Bolehkah Mengubah Doa Dari Rasulullah Saw, Inilah Jawabannya

 
Bolehkah Mengubah Doa Dari Rasulullah Saw, Inilah Jawabannya

Doa dari Nabi dengan Sighat Jama’ Diubah Mufrad

Pertanyaan :

Bolehkah mendoakan dengan shighat jamak dalam doa yang dari Rasulullah Saw. dengan mufrad, seperti “Allaahumma anta rabbi, kemudian dibaca Allaahumma anta rabbanaa”?.

Jawab :

Sesungguhnya doa-doa yang datang dari syara’ dengan mufrad, tidak boleh diubah, kecuali kalau doa itu diubah sendiri, maka sunat dengan shighat jamak sewaktu orang lain mengamininya.

Keterangan, dari kitab:

  1. Al-Minhaj Syarah Muslim [1]

وَاخْتَارَ الْمَازَرِيُّ وَغَيْرُهُ أَنَّ سَبَبَ اْلإِنْكَارِ أَنَّ هَذَا ذِكْرٌ وَدُعَاءٌ فَيَنْبَغِى اْلإِخْتِصَارُ عَلَى اللَّفْظِ الْوَارِدِ بِحُرُوْفِهِ وَقَدْ يَتَعَلَّقُ الْجَزَاءُ بِتِلْكَ الْحُرُوْفِ وَلَعَلَّهُ أَوْحَى اللهُ لَهُ r هَذِهِ الْكَلِمَاتِ فَيَتَعَيَّنُ أَدَاؤُهَا بِحُرُوْفِهِ وَهَذَا الْقَوْلُ حَسَنٌ.

Pendapat yang dipilih oleh al-Mazari dan lainnya adalah, sebab pengingkaran (tidak memperbolehkan) karena ini adalah dzikir dan doa, maka harus mengikuti redaksinya secara utuh, dan pembalasan (pahala) terkait dengan bunyi lafazh-lafazh dalam doa tersebut. Barang kali Allah Swt. memang mewahyukan kepada Nabi Saw. redaksi dari kalimat-kalimat dari dzikir dan doa tersebut, sehingga mengikuti redaksinya secara utuh menjadi suatu keharusan. Pendapat ini adalah pendapat yang baik.

[1] Muhyiddin al-Nawawi, al-Minhaj Syarah Muslim, (Beirut: Dar al-Fikr, 1421 H/2000 M), Juz IX, h. 30.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 187 KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA KE-11 Di Banjarmasin Pada Tanggal 19 Rabiul Awwal 1355 H. / 9 Juni 1936 M.