Melancong Wisata di Kota Semarang dan Bertawassul di Makam Habib Hasan Bin Thoha Bin Yahya

 
Melancong Wisata di Kota Semarang dan Bertawassul di Makam Habib Hasan Bin Thoha Bin Yahya

Kota Semarang menyimpan kisah banyak sejarah tokoh perjuangan Kerajaan Islam Nusantara. Salah satunya adalah Habib Hasan bin Toha bin Muhammad bin Thoha bin Yahya yang dikenal oleh masyarakat dengan nama Mbah Kramat Jati. Habib Luthfi bin Yahya menyebutkan bahwa beliau mendapat gelar Singo Barong karena sebagai Pimpinan Perang Hamengku Buwono II.

 

Lokasi

Letak Makamnya berada di belakang Java Mall Semarang, masuk lewat pertigaan pasar kambing atau jalan Tentara Pelajarke arah timur pelan-pelan di kiri jalan, ada plang bertuliskan “Ke Makam Waliyullah Assayyid Al Habib Hasan bin Thoha bin Yahya (Mbah Singo Barong)". Tepatnya di Jalan Duku Kelurahan Lamper Kidul Kota Semarang, tepat di belakang Mihrab Masjid Al Hidayah.

Dulunya daerah makam itu berupa tanah pemakaman umum yang berubah menjadi area perumahan. Dan berdasar data bahwa tanah di area makam merupakan tanah perdikan (bebas pajak) hadiah Raja Kraton Yogyakarta pada bala tentara yang dipimpin Mbah Singo Barong.

Maka di zona area pemakaman dulunya dipakai kamp para tentara dan menjadi perumahan para tentara. Dimana Java Mall sekarang itu dulunya adalah markas tentara (Kodim) dan tempat mengatur strategi perang.
 
 

Karomah Habib Hasan bin Yahya
 

Banyak karomah yang dimiliki Habib Hasan bin Yahya ini. Mulai dari memindahkan aliran sungai di Pekalongan, menggulingkan kapal lawan hanya dengan mengangkat rantai kapal dan lainnya.

Kisah ditemukannya makam ini berawal dari Habib Luthfi. Sebelumnya dikisahkan bahwa area makam itu ada pohon jati dan satu pohon lagi (penulis lupa namanya). Saat pohon jati itu ditebang dan dipotong-potong, malamnya sang pemotong kayu mimpi ketemu seseorang dan diminta mengembalikan jati yang telah ditebang.

Setelah dikembalikan, malam harinya pohon jati itu kembali berdiri utuh lagi. Maka kemudian dikasih sebutan makam Mbah Kramat Jati. Setelah itu tahun 1990 an Habib Luthfi memberi penjelasan bahwa makam itu adalah auliyaillah Habib Hasan yang menjadi orang kepercayaan Sultan Hamengku Buwono.
Lokasi ziarah sangat nyaman dan tenang untuk tawassul. Ada pengurus makam masih muda bernama Mas Wahyu yang hafal kisah-kisah makam auliyaillah di Semarang dan daerah-daerah lainnya.

 


Kisah Syekh Kramat Jati Singo Barong

Seperti dilansir Al-Mihrab, Habib Hasan bin Thoha bin Yahya lahir di kota Inat (Hadramaut), dari pasangan Habib Thoha bin Yahya dengan Syarifah Aisyah binti Abdullah Al-Idrus. Beliau mendapat pendidikan langsung dari kedua orangtuanya sampai hafal Alquran sebelum usia tujuh tahun. Sebelum menginjak dewasa, dia telah banyak hafal kitab-kitab.

Di samping belajar ilmu syariat, Habib Hasan juga belajar tasawuf kepada para ulama. Di antara guru beliau adalah Habib Umar bin Smith dan Quthbil Ghouts Al Habib Alwi bin Abdullah Bafaqih. Denga ilmu yang tinggi, dakwah Habib Hasan diterima khalayak umum maupun khusus. Fatwa-fatwanya banyak didengar oleh pembesar kerajaan waktu itu.

Pada waktu muda, setelah mendapat izin dari gurunya untuk berdakwah dan mengajar, Habib Hasan ke Afrika di Tonja, Maroko dan sekitarnya, kemudian ke daerah Habsyah, Somalia terus ke India dan Penang Malaysia untuk menemui ayahnya.

Setelah tinggal beberapa waktu di Penang, dia mendapat izin dari ayahnya untuk ke Indonesia meneruskan dakwahnya. Habib Hasan pertama kali masuk ke Palembang kemudian ke Banten. Pada saat tinggal di Banten, dia diangkat oleh Sultan Rofiudin, atau Sultan Banten yang terakhir waktu itu menjadi Mufti Besar.

Di Banten tidak hanya mengajar dan berdakwah, dia juga bersama-sama dengan pejuang Banten dan Cirebon mengusir penjajah Belanda. Walaupun Sultan Rofi’udin telah ditangkap dan dibuang ke Surabaya oleh Belanda, tetapi Habib Hasan yang telah menyatukan kekuatan pasukan Banten dan Cirebon tetap gigih mengadakan perlawanan.

Setelah itu, Habib Hasan meneruskan dakwahnya lagi ke Pekalongan, Jawa Tengah. Di Pekalongan dia mendirikan pesantren dan masjid di desa Keputran dan tinggal di Desa Ngledok. Pondok Pesantren itu terletak di pinggir sungai.

Sebelumnya, arah sungai mengalir dari arah selatan Kuripan mengalir ke tengah kota menikung sebelum tutupan kereta api. Namun, dengan keistimewan yang dimiliki Habib Hasan, aliran sungai itu dipindah ke barat yang keberadaannya seperti sampai sekarang.

Pengaruh Habib Hasan mulai dari Banten sampai Semarang sangat besar. Tidak mengherankan bila Belanda selalu mengincar dan mengawasinya. Pada tahun 1206 H/1785 M, terjadilah sebuah pertempuran sengit di Pekalongan. Dengan kegigihan dan semangat yang dimiliki Habib Hasan dengan santri dan pasukannya, Belanda kewalahan.

Akhirnya Habib Hasan bersama pasukan dan santrinya mengungsi ke Kaliwungu, Kendal, tinggal di suatu daerah yang sekarang dikenal dengan Desa Kramat. Atas perjuangan, kearifan, serta keluasan ilmu Habib Hasan, Sultan Hamengkubuwono ke II kagum dan menjadikannya menantu. Daerah yang ditempati juga mendapat perlindungan sultan.

Keturunan beliau antara lain:

  1. Sayyid Thoha, Ciledug
  2. Sayyid Muhammad
  3. Mbah Surgi Jatikusumo Batang
  4. Sayyid Ali, Mufti Besar di Yaman
  5. Sayyid Yahya
  6. Sayyid Hamid
  7. Sayyid Alwi
  8. Sayyid Umar
  9. Dewi Aisyah (Raden Mas Ayu)
  10. Raden Ayu Fatimah

Cucu beliau antara lain:

  1. Pangeran Panotogomo Sayyid Muhammad bin Ali bin Hasan, yang menjadi Sultan Alimuddin Kutai Kartanegara
  2. Diantara cucu Beliau yang di Pekalongan adalah Beliau Maulana Habib Luthfi bin Yahya; Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Umar bin Thoha bin Hasan bin Thoha bin Yahya.

Habib Hasan tinggal bersama sahabatnya bernama Kyai Asy’ari seorang ulama besar yang menjadi cikal bakal pendiri pesantren di wilayah Kaliwungu (Kendal ), guna bahu-membahu mensyiarkan Islam. Masa tua hingga wafatnya, Habib Hasan tinggal di Semarang tepatnya di daerah Perdikan atau Jomblang yang merupakan pemberian dari Sultan HB II.

Cegah Adu Domba

Rumah Habib Hasan terbuka 24 jam dan dijadikan tumpuan umat untuk memecahkan segala permasalahan yang mereka hadapi. Dua pesan utama dakwahnya, pertama cinta kepada Nabi Muhammmad beserta keluarganya yang dijadikan pintu kecintaan kepada Allah. Kedua, kecintaan kepada kedua orangtua dan guru.

Habib Hasan adalah seorang yang lemah lembut dan berakhlak mulia tetapi sangat keras dalam berpegang teguh kepada agama. Dia tidak pernah mendahulukan kepentingan pribadinya.

Banyak amal rahasia yang dilakukan oleh Habib Hasan setiap malamnya. Sehabis salat malam, Habib Hasan berkeliling membagikan beras, jagung dan juga uang ke rumah-rumah fakir miskin, anak-anak yatim, dan janda-janda tua. Dia sangat menghargai generasi muda dan menghormati orang yang lebih dituakan.

Habib Hasan dikenal sebagai seorang yang ahli menghentikan segala perpecahan dan fitnah antar golongan dan suku. Sehingga aksi adu domba yang dilakukan pihak penjajah gagal. Dia juga menguasai beberapa bahasa dengan fasih dan benar.

Habib Hasan wafat di Semarang dan dimakamkan di depan pengimaman Masjid Al Hidayah Taman Duku Lamper Kidul Semarang. Hingga saat ini, banyak orang yang yang datang berziarah di makamnya.