsyari atau biasa dipanggil Gus Mad adalah putra kedua dari 8 bersaudara pasangan suami istri Hj. Asmah Binti Siddiq dan Kyai Ahmad Rifa’I Basuni. Kyai Achmad Rifai Basuni adalah pendiri Pondok Pesantren Al Fattah, Singosari. Gus Mad lahir di kampung Peneleh gg III Surabaya tanggal 16 Juni 1943.

Wafat

Pagi itu, Ahad 19 Februari 2012, seperti biasa ribuan jamaah Istighosah dan pengajian rutin Ahad di Pesantren Modern Ar-Rifa’i asuhan KH. Ahmad Zamakhsyari berduyun-duyun memasuki Masjid ar-Rifa’i 2 di area pesantren yang dihuni ribuan santri itu. Tidak ada tanda-tanda duka di antara mereka. Ribuan jamaah itu memenuhi ruang utama dan pelataran Masjid Al Rifa'i. Sambil menunggu sang kyai, mereka melakukan sholat sunnah dan dzikir sendiri-sendiri. Waktu terus berjalan, namun istighotsah dan pengajian belum juga dimulai. Bahkan, sang kyai yang dinanti-nanti pun belum hadir di tengah-tengah jamaah.

Para jamaah berharap-harap cemas, sebab, tidak seperti biasanya kyai kharismatik tersebut sampai terlambat untuk memimpin Isthighosah dan pengajian. Sebelumnya, para jamaah memang sudah melihat sang kyai masuk ke sebuah kamar khusus yang terletak di bagian depan masjid tersebut. Menurut beberapa sumber yang bisa dipercaya, biasanya sebelum memimpin istighotsah dan pengajian, sang kyai sholat Dhuha dan muthola’ah kitab terlebih dahulu di kamar tersebut.

Waktu terus berjalan. Sampai pukul 05.30, sang kyai belum juga keluar dari kamar tersebut. Padahal biasanya jam 05:00 sudah dimulai. Hati para jamaah mulai resah dan gelisah. Selain gelisah, mereka juga bingung. Maklum, para santri juga tidak berani untuk mengetuk pintu kamar khos tersebut.

Sesuatu yang ganjil terjadi. Pintu kamar yang biasanya tertutup dan dikunci, pada saat itu nampak agak terbuka, dan kaki sang kyai pun terlihat oleh jamaah di shaf bagian depan. Adalah Bapak Mocammad Kholik, salah satu jamaah yang memberanikan diri untuk masuk kamar tersebut. Dengan mengajak beberapa jamaah lainya, Pak Kholik memberanikan diri untuk masuk. Mereka sempat uluk salam. Namun, tak ada jawaban.

Mereka akhirnya memberanikan diri untuk menghapiri sang kyai yang nampak sedang tertidur. Allahu akbar, ternyata sang kyai telah menghadap Allah SWT untuk selamanya. Ketika seorang jamaah memeluk badan Gus Mad badannya masih terasa hangat, tetapi beliau sudah tidak bernyawa.

Gus Mad berpulang haribaannya pada 19 Februari tahun 2012. Siang itu juga, setelah Dhuhur jenazah almarhum KH. Achmad Zamachsyari dikebumikan. Ribuan jamaah ikut mensholatinya dan mengiringi kepergiannya ke peristirahatan terakhir.

Pendidikan

Gus Mad sejak kecil sudah dipondokkan oleh abahnya ke Pesantren Serang, Jawa Tengah yang diasuh oleh Romo Kyai Maimoen Zubair. Pengalaman hidup di lingkungan pondok dan pergaulannya dengan banyak orang membuat Gus Mad mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik.

Sejak kecil, Gus Mad sudah dilihat oleh abahnya memiliki bakat dan kharisma yang luar biasa. Bakat yang dimiliki Gus Mad sudah terpantau oleh abahnya sejak Gus Mad berusia 4 tahun. Waktu itu, Gus Mad kecil sering mendengarkan kakak perempuannya mengaji melantunkan ayat suci Al Qur’an. Mendengar alunan ayat suci Al Qur’an itu, hati Gus Mad menjadi bergetar. Gus Mad yang masih berumur 4 tahun itu sudah bisa menghafalkan bacaan surat yang dibacakan oleh kakaknya itu.

Tak heran jika Gus Mad diperhatikan betul oleh abahnya sejak Gus Mad mondok di Pesantren Serang, Jawa Tengah. Bayangkan, saking pinginnya lihat anaknya berhasil, abahnya Gus Mad rela datang ke Serang dengan membawa sendiri beras, lauk pauk mentah dan keperluan anaknya yang lain. Perjuangan sang abah demi anaknya membuat Gus Mad menangis haru.

Pesan abah kepada Gus Mad, “Kamu kalau mondok harus berhasil dapat ilmunya. Kalau kamu pulang tidak bisa apa-apa dan tidak bisa mengaji nanti kamu jualan es keliling saja.” Begitulah pesan abah yang selalu diingat-ingat oleh Gus Mad.

Didikan disiplin yang diperoleh Gus Mad dari abahnya ini diterapkan juga kepada putra-putri Gus Mad sendiri. Gus Mad merupakan orang yang bersahaja. Tetapi punya wibawa yang luar biasa.

Keluarga

Gus Mad mempunyai beberapa saudara, adapun Kedelapan saudara Gus Mad diantaranya adalah kakak perempuan bernama Maghfiroh (lahir tahun 1941), adik perempuan bernama Mahmudah (lahir tahun 1945), adik laki-laki bernama Muhammad Ja’far (lahir tahun 1947), adik perempuan bernama Mustainah ( lahir tahun 1949), adik perempuan bernama Mutiah (lahir tahun 1951), adik laki-laki bernama Mutamakkin (lahir 1953) dan adik terakhir perempuan bernama Maftuhah (lahir 1955). Dari delapan anak KH Rifa’ie dan Hj. Asmah Binti Shiddiq, laki-laki berjumlah 3 orang dan perampuan berjumlah 5 orang. Kelak anak laki-laki tertuanya, yakni KH Achmad Zamahsyari yang akan menjadi generasi penerus KH. Rifa’ie.

Hijrah Ke Gondanglegi

Dalam proses perjalanan hidupnya, Gus Mad mendapat inspirasi untuk membangun Pondok Pesantren Modern. Untuk itu, Gus Mad mempunyai rencana agar Pondok Al Fattah milik abahnya dijadikan Pondok Modern. Namun rencana Gus Mad tidak disetujui oleh saudara-saudaranya yang lain. Mereka ingin agar Pondok Al Fattah yang didirikan abahnya itu tetap dipertahankan konsep salafiyahnya.

Akhirnya demi kebaikan bersama, Gus Mad memutuskan untuk meninggalkan Singosari, tempat yang telah membesarkannya. Beliau memilih tempat baru di wilayah Ketawang, Gondanglegi, Kabupaten Malang. Di daerah ini, beliau membeli tanah seluas 8.200 meter persegi milik H. Nasir seharga Rp 25 juta.

Waktu itu, tanah yang dibeli Gus Mad masih berupa semak belukar yang termasuk daerah yang gersang. Konon, daerah Ketawang dulunya dikenal sebagai sarang perjudian dan mabukan-mabukan. Situasinya sangat sepi. Kalau malam gelap gulita. Jarak satu rumah dengan rumah lainnya bisa kiloan meter. Namun kondisi ini tidak menyurutkan langkah Gus Mad untuk mewujudkan keinginannya membangun pondok. Yang mula-mula dibangun adalah rumah sebagai tempat tinggal Gus Mad dan keluarganya. Baru kemudian dibangunlah pondok pesantren.

Pandai Melihat Peluang

Gus Mad memang memiliki jiwa bisnis. Tanah tandus di sekitar pondok, disulapnya menjadi lahan tebu. Untuk pengelolaannya, Gus Mad mengajak orang-orang di sekitar Pondok. Dengan kata lain, penduduk sekitar telah diberi pekerjaan oleh Gus Mad. Gus Mad memang pintar dalam berdakwah. Sambil memberi pekerjaan, Gus Mad menyuruh mereka seminggu sekali untuk istighotsah bersama. Kalau kehidupan ekonomi mereka sudah bagus, Insya Allah agamanya juga ikut bagus. Mereka diberi pekerjaan dan mereka juga diajarkan bagaimana cara bekerja yang halal yang baik sesuai dengan tuntunan agama.

Berkat kerja keras Gus Mad dalam memberikan arahan kepada penduduk desa setempat, maka desa yang dulunya miskin itu kini berubah menjadi desa yang subur. Hal ini segera menarik minat penduduk desa lain untuk bertempat tinggal di sekitar Pondoknya Gus Mad. Dan Alhamdulillah, makin banyak penduduk luar yang mendiami Ketawang, Gondanglegi sehingga lambat laun daerah yang dulunya sepi itu menjadi ramai. Makin banyak bangunan yang didirikan, otomatis jalannya pun diaspal dan diberi lampu penerangan.

Jadilah daerah Ketawang menjadi daerah yang ramai. Ramai dengan orang yang sibuk bekerja dan ramai dengan orang yang sibuk memondokkan anaknya. Apalagi, tepat tanggal 9 bulan 9 tahun 1999, Pondok Modern Al Rifa'ie yang sudah dicitaka-citakan jauh hari oleh Gus Mad diresmikan oleh Panglima TNI (waktu itu) Jenderal Wiranto. Berdirinya Pondok Pesantren Al Rifa'ie dengan bangunan mentereng di atas lahan seluas 7.000 meter persegi mengundang minat orang tua di Gondanglegi dan sekitarnya untuk memondokkan anak-anaknya di Pesantren Al Rifa'ie. Awal tahun 2000 saja, santri yang mendaftar sebanyak 1.000. Namun yang diterima hanya 600 karena menyesuaikan dengan kapasitas yang tersedia.

Sejak Pondok Modern Al Rifa'ie berdiri, masyarakat setempat banyak yang menaruh simpati kepada Gus Mad. Sebab dengan berdirinya Pondok, kehidupan ekonomi masyarakat sekitar Pondok juga ikut terangkat. Banyak peluang usaha dan kesempatan kerja di daerah ini. Masyarakat ada yang membuka toko kelontong, warung nasi, warung bakso, mie ayam, es campur dan pedagang buah. Mereka berdiri berderet di sekitar Pondok untuk melayani kebutuhan santri dan keluarga santri yang sewaktu-waktu sambangi.

Apalagi pada saat berlangsungnya istighotsah rutin setiap Minggu pagi dan malam Jumat legi, para pedagang kaki lima (PKL) banyak yang datang mengais rejeki memanfaatkan kedatangan ribuan jamaah dari segala pelosok desa maupun dari luar kota yang menghadiri istighotsah.

Memang sosok Gus Mad telah menciptakan magnet tersendiri di daerah ini. Di samping Pesantrennya yang mampu menyedot ribuan santri, juga kegiatan istighotsah yang diasuhnya berpengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat. Dari sisi agama maupun sisi ekonominya, Gus Mad juga telah berperan mengatarkan kemajuan yang lebih baik kepada masyarakat sekitar. Misalnya, dulu daerah Ketawang adalah daerah yang rawan dan minus, namun kini telah menjelma menjadi daerah yang aman, dengan pertumbuhan ekonomi yang lumayan pesat. Masyarakatnya yang dulu jauh dengan agama, sekarang menjadi masyarakat agamis.

Jiwa Wirausaha

Gus Mad memang memiliki jiwa bisnis yang lumayan bagus. Beliau tidak hanya mengurusi Pesantrennya saja, tetapi juga berkecimpung di dunia usaha. Sejumlah usaha yang digeluti beliau antara lain biro perjalanan haji, toko variasi mobil, dan toko swalayan. Termasuk juga perkebunan tebu, apel, mangga, dan cabai. Hasil perkebunan apel dan mangganya bahkan sudah diekspor sampai Jepang. Lahan untuk perkebunan ini seluas 36 hektar. Lahan seluas itu dieli dengan menyicil murni dari hasil tabungan beliau. Sepersen pun tidak ada bantuan dari pemerintah maupun pejabat.

Gus Mad bisa seluwes ini dalam menekuni usaha tak lain karena Gus Mad memiliki pengalaman sudah sejak lama dalam membuka usaha. Sewaktu beliau berkeluarga dan menikahi Bu Nyai Shofiatul Muawwanah, Gus Mad sudah mencoba merintis usaha. Waktu itu untuk menopang ekonomi keluarganya, Gus Mad berjualan es mambo dan gorengan. Istrinyalah yang menggoreng kerupuk, tempe, menjes, pisang, dan ubi. Sedangkan Gus Mad tidak malu untuk mengantar sendiri jajanan gorengannya itu ke warung-warung di luar Pondok Al Fattah, Singosari. Mengetahui kalau putranya membuka usaha gorengan, sang abah meminta Gus Mad berhenti. Namun, Gus Mad sudah bertekad bulat untuk membuka usaha. Alasannya, beliau tidak mau menggantungkan ekonomi keluarganya dengan merepoti orang tua.

Pagi jualan gorengan, setelah itu mengajar di Pondok sampai pukul 09.00 pagi. Siang sampai sore hari bisnis jual beli sepeda motor di Malang. Uniknya, kawan bisnis beliau kebanyakan berasal dari etnis China.

Dalam upaya regenerasi kepemimpinan, Gus Mad telah memberikan pandangan kepada putra-putrinya agar menjadi pemuka agama dan tokoh masyarakat.

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya