Biografi KH. M. Syafi`i Hadzami

 
Biografi KH. M. Syafi`i Hadzami

Daftar Isi Profil KH. M. Syafi`i Hadzami

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Guru-Guru
  5. Karier
  6. Karya-Karya

Kelahiran

KH. M. Syafi`i Hadzami lahir pada tanggal 31 Januari 1931 di Betawi.

Wafat

Pada tanggal 7 Mei 2006, umat Islam di Ibukota, khususnya masyarakat Betawi, kehilangan sosok ulama besar yang sampai hari ini sulit dicarikan tandingannya. Beliau adalah Mu`allim KH. M. Syafi`i Hadzami. Gelar mu`allim dan juga`allamah yang disandangnya menunjukkan betapa almarhum menempati posisi yang begitu terhormat dalam hirarki keulamaan di Betawi.

Pendidikan

KH. M. Syafi`i Hadzami kecil, sering sekali diajak kakeknya untuk mengaji dan membaca zikir di kediamannya Kiai Abdul Fattah (1884-1947), seorang ulama kelahiran Cidahu, Tasikmalaya yang membawa Tarekat  Idrisiah ke Indonesia.

Selain itu, beliau juga mengaji al-Qur`an, dasar-dasar ilmu nahwu dan shorof kepada Pak Sholihin. Dari tahun 1948 sampai dengan tahun 1953 atau selama 5 tahun. Setelah selesai, kemudian beliau melanjutkan dengan belajar  kepada KH. Sa`idan di Kemayoran. Kepadanya, Syafi`i belajar ilmu tajwid, ilmu nahwu (dengan kitab pegangan berjudul Mulhatul-I`rab) dan ilmu fikih (dengan kitab  pegangan berjudul Ats-Tsimar Al-Yani`ah yang merupakan sarah dari kitab Ar-Riyadh Al-Badi`ah).

Selain belajar ilmu-ilmu agama, Syafi`i juga belajar ilmu  silat  kepadanya. KH. Sa`idan juga menyuruhnya untuk belajar kepada guru-guru yang  lain, misalnya kepada Guru Ya`kub Sa`idi (Kebon Sirih), Guru Khalid (Gondangdia), Guru Abdul Majid (Pekojan), dan lain-lain. Dari KH. Mahmud   Romli yang tinggal di daerah Menteng, Jakarta Pusat ini, Syafi`i menimba ilmu  fikih dan ilmu tasawuf. Kitab fikih yang digunakan dalam belajar adalah Bujairimi, sedangkan kitab tasawufnya adalah Ihya `Ulumiddin.

Biasanya, yang  membaca kitab-kitab tersebut adalah Guru Mahmud sendiri. Lebih dari 6 tahun (1950-1956), Syafi`i menimba ilmu darinya. Juga berguru kepada  KH. Ya`kub  Saidi yang bermukim di Kebon Sirih, Jakarta  Pusat, seorang alim lulusan Mekkah. Kepada gurunya ini, Syafi`i mengaji banyak kitab yang dibacanya dihadapan Guru Ya`kub sampai khatam; terutama kitab-kitab dalam ilmu ushuluddin dan mantiq. Diantara kitab-kitab yang dikhatamkan padanya adalah Idhahul  Mubham, Darwis Quwaysinin dan lain-lain.

Juga Syafi’i berguru kepada KH. Muhammad Ali Hanafiyyah masih tergolong kakeknya Syafi`i. Kitab-kitab yang dipelajari Syafi`i dari beliau adalah Kafrawi, Mulhatul`Irab, dan Asymawi. Lebih kurang  5 tahun, yaitu sejak tahun1953 sampai tahun 1958, Syafi`i belajar kepada KH. Mukhtar Muhammad di Kebon Sirih. Beliau ini masih terhitung mertuanya sendiri dan juga murid dari Guru Ya`kub. Diantara kitab yang dibaca oleh Syafi`i kepada beliau adalah kitab Kafrawi.

Guru-Guru

Guru-guru lain yang berjasa dalam mendidiknya adalah: KH. Muhammad Sholeh Mushonnif  (darinya,  Syafi`i  belajar  ilmu  ushuluddin), KH. Zahruddin Utsman (darinya, Syafi`i mendapatkan  ijazah  kitab  Al-Hikam), Syekh Yasin bin Isa Al-Fadani (darinya, Syafi`i banyak belajar ilmu hadits, ilmu usul fikih, dan lain-lain), dan  juga kepada KH. Muhammad Thoha.

Selain itu, beliau juga mengaji kepada beberapa habib terkemuka di Betawi, yaitu Habib Ali bin Husein al-Attas, Bungur (Habib Ali Bungur) dan Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi, Kwitang (Habib Ali Kwitang). Dengan Habib Ali Bungur, Syafi`i “dewasa” mengaji sejak sekitar tahun 1958 sampai dengan gurunya ini diwafatkan pada tahun 1976.  

Banyak kitab-kitab yang dipelajarinya dari Habib Ali Bungur yang lahir di Huraidhah, Hadramaut, Yaman pada tanggal1 Muharram  1309  dan selama 5 tahun menuntut ilmu di Mekkah kemudian ke Jakarta sampai ia diwafatkan. Syafi`i merupakan murid kesayangannya yang mendapatkan ijazah   langsung darinya seminggu sebelum wafat.  Beliau  juga  rajin mengikuti  pengajian  umum  yang diasuh oleh Habib Ali Kwitang.

Karier

Selama masa hidupnya, KH. M. Syafi`i pernah menjabat Ketua Umum MUI DKI Jakarta selama dua periode dan rajin mengeluarkan fatwa.

Karya-Karya

KH. M. Syafi`i merupakan sedikit ulama  yang cukup produktif  menulis di bidang qira`at, ushul fiqih, dan fiqih dimana karya-karya beliau diakui kualitasnya sampai ke negeri tetangga.

Ada tujuh karya tulis beliau, diantaranya:

Pertama, Sullamul`Arsy fi  Qira`at Warsy. Risalah ini selesai disusunnya pada tanggal 24 Dzulqa`dah tahun 1376H (1956M) pada saat ia berusia  25  tahun. Risalah  setebal 40 halaman ini berisi tentang  kaidah-kaidah  khusus  pembacaan Al-Qur`an menurut Syekh Warasy yang  terdiri atas satu mukadimah, sepuluh mathlab (pokok pembicaraan), dan satu khatimah (penutup).  

Kedua, Qiyas  Adalah Hujjah Syar`iyyah. Di dalam risalah ini dikemukakan dalil-dalil dari al-Qur`an,  al-Hadits, dan ijma` ulama  yang menunjukkan bahwa  qiyas merupakan salah satu dari hujjah   syari`ah. Risalah ini selesai disusun pada tanggal 13 Shafar 1389 H bertepatan dengan tanggal 1 Mei 1969 M.

Ketiga, berjudul Qabliyah Jum`at. Risalah ini membahas  tentang  sunnahnya sholat Qabliyyah  Jum`at dan hal-hal yang berkaitan  dengannya. Di dalam risalah ini dikemukakan nash-nash al-Qur`an, al-Hadits, dan pendapat para fuqaha.

Keempat, berjudul Shalat Tarawih. Risalah ini disusun untuk memberikan penjelasan shalat tarawih yang sering menjadi persoalan di kalangan kaum muslimin. Di dalamnya dikemukakan dan dijelaskan dalil-dalil dari hadits dan keteranganpara ulama yang berkaitan dengan  shalat tarawih. mulai dari pengertiannya, ikhtilaf tentang jumlah raka`atnya, cara pelaksanaannya, dan lain-lain;

Kelima, berjudul `Ujalah Fidyah Shalat. Risalah yang ditulis pada tahun 1977 ini membahas khilaf tentang membayarkan fidyah (mengeluarkan  bahan  makanan pokok) untuk seorang muslim yang telah meninggal dunia yang di masa hidupnya pernah meninggalkan beberapa waktu shalat fardhu. Risalah ini disusun karena adanya pertanyaan  tentang  masalah  tersebut yang diajukan oleh salah seorang jama`ah pengajiannya.

Keenam, berjudul  Mathmah Ar-Ruba fi Ma`rifah  Ar-Riba. Di dalam risalah ini dibahas beberapa persoalan yang berkaitan dengan riba, seperti hukum riba, benda-benda yang ribawi, jenis-jenis riba, bank simpan pinjam, deposito, dan sebagainya. Risalah ini selesai ditulis pada tanggal 7 Muharram  1397 H (1976 M).

Ketujuh, berjudul Al-Hujajul Bayyinah. Risalah ini  dalam bahasa Indonesia memiliki arti argumentasi-argumentasi yang jelas, yang selesai beliau tulis sekitar tahun 1960. Risalah ini mendapat pujian dari gurunya, Habib Ali bin Abdurrahman  Al-Habsyi. Bahkan dari gurunya ini, ia mendapatkan rekomendasi (seperti kata pengantar) untuk  bukunya ini. 

Selain itu, ada satu kitab yang diberi judul Taudhih Al-Adillah yang artinya menjelaskan dalil dalil. Kitab ini disebut-sebut sebagai masterpiece beliau, sebab sampai hari ini masih menjadi salah satu rujukan umat Islam untuk menjawab persoalan-persoalan fiqih kontemporer. Kitab ini merupakan   kompilasi dari tanya  jawab  beliau sebagai nara sumber dengan para pendengar di Radio Cendrawasih Kitab yang terdiri atas 7 jilid  ini, selain dicetak  di Indonesia juga pernahdicetak di Malaysia.