Biografi KH. A. Rifa’i Romly

 
Biografi KH. A. Rifa’i Romly

Daftar Isi Profil KH. A. Rifa’i Romly

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Kiprah di Pesantren dan Politik

Kelahiran

KH. A. Rifa’i Romly lahir pada tanggal 22 April 1942 di Rejoso, Suwaru, Mojoagung. Beliau merupakan putra pertama dari pasangan KH. Romly Tamim dari Ibu Ny. Chodijah.

Wafat

KH. A. Rifa’i Romly wafat pada 12 Desember 1995 di di Rejoso Suwaru Mojoagung.

Keluarga

KH. A. Rifa’i Romly  melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyai. Hj. Ummu Aiman binti KH. Mahrus Aly Lirboyo kediri. Buah dari pernikahnya, beliau dikaruniai depalan anak. Putra-putri beliau diantaranya:

  1. Ning Nawang Wulan Jannatul Firdaus
  2. Ning Cholilatussaidah
  3. Gus Syarif Hidayatulloh
  4. Gus Rokhmatul Akbar
  5. Gus Kenedy Muammar Kadafi
  6. Ning Nurlaili Kamali
  7. Ning Yulinah Kasinah
  8. Ning Indira Zulikha

Pendidikan

Pada masa kecil, KH. A. Rifa’i Romly di didik dan diasuh langsung oleh ayahnya, KH. Romly Tamim. Setelah beranjak dewasa, Kiai Rifai melanjutkan pendidikannya di Madrasah Ibtida’iyah dan Muallimin (setingkat SLTP) di Darul ‘Ulum, kemudian mondok di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Setelah cukup menempa diri di pendidikan tradisional, pendidikan formalnya dilanjutkan ke Fakultas Ushuluddin UNDAR dan IAIN Sunan Ampel Kediri. Beliau juga pernah di Fakultas Hukum UNDAR Jombang.

Kiprah di Pesantren dan Politik

KH. A. Rifa’i Romly berkiparah di Darul ‘Ulum mulai tahun 1972 sebagai Kepala Sekolah SMP Darul ‘Ulum 1. Kemudian menjadi Ketua Umum Ikatan Pondok Pesantren Darul ‘Ulum (IKAPPDAR) pada tahun 1976, dan Menjadi Mursyid Toriqoh Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah menggantikan almarhum Dr. KH. Musta’in Romly pada tahun 1985.

Sementara diluar Darul Ulum, kiai Rifai juga pernah menjadi anggota DPRD Jombang mulai tahun 1972 sampai tahun 1992 dan menjadi anggota DPRD Jawa timur mulai tahun 1992 sampai wafatnya.

KH. A. Rifa’i Romly adalah sosok yang sangat bersahaja, memandang hidup apa adanya sehingga terkesan tanpa beban. Kalau berceramah kerap kali menggunakan bahasa yang elementer dan akrab dengan bahasa harian orang-orang Jawa Timur, karenanya mudah dipahami mulai dari jamaah Toriqoh Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah maupun santri-santri Darul ulum. Dalam memompa semangat murid-muridnya di medan perjuangan, Beliau selalu berujar “Duk tali layangan awak situk ilang-ilangan“ (Duk tali untuk layang-layang, badan satu perlu dikorbankan sampai darah penghabisan dalam perjuangan).