Biografi KH. Baedlowie Sirodj

 
Biografi KH. Baedlowie Sirodj

Daftar Isi Profil KH. Baedlowie Sirodj

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Merintis Pesantren
  6. Teladan
  7. Karya-Karya

Kelahiran

KH. Baedlowie Sirodj lahir pada tahun 1900 di desa Kajen, kecamatan Margoyoso yang kira-kira berjarak 18 km dari kota Pati ke arah utara. Beliau merupakan putra kedua dari empat bersaudara, dari pasangan KH. Sirodj dan Nyai Hj. Khodijah. Saudara-saudara beliau diantaranya, Nyai Hj. Halimah, KH. Hambali, dan Nyai Hj. Fatimah, dari pasangan.

Baedlowi lahir dari keluarga berlatar belakang kiai dan bangsawan di daerahnya. Di mana KH. Sirodj adalah ulama besar keturunan KH. Ahmad Mutamakkin dari dua garis, yaitu dari Raden Hendro Kusumo dan dari Nyai Alfiyah atau biasa disebut Mbah Godek.

Nasab beliau dari jalur ayahnya, diantaranya, KH. Baedlowi bin Sirojd bin Ishaq bin Sawijah binti R. Danum bin Toyyibah binti Muhammad Hendro Kusumo bin Ahmad Mutamakkin.

Baedlowi terlahir di lingkungan pesantren yang sangat kental dengan ajaran agama Isyglam. Hal itu terlihat ketika beliau berumur sekitar lima tahun, ayahnya KH. Sirodj mendirikan Pesantren Wetan Banon yang letaknya di sebelah timur makam Syekh Mutamakkin.

Di masa kecilnya KH. Baedlowie adalah sosok yang menyayangi binatang. Sampai beliau memelihara binatang-binatang ternak seperti ayam, bebek, kambing, dan lain sebagainya. Ayahnya KH. Sirodj menyediakan tanah bagian timur kepada beliau untuk dibuat beberapa kamar pondokan.

Oleh karena itu, jelaslah bahwa kehidupan di masa kecilnya di lingkungan pesantren berperan besar dalam pembentukan wataknya yang haus akan ilmu pengetahuan dan kepeduliannya pada pelaksanaan ajaran-ajaran agama dengan baik.  KH. Baedlowie adalah sosok yang alim dalam pengetahuan agama dan mampu melahirkan ide-ide atau pemikiran yang cemerlang pada masanya.

Wafat

Pada tahun 1980 kondisi KH. Baedlowi mengalami sakit parah. Hingga pada subuh hari Jumat Pahing tangga l3 Ramadhan 1402 atau tepatnya 25 juni 1982, KH. Baedlowie Sirodj kepulangan beliau ke Rahmatullah. Beliau wafat di usia 82 tahun.

KH. Baedlowie dimakamkan di komplek pemakaman Syekh Mutamakkin, bersebelahan dengan makam kakeknya KH. Ishaq dan makam ayahnya KH. Sirodj.

Keluarga

Buah dari pernikahannya, KH. Baedlowie Sirodj dikaruniai dua putra dan empat orang putri, yaitu : KH. Faqihuddin, KH. Ali Ajib, Nyai Hj. Suadah, Nyai Hj. Hamdanah, Nyai Hj. Alfiyah, dan Nyai Hj. Nihayah.

Pendidikan

KH. Baedlowie yang sejak kecil memang sudah berkecamuk dengan dunia pendidikan. Hal ini bisa dilihat di usia mudanya, ia telah melalang buana guna menimba ilmu di berbagai pondok pesantren. Ia pernah mondok di Pesantren Tremas, Pesantren Tebuireng , Pesantren Bangkalan, dan Pesantren Lasem.

Baedlowi muda adalah sosok yang rajin belajar, ulet, cerdas,  dan sederhana. Pengalaman ini pula yang akhirnya memengaruhi beliau untuk mengembangkan pesantren ayahnya di Kajen.

Baedlowie memulai pengembaraannya dalam mencari ilmu dengan belajar ilmu tata bahasa dan bahasa arab, fiqih, dan sufi dari kiai Kholil Bangkalan, sebelum memfokuskan diri dalam bidang studi Al Qur’an dan tafsir.

Pada tahun 1922 beliau berkesempatan belajar di Makkah dan menetap di sana selama tiga tahun. Beliau menunaikan ibadah haji dan belajar berbagai macam ilmu agama di sana. Di Makkah pula beliau mula-mula belajar di bawah bimbingan Syekh Mahfudz dari Tremas, ulama Indonesia yang pertama kali mengajarkan Sahih Bukhari di Makkah. Syekh Mahfudz adalah ulama yang ahli dalam ilmu hadis. KH. Baedlowi sangat tertarik untuk mempelajari ilmu ini, hingga setelah kepulangannya dari Makkah beliau mendirikan pengajian khusus tentang Hadis.

KH. Baedlowie juga mendapat ijazah dari Syekh Mahfudz pewaris terakhir dari pertalian penerima sanad hadis dari 23 generasi penerima karya ini. Beliau juga belajar tariqat Qadariyah dan Naqsabandiyah, ilmu yang diterima oleh Syekh Mahfudz dari Syekh Nawawi. Sebelumnya syaikh yang menerima ajaran ilmu itu adalah Syekh Sambas dari Kalimantan Barat, seorang sufi yang pertama kali menggabungkan tariqat Naqsabandiyah dan Qadiriyah.

Jadi Syekh Mahfudz merupakan penghubung membentuk tradisi sufi yang menghubungkan Syekh Nawawi dan Syekh Sambas dengan KH. Baedlowie. Pengaruh tradisi ini juga tercermin dari kenyataan bahwa Syekh Sambas masih mempertahankan tradisi pemikiran bermadzhab dan pendekatan sufisme  juga dapat ditemukan dalam pemikiran KH. Baedlowie. Selain itu KH. Baedlowie juga belajar kepada Syekh Bagir Al-Yogya Al-Maliki.

Syekh Baghir ini juga yang telah membentuk karakteristik KH. Baedlowie akan pengetahuannya tentang sufisme yang didukung dengan pengetahuan Tafsir. KH. Baedlowie juga merupakan mursyid dari KH. Manshur dari Popongan Sleman. Hal ini diperkuat dengan ilmu yang beliau dapatkan dari ulama besar Jawa KH. Hasyim Asy’ari yang memiliki banyak ilmu keagamaan.

Walaupun KH. Baedlowie mengikuti satu tarekat, beliau melarang santrinya mnjalankan praktek-praktek sufi di pesantrennya agar mereka tidak terganggu dalam belajar. Beliau juga menolak tarekat yang dianggap menyimpang dari ajaran islam. Apa yang dilakukan ini juga sama dengan KH. Hasyim Asy’ari yang juga meminimalisir gerakan-gerakan yang bertentangan dengan syariat Islam.

Guru-guru lain yang juga mempunyai andil dalam membentuk keintelektualannya adalah KH. Hasyim Asy’ari, KH. Cholil Lasem, KH. Dimyathi Termas, dan lain sebagainya. Oleh karena itu bisa dianggap bahwa perkembangan keintelektualan beliau juga didorong oleh intelektual muslim nasional dan internasional.

Merintis Pesantren

Dengan berbekal dari pengalamannya di Mekkah dan anjuran gurunya itulah KH. Baedlowie segera mengambil tindakan defensif guna meredam gejolak perkembangan wahabiah di tanah air. Karena perkembangan tersebut sedikit banyak bertentangan dengan faham ulama salaf  (Ahlussunnah Waljamaah), yang membolehkan berittiba’ kepada suatu madzhab.

Maka beliau dirikanlah sebuah madrasah dengan gaung “Salafiyah” pada tahun 1935 untuk memperbaharui proses pengajaran di Pondok Wetan Banon. Atas dasar kecenderungan masyarakat pada waktu itu dan sesuai dengan prkembangan pendidikan atau pengajaran di tanah air, menjelmalah madrasah Salafiyah sebagai lembaga pendidikan yang sistematis dan terorganisir, yang memakai metode jadwal.

Ayah KH. Baedlowie, KH. Sirodj mendirikan pondok pesantren Wetan Banon pada tanggal 12 Mei 1902. Semulanya hanya beberapa santri saja yang berguru kepada KH. Sirodj. Namun perkembangan pesantren yang sangat pesat ini, menjadikan banyaknya santri yang berdatangan untuk mengikuti belajar. Hal ini tidak dapat dipisahkan dari kepribadian KH. Sirodj yang merupakan ulama dan ilmuwan ternama.

Setelah sepeninggalan KH. Sirodj pada tahun 1928, pondok Wetan Banon ini diasuh oleh putranya, KH. Baedlowie dan KH. Hambali. Tepatnya pada tanggal 1 Januari 1935 barulah duet kepemimpinan ini membuka Madrasah.

Saat Salafiyah dipegang oleh sosok KH. Hambali dan KH. Baedlowi, Madrasah sebagai pelengkap dari pengajaran agama di pesantren tersebut tampak pola-pola pengelolaannya yang masih digarap secara individual. Penamaan Salafiyah ini akhirnya lebih kentara dan dikenal oleh khalayak ramai untuk pesantrennya juga. Maka dari itu masyrakat kemudian menyebut Madrasah Salafiyah tidak lepas dari Pondoknya, yaitu Pondok Wetan Banon yang kemudian entah mulai kapan berganti dengan Pondok Salafiyah.

Hanya sekitar enam tahun madrasah ini melakukan aktifitasnya, namun sejak masa pendudukan fasis militer Jepang (1942) madrasah ditutup sementara. Kajen menjadi tempat yang diawasi secara ketat. Beberapa pengelola Madrasah Salafiyah ikut terjun ke kancah politik perjuangan, seperti ke Hisbullah atau menangani keagamaan di Pemerintah (sekarang DEPAG). Peristiwa ini mengakibatkan banyak warga pria Kajen meninggalkan desanya untuk mencari suaka, dan ikut terjun memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, tak ketinggalan KH. Hambali.

KH. Hambali pergi ke rumah mertuanya di Bareng Jekulo Kudus. Dan disana pada tahun 1955, KH. Hambali juga membuka madrasah dan pesantren baru yang juga dinamakan Salafiyah. Setelah situasi tanah air mengijinkan pada tahun 1945 madrasah Salafiyah Kajen dibuka kembali, di bawah asuhan KH. Baedlowie dengan dibantu H. Hamzawie dan angkatan mudanya. Pada tahun 1948 berkat ketekunan dari pengelola madrasah Salafiyah sudah mendapat pengakuan dari pemerintah.

Bahkan pada tahun 1950, Salafiyah mendapatkan subsidi pemerintah yang berupa tenaga pengajar dan alat-alat sekolah. Pada masa ini gedung Madrasah Salafiyah baru tiga lokal di samping barat kediaman KH. Baedlowie dan beberapa lokal di depan rumahnya. Kemampuan KH. Baedlowie mengajak angkatan muda dan santri-santrinya yang dianggap mumpuni untuk ikut bergabung cukup memadai sampai metode klasikal dan tradisi diskusi/musyawarah diterapkan.

Para santri begitu tekun dan merasa cocok dengan metode seperti ini. Sehingga semakin banyak siswa yang belajar di madrasah Salafiyah. Dalam hal pelaksanaannya, KH. Baedlowie menyerahkan pengelolaan Madrasah Salafiyah kepada KH Muzayyin Hadi. Dengan kemampuan KH. Muzayyin Hadi ini tampak adanya bentuk kerangka keorganisasian yang bagus. Atas perkembangan yang baik ini pada tahun 1956 dibukalah kelas tingkat Tsanawiyah tiga tahun, dan pada tahun 1958 madrasah Salafiyah mendapat PIAGAM (Pengakuan wajib belajar) dari pemerintah/Departemen Agama Republik Indonesia).

Pada sekitar tahun 1960, atas usulan para generasi mudanya, pesantren ini dinamakan Taman Pendidikan Tamrinul Huda (TPTH), namun tak begitu lama atas kesepakatan keluarga namanya dirubah kembali ke semula, yaitu Pesantren Salafiyah. Perubahan nama itu tidak mempengaruhi proses pertumbuhan madrasahnya. KH. Muzayyin Hadi tetap berkiprah sampai ia non-aktif. Dan kepengurusan dipegang oleh keponakan KH. Baedlowi yang telah menjadi sarjana muda yaitu H. Hadziq Siroj, BA, putra KH. Abdul Kohar. Ia melakukan pembenahan sistem keorganasiasian, tata kerja, administrasi dan mata pelajaran.

Pada tahun 1968, Madrasah Salafiyah mampu mendirikan tingkat Aliyah tiga tahun dan tiga tahun kemudian yaitu tahun 1971 tingkat muallimat enam tahun di buka untuk perempuan yang ingin sekolah di madrasah Salafiyah. Pada kepengurusan Hadziq Siroj, keorganisasian Pelajar salafiyah mulai dibentuk dengan nama Persatuan Pelajar Salafiyah (PPS). Namun pada tahun 1973, kesibukan H. Hadziq Siroj di badan legislatif Daerah Pati meningkat, hingga kepengurusan pun diserahkan kepada KH. Muwaffaq Noor.

Perubahan ke arah perbaikan itu semakin tampak jelas saat kepemimpinannya dipegang KH. Muawwaq Noor, menantu KH. Abdul Wahab (1973-1979). Pada kepengurusannya Madrasah Salafiyah menerima surat akte Pengesahan Perguruan Agama Islam dari pemerintah  pada tahun 1975 nomor : K/127/III/75. Organisasi Siswa yang bernama PPS (Persatuan Pelajar Salafiyah) kemudian seiring perkembangan diubah menjadi KPS-KPPS (Keluarga Pelajar Salafiyah-Keluarga Pelajar Putri Salafiyah).

Wadah ini merupakan alternatif yang apik bagi siswa-siswi yang mau mengembangkan kreatifitasnya. Menyadari hal itu KH. Muwaffaq Noor dengan dibantu Mas'udi mengadakan penataran leadership selama sepekan pada setiap kepengurusan. Hasilnya sungguh luar biaa, bursa-bursa calon ramai dengan kampanye sepekan sebelum pemilihan. Hal itu menunjukkan sifat kompetitif di antara siswa. Pada era ini pula, tampak pelebaran sayap ke berbagai kegiatan dan drama.

Antara lain pertukaran pelajar, pengembangan bahasa Arab dan bahasa Inggris, serta daya apresiasi seni yang mengantarkan Salafiyah ke kancah PORSENI se-eks Karisedanan Pati. Namun kekhasan di madrasah ini yang juga kekhasan madrasah di Kajen adalah adanya testing Baca Kitab ketika akan menyelesaikan studinya. Kitab yang ditestingkan adalah Fiqh tahrir dan Hadis Bulughul Marom. Tak ketinggalan tingkat tsanawinya. Mengenai pelaksanaan pengajian di pesantrennya, tetap berjalan seperti biasa dengan metode bandongan, sorogan yang dipandang masih efektif.

Karena kondisi KH. Baedlowie sakit parah, maka pengelolaannya pesantren dilakukan oleh KH. Faqihuddin, putra KH. Baedlowie. Dengan dibantu oleh saudara-saudaranya dan santri senior, santri yang berdatangan juga semakin meningkat. Hingga harus membangun gedung di depan rumah KH. Faqihuddin untuk menambah daya tampung santri. Proses pengajaran di pesantren pada saat ini dipandang berjalan seiring dan saling melengkapi dengan kurikulum yang diajarkan di madrasah.

Berbeda dengan tahap-tahap metamorfosis sebelumnya, ketika kepemimpinan madrasah kembali ke tangan H. Hadziq Siroj (1980-1997), peningkatan mutu dan sistem yang ditampilkan sungguh mencolok. Sekitar tahun 1982 dibentuk tim drumband yang di kemudian hari mengharumkan Salafiyah. Mulai saat itu pula sistem pendidikan di Salafiyah terkait dengan sistem pendidikan pemerintah. Sebagai manifestasinya adalah dengan adanya persamaan ujian dan pengambilan jurusan.

Dalam hal pengambilan jurusan, Salafiyah mengalami lika-liku dan proses yang panjang. Pertama kali Salafiyah mengikuti persamaan ujian tahu 80-an dan mengambil jurusan IPS. Semula induknya di Boyolali, Solo namun kemudian dialihkan Kanwil (DEPAG) ke Semarang. Pada era 80-an ini Madrasah Salafiyah dapat dikatakan masa bangkitya.

Madrasah Salafiyah mempunyai siswa yang boleh dikata kuantitasnya dan kualitasnya terbaik di data statistik Semarang. Meski pada tahun 1980 kondisi KH. Baedlowie sedang sakit parah, tidak menghalangi perjuangan beliau untuk berjuang lewat jalur pendidikan. Dalam kondisi terbaring, KH. Baedlowie menganjurkan untuk memperluas spektrum ruang gerak Salafiyah. Pada tanggal 2 Pebruari 1981, lembaga tersebut dijadikan Yayasan yang diberi nama Yayasan Assalafiyah kedudukan tetap berpusat di desa Kajen Margoyoso Pati.  yang dinamakan Salafiyah.

Ciri khas yang paling spesifik dari beliau dalam mengembangkan pondok dan madrasah adalah beliau sering mengambil menantu dari kalangan santrinya sendiri. Ini yang agak menarik. Karena untuk mengembangkan Salafiyah itu sendiri  dibutuhkan kedekatan dengan para santrinya. Baik yang jadi menantu maupun tidak.

Sehingga KH. Baedlowie mempunyai metode bahwa keberlangsungan pondok dan madrasah bersandarkan sanad dengan santri ini harus terus terjaga dan berlangsung terus-menerus. Sampai saat ini santri yang telah lulus juga tetap masih memiliki ikatan dengan madrasah. Hingga terbentuklah suatu ikatan bagi para alumni yang telah menyelesaikan studinya di jenjang Aliyah dan demi masih terjalinnya silaturrahim antar alumni dengan nama IKLAS (Ikatan Keluarga Alumni Salafiyah).

Hal menarik lainnya dari KH. Baidlowi Sirodj adalah prisip beliau dalam pengembangan madrasah. Jika pada saat itu banyak kurikulum madrasah yang masih seputar penguasaan ilmu alat dan kitab, namun KH. Baidlowi Sirodj menambah dengan materi ilmu Al jabar, bahasa, pengetahuan umum dan lain-lain, dengan alasan bahwa santri harus menguasai ilmu diluar ilmu kitab yang juga akan bermanfaat untuk kehidupan mendatang, hal ini benar adanya, hingga saat ini Madrasah Salafiyah telah melahirkan banyak alumni yang berkiprah di berbagai bidang profesi.

Teladan

Ada salah satu hal yang unik dari KH. Baedlowi, yaitu beliau sangat suka berbaur dengan orang-orang abangan. Beliau mempunyai cara tersendiri dalam mendekati orang-orang seperti ini. Yakni melakukan dengan pendekatan hati, bukan serta merta memaksa untuk mengikuti ajarannya. Semisal orang-orang abangan yang menyukai judi dengan cara aduan ayam sebagai medianya. KH. Baedlowie pun mempunyai banyak ayam jago yang diternak sendiri.

Beliau juga kerap memberi tawaran kepada orang-orang abangan itu, “Hei, siapa yang ayam jagonya bagus, sini latihan sama punyaku…” Dan Alhamdulillah atas izin Allah ayam-ayam KH. Badlowie selalu menang. Begitulah cara mendekati orang-orang merah ala beliau, yaitu dengan cara berkomunikasi hingga bisa menyesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Alhamdulillah satu demi satu dari Wetan Banon sampai ke timur Bulumanis orang-orang abangan semakin berkurang. Dengan kondisi seperti ini pula yang akhirnya menjadikan para penerus beliau tidak mengajarkan agama islam tidak secara salaf murni hingga saat ini. Yakni dengan menyesuaikan kondisi masyarakat.

Baedlowie adalah pribadi yang rajin, ulet, dan sederhana. Beliau juga seorang kiai yang kharismatik dalam mendidik santri-santrinya. Disegani setiap masyarakat dari semua golongan.

Karya-Karya

KH. Baedlowie Sirodj bukanlah seorang organisatoris, namun kealimannya pernah diakui dalam Musyawaroh dan Bahtsul Masa’il tingkat Jawa Tengah. Ketika saat itu beliau memberikan solusi tentang masalah keagamaan hingga akhirnya diterima secara umum dan dijadikan fatwa untuk memutuskan suatu perkara keagamaan.

KH. Baedlowie adalah Kyai muda yang banyak talenta dan juga ahli dalam bidang ilmu hadis, nahwu, shorof, fiqih, tafsir, tasawuf dan lain-lain. Beliau juga produktif menulis kitab untuk menuangkan pemikirannya. Kemampuan menulis beliau ditulis dalam karya yang dihasilkan, antara lain kitab Mudarafatul Basyir (Musthalahul Qur’an) dan Risalatul Makhot.

Dipercayai bahwasanya KH. Baedlowie mempunyai karomah yang tinggi dengan kesanggupannya membawa keris Syekh Mutamakkin yang fenomenal, yaitu keris “Dudo Asmorototo”. Keris ini diyakini mammpu mengayomi seluruh keturunan Syekh Mutamakkin di manapun keberadaannya.

Beliau pernah berpesan “Kembali ke konsepnya Mbah Mutamakkin, konsep dasar yang memosisikan seseorang di dunia ini. ‘Allah wujud, Nabi Muhammad lagi wujud, opo meneh siro yen wujudo.’ Ini salah satu peninggalan dari Mbah Mutamakkin yang diyakini adalah doa orang-orang Kajen, yang sangat dalam sekali bila lebih dikaji konsepnya.”  Pengembangan dari doa tersebut luas sekali. Semisal pengembangannya di dunia politik atau pemerintahan.

Beliau dulu pernah berkata “Politik itu ibarat baju. Kalau pas ya di pakai, kalau ndak pas ya ndak usah dipakai. Kalau cukup disampirkan ya disampirkan saja.” Artinya tidak boleh selalu kita bergantung pada dunia politik. Politik itu ilmu. Dan tidak boleh kita diperbudak oleh politik itu sendiri. Karena memang pada hakikatnya sifat manusia itu berubah-ubah, tetapi yang terpenting adalah syariat islam tetap kuat terjaga.

Dalam hal pendidikan beliau juga pernah berpesan “Kalau ada orang tua yang anaknya pintar pengen sekolah, tetapi tidak boleh (mungkin karena kurangnya faktor ekonomi keluarga), kalau perlu dijemput, disekolahkan, dibiayai, sampai bisa paham ilmu agama.” Begitulah sekiranya. Hal ini menunjukkan bahwa KH. Baedlowie sangat memberikan apresiasi kepada santri atau murid yang ingin belajar ilmu agama dengan sungguh-sungguh. Tidak pernah pula beliau menolak santri yang ingin berguru padanya. Hal-hal ini pula yang kemudian dilanjutkan oleh para penerus beliau demi terus mengembangkan Madrasah Salafiyah.