Lintas Wisata Cirebon dan Bertafakur di Makam Sunan Gunung Jati

Lintas Wisata Cirebon dan Bertafakur di Makam Sunan Gunung Jati

Kabupatén Cirebon, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat yang terletak di bagian timur,dan merupakan batas, sekaligus sebagai pintu gerbang Provinsi Jawa Barat. Ibu Kotanya adalah Kota Sumber. Dalam sektor pertanian, kabupaten Cirebon merupakan salah satu daerah produsen beras yang terletak di jalur pantura.

Berdasarkan letak geografisnya, wilayah Kabupaten Cirebon berada pada posisi 108o40’ – 108o48’ Bujur Timur dan 6o30’ – 7o00’ Lintang Selatan, yang dibatasi oleh:

¨       Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Indramayu

¨       Sebelah barat Laut berbatasan dengan wilayah Kabupaten Majalengka

¨       Sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kuningan

¨       Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Kotamadya Cirebon dan Kabupaten Brebes (Jawa Tengah)

Cirebon memiliki keterkaitan sejarah penyebaran agama Islam di Indonesia, khususnya pulau Jawa. Salah satu dari sembilan tokoh (wali sanga) penyebar agama Islam yang terkenal di Indonesia, yaitu Sunan Gunung Jati atau Syarief Hidayatullah, juga merupakan sultan pertama di Kasultanan Cirebon yang dulu bernama Keraton Pakungwati. Tokoh ini adalah ulama utama yang menyebarkan agama Islam di bagian barat pulau Jawa.

Lokasi Makam Sunan Gunung Jati

Makam Kanjeng Sunan Gunung Jati terletak di Jalan Raya Sunan Gunung Jati, Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat, Provinsi: Jawa Barat. Banyak peziarah yang berkunjung ke makam Kanjeng Sunan Gunung Jati. Pengunjung biasanya akan ramai memadati makam jika memasuki libur panjang seperti lebaran ataupun hari libur biasa seperti hari minggu dan juga hari libur nasional lainya.

Ketika memasuki Jalan Alun-alun Astana Gunung Jati, di sisi jalanan akan dipadati oleh para pedagang yang menjajakan berbagai macam barang seperti tasbih, alat salat, minyak wangi, dan lainnya. Saat mulai memasuki halaman depan pintu masuk utama, akan ada banyak orang yang meminta sumbangan dengan membawa wadah. Mereka akan terus berdatangan dan meminta. Meskipun begitu, peziarah tidak diwajibkan untuk memberi, karena itu hanya bersifat seikhlasnya.

Untuk memasuki ruangan, peziarah diharuskan membuka sepatu demi kenyamanan. Tembok didominasi dengan warna putih, ditempeli dengan beberapa piring cantik dengan beberapa tiang penyangga berbahan kayu. Di pintu ini, terlihat banyak ornamen hasil campuran dari tiga budaya, yaitu Jawa, Tiongkok, dan Arab. Seperti diketahui, Sunan Gunung Jati memiliki seorang istri yang berdarah Tionghoa bernama Putri Ong Tien.

Kotak sumbangan berjejer, hanya berjarak sekitar satu meter dari satu ke kotak lainnya. Kotak-kotak itu ditunggui oleh setiap orang yang seolah "memaksa" untuk meminta. Memang agak mengganggu bagi peziarah yang datang ke sana.

Di kiri dan kanan tangga terlihat banyak makam yang merupakan kerabat dari Sunan Gunung Jati. Semakin dekat dengan makam Wali, artinya semakin dekat pula kekerabatannya. Makam Sunan Gunung Jati terletak di tangga teratas, yaitu tingkat ke sembilan. Namun makam ini tidak dibuka untuk umum, tetapi hanya boleh dikunjungi oleh keluarga keraton dan keturunannya. Peziarah hanya bisa mendoakan dari depan pintu dan luar tembok untuk Sunan Gunung Jati.

Sebetulnya tidak ada biaya tiket masuk untuk bisa berziarah ke makam ini. Hanya saja peziarah harus waspada dengan berbagai sumbangan dari pihak-pihak yang ada di sana. Jika memang ingin bersedekah, siapkanlah beberapa uang recehan.

Kilas Sejarah

Sunan Gunung Jati, atau dikenal juga sebagai Syarif Hidayatullah adalah tokoh penegak Islam pertama di Tatar Sunda. Ia dibesarkan dan dididik di tanah Arab. Mengenal Islam dari tokoh-tokoh besar di Mekah dan Baghdad, membuat pengetahuan Islam Syarif Hidayatullah sangat mumpuni untuk disebarkan kepada masyarakat.

“Setelah kembali ke Mesir, Syarif Hidayatullah memutuskan untuk menyebarkan Islam di Pulau Jawa yang masih Hindu,” tulis Bambang Setia Budi dalam Masjid Kuno Cirebon.

Diceritakan dalam naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Syarif Hidayatullah tiba di Cirebon pada 1475, setelah sebelumnya singgah di Samudera Pasai, Banten, dan Jawa Timur. Ia datang bersama para pedagang Arab yang singgah di pelabuhan Muara Jati. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya ke Desa Pasambangan.

Di tempat itu Syarif Hidayatullah mulai mengajarkan agama Islam. Ia dengan cepat diterima oleh masyarakat, walau pada saat itu masih dianggap orang asing (Arab). Setelah beberapa tahun tinggal di sana, Syarif Hidayatullah berhasil mengislamkan penduduk yang mayoritas beragama Hindu.

Kedudukan Syarif Hidayatullah dalam menyebarkan Islam semakin kuat setelah menikahi gadis-gadis lokal. Dalam Ensiklopedi Sunda: Alam, Manusia, dan Budaya, Ajip Rosidi menulis bahwa Syarif Hidayatullah menikah sebanyak 6 kali, yakni: (1) Nyai Pakungwati, putri Pangeran Cakrabuwana; (2) Nyai Babadan, putri Ki Gedeng Babadan; (3) Nyai Kawung Anten, adik bupati Banten; (4) Syarifah Baghdadi, adik Pangeran Panjunan; (5) Ong Tien Nio, putri keturunan Cina; dan (6) Nyai Tepasari, putri Ki Gedeng Tepasari dari Majapahit.

“Setelah beberapa lama bergaul dengan masyarakat, ia mendapat sebutan Syekh Maulana Jati,” kata Bambang.

Pada 1479, sepulang berdakwah di Banten, Pangeran Cakrabuwana menyerahkan takhta kekuasaan Cirebon kepada Syarif Hidayatullah. Ia mendapat gelar Tumenggung Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif Abdullah.

Pangeran Sulaeman Sulendraningrat dalam Babad Tanah Sunda: Babad Cirebon menyebut para wali di Jawa menetapkan Syarif Hidayatullah sebagai Panetep Panatagama Rasul di tanah Sunda. Sebutan lainnya Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah SAW.

Sebagai kepala negara sekaligus kepala agama (wali), Syarif Hidayatullah berperan penting dalam perluasan kekuasaan politik dan agama Islam di wilayah Cirebon. Salah satu jalan dakwah yang menjadi prioritasnya adalah pembangunan sarana ibadah di seluruh wilayah kekuasaannya.

Syarif Hidayatullah mempelopori pembangunan masjid agung Sang Cipta Rasa (1489) sebagai pusat dakwah. Letak masjid berada di samping kiri keraton dan sebelah barat alun-alun. Dalam Babad Cirebon disebutkan pembangunan masjid melibatkan Raden Sepat, mantan arsitek Majapahit. Ia juga dibantu oleh Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga.

Kuliner dan Oleh-oleh

1. Empal Gentong
Empal gentong adalah makanan khas masyarakat Cirebon, Jawa Barat. Makanan ini mirip dengan gulai dan dimasak menggunakan kayu bakar di dalam gentong. Daging yang digunakan adalah usus, babat dan daging sapi. Empal gentong berasal dari Kabupaten Cirebon.

2. Nasi Jamblang
Sega Jamblang adalah makanan khas dari Cirebon, Jawa Barat. Nama Jamblang berasal dari nama daerah di sebelah barat Kabupaten Cirebon tempat asal pedagang makanan tersebut. Ciri khas makanan ini adalah penggunaan daun jati sebagai bungkus nasi.

3. Nasi Lengko

Nasi lengko atau biasa yang disebut masyarakat Cirebon dengan sebutan sega lengko merupakan perpaduan bahan utama nasi dengan berbagai sayuran dan lauk-pauk yang menyehatkan, seperti tahu goreng, tempe goreng, tauge, daun kucai, dan timun. Sega lengko adalah makanan khas masyarakat pantai utara. Makanan khas yang sederhana ini sarat akan protein dan karbohidrat serta rendah kalori karena bahan-bahan yang digunakan adalah 100% non-hewani.

4. Tahu Gejrot

Tahu gejrot merupakan salah satu sajian kuliner kenamaan di Cirebon. Bahan utamanya adalah tahu yang digoreng hambar alias tanpa bumbu. Setelah masak, tahu ini dipotong-potong. Kemudian beri bumbu mentah yang membuat rasa tahu ini jadi unik. Campuran rasa asam, manis, pedas yang ditawarkan memang bisa bikin ketagihan.

5. Docang

Docang dari bahasa Cirebon singkatan dari dua kata yaitu; Bodo (baceman) dari oncom dage dan Kacang Hijau yang dijadikan Toge. Lagi pula Docang bisa jadi masuk kuliner Nasional makanan khas Cirebon, yang merupakan perpaduan dari lontong, daun singkong, toge, dan kerupuk, yang berkolaborasi sayur Oncom Dage/Oncom Gembos yang terbuat dari ampas tahu dicampur sedikit bungkil kacang tanah (sisa perasan dijadikan minyak) yang disebut gempa (yang dihancurkan) serta dikombinasikan dengan parutan kelapa muda.

Makanan ini mempunyai rasa khas yang gurih dan nikmat apabila disajikan dalam keadaan panas/hangat dan untuk harga relatif terjangkau semua kalangan.

 

 

yang Sudah Mengunjungi Lintas Wisata Cirebon dan Bertafakur di Makam Sunan Gunung Jati