Asbabun Nuzul Surat Al-Mujadalah Ayat 1-4

Ayat ini turun terkait Khaulah binti s\a‘labah yang mengadukan kepada Nabi perbuatan semena-mena sang suami kepada dirinya. Melalui ayat ini Allah menjelaskan hukum zihar, yaitu ketika seorang suami mengharamkan dirinya menggauli sang istri dan menyamakannya dengan wanita yang haram dinikahi olehnya. Khaulah meminta penjelasan dari Nabi apakah zihar sama dengan talak seperti dikenal pada masa jahiliah atau tidak.

  1. عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَسِعَ سَمْعُهُ الأَصْوَاتَ، لَقَدْ جَاءَتِ الْمُجَادِلَةُ إِلَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا فِي نَاحِيَةِ الْبَيْت مَا أَسْمَعُ مَا تَقُولُ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ‏(قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا). (1) قَالَتْ عَائِشَةُ تَبَارَكَ الَّذِي وَسِعَ سَمْعُهُ كُلَّ شَىْءٍ‏.‏ إِنِّي لأَسْمَعُ كَلاَمَ خَوْلَةَ بِنْتِ ثَعْلَبَةَ وَيَخْفَى عَلَىَّ بَعْضُهُ، وَهِيَ تَشْتَكِي زَوْجَهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهِيَ تَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَكَلَ شَبَابِي وَنَثَرْتُ لَهُ بَطْنِي حَتَّى إِذَا كَبُرَتْ سِنِّي وَانْقَطَعَ وَلَدِي ظَاهَرَ مِنِّي، اللَّهُمَّ إِنِّي أَشْكُو إِلَيْكَ‏.‏ فَمَا بَرِحَتْ حَتَّى نَزَلَ جِبْرِيْلُ بِهَؤُلاَءِ الآيَاتِ ‏(‏قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ‏). (2) عَنْ خَوْلَةَ بِنْتِ ثَعْلَبَةَ قَالَتْ وَاللَّهِ فِيَّ وَفِي أَوْسِ بْنِ صَامِتٍ أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ صَدْرَ سُورَةِ الْمُجَادَلَةِ قَالَتْ كُنْتُ عِنْدَهُ وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ سَاءَ خُلُقُهُ وَضَجِرَ قَالَتْ فَدَخَلَ عَلَيَّ يَوْمًا فَرَاجَعْتُهُ بِشَيْءٍ فَغَضِبَ فَقَالَ أَنْتِ عَلَيَّ كَظَهْرِ أُمِّي قَالَتْ ثُمَّ خَرَجَ فَجَلَسَ فِي نَادِي قَوْمِهِ سَاعَةً ثُمَّ دَخَلَ عَلَيَّ فَإِذَا هُوَ يُرِيدُنِي عَلَى نَفْسِي قَالَتْ فَقُلْتُ كَلَّا وَالَّذِي نَفْسُ خُوَيْلَةَ بِيَدِهِ لَا تَخْلُصُ إِلَيَّ وَقَدْ قُلْتَ مَا قُلْتَ حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ فِينَا بِحُكْمِهِ قَالَتْ فَوَاثَبَنِي وَامْتَنَعْتُ مِنْهُ فَغَلَبْتُهُ بِمَا تَغْلِبُ بِهِ الْمَرْأَةُ الشَّيْخَ الضَّعِيفَ فَأَلْقَيْتُهُ عَنِّي قَالَتْ ثُمَّ خَرَجْتُ إِلَى بَعْضِ جَارَاتِي فَاسْتَعَرْتُ مِنْهَا ثِيَابَهَا ثُمَّ خَرَجْتُ حَتَّى جِئْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَلَسْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَذَكَرْتُ لَهُ مَا لَقِيتُ مِنْهُ فَجَعَلْتُ أَشْكُو إِلَيْهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَلْقَى مِنْ سُوءِ خُلُقِهِ قَالَتْ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَا خُوَيْلَةُ ابْنُ عَمِّكِ شَيْخٌ كَبِيرٌ فَاتَّقِي اللَّهَ فِيهِ قَالَتْ فَوَاللَّهِ مَا بَرِحْتُ حَتَّى نَزَلَ فِيَّ الْقُرْآنُ فَتَغَشَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا كَانَ يَتَغَشَّاهُ ثُمَّ سُرِّيَ عَنْهُ فَقَالَ لِي يَا خُوَيْلَةُ قَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ فِيكِ وَفِي صَاحِبِكِ ثُمَّ قَرَأَ عَلَيَّ (قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا). (3)

    Ahu ‘anha> berkata, “Segala puji bagi Allah yang Maha Mendengar semua suara. Sungguh, ketika aku berada di sisi rumah yang lain—tidak berada di samping Rasulullah s}allalla>hu ‘alaihi wasallam, aku melihat seorang wanita menghadap beliau untuk mengadu. Entah apa yang ia adukan; aku tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Tak lama kemudian Allah ‘azza wajalla menurunkan firman-Nya, qad sami‘alla>hu qaulallati> tuja>diluka fi> zaujiha>.”

    Dalam riwayat lain kisah ini disajikan dengan redaksi sebagai berikut.

    'Ahu ‘alaihi wasallam. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, suamiku telah menikmati masa mudaku dan perutku telah berkali-kali melahirkan anaknya. Namun, ketika aku sudah mulai tua dan tidak lagi dapat memberinya keturunan, ia malah menziharku. Wahai Allah, aku mengadu kepada-Mu dengan sepenuh hati.’ Tidak lama kemudian Jibril pun turun untuk menyampaikan ayat-ayat ini, qad sami‘alla>hu qaulal-lati> tuja>diluka fi> zaujiha> watasytaki> ilalla>h.”

    Kisah yang lebih lengkap lagi disebutkan dalam hadis riwayat Ah}mad berikut.

    Khaulah binti S|\a‘labah bercerita, “Demi Allah, Dia menurunkan permulaan Surah al-Muja>dalah berkaitan denganku dan suamiku, Aus bin S{a>mit. Aku sudah lama mendampingi Aus bin S{a>mit. Kini ia adalah seorang pria renta yang kasar dan pemarah. Suatu hari ia menemuiku untuk meminta sesuatu, namun aku menolaknya dengan suatu alasan hingga membuatnya marah. Ia membentakku, ‘Engkau (haram) bagiku seperti (haramnya) punggung ibuku!’ Dengan bersungut-sungut ia bergegas keluar dan menemui kawan-kawannya untuk mengobrol sekian lama. Beberapa saat kemudian ia masuk kembali ke kamar dan mengajakku berhubungan. Aku pun menolaknya, ‘Tidak! Demi Tuhan yang menggenggam jiwa Khuwailah—yakni Khaulah kecil, engkau tidak akan dapat melakukan apa yang kauinginkan kepadaku karena tadi engkau telah mengucapkan kalimat itu—yakni zihar. Mari kita tunggu seperti apa putusan Allah dan Rasul-Nya terkait kita.’ Ia menindihku, namun aku dapat melepaskan diri. Kita tentu tahu bagaimana seorang wanita mengalahkan seorang pria renta yang sudah loyo. Aku pun mencampakkannya. Beberapa saat kemudian aku bertamu ke rumah tetanggaku untuk meminjam baju. Setelah itu aku menghadap Rasulullah s}allalla>hu ‘alaihi wasallam. Aku duduk di hadapan beliau untuk melaporkan apa yang telah suamiku lakukan kepadaku. Kepada beliau aku adukan akhlak suamiku yang buruk. Usai mendengar aduanku, Rasulullah menasihatiku, ‘Wahai Khuwailah, suamimu itu adalah anak pamanmu sendiri. Ia telah renta. Karena itu, bertakwalah kepada Allah terkait dirinya—sabarkanlah dirimu dalam menghadapinya.’ Demi Allah, aku tidak sedikit pun beranjak dari tempat itu hingga pada akhirnya Allah menurunkan ayat Al-Qur’an terkait diriku. Rasulullah pingsan seperti biasa ketika beliau menerima wahyu. Usai siuman beliau bersabda, ‘Wahai Khuwailah, sungguh Allah telah menurunkan firman-Nya mengenai dirimu dan suamimu.’ Beliau lalu membaca di hadapanku ayat, qad sami‘alla>hu qaulallati> tuja>diluka fi> zaujiha>.”

    Sumber artikel:
    Buku Asbabul Nuzul: Kronologi dan Sebab Turun Wahyu Al-Qur'an
    Buku disusun oleh Muchlis M. Hanafi (ed.)
    Buku diterbitkan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, Badan Litbang dan Diklat, Kementerian Agama RI, 2017


    (1) Sahih; diriwayatkan oleh Ah}mad, an-Nasa>’iy, dan Ibnu Ma>jah. al-Arna‘u>t} dalam ta‘li>qnya atas al-Musnad menilai sanad hadis ini sahih sesuai syarat Muslim. Hadis ini tanpa sanad yang lengkap—mu‘allaq—juga disebutkan oleh al-Bukha>riy. Lihat: Ah}mad, al-Musnad, juz 40, hlm. 228, hadis nomor 24195; an-Nasa>’iy, Sunan an-Nasa>’iy—al-Mujtaba>, dalam Kita>b at}-T{ala>q, Ba>b az}-Z{iha>r, hlm. 365, hadis nomor 3460; Ibnu Ma>jah, Sunan Ibni Ma>jah, dalam Kita>b al-In, Ba>b fi> ma> Ankarat al-Jahmiyyah, juz 1, hlm. 67, hadis nomor 188; al-Bukha>riy, S{ah}i>h}} al-Bukha>riy, dalam Kita>b at-Tauh}i>d, Ba>b Qaul Alla>h Ta‘a>la> wa Ka>na Alla>hu Sami>‘an Bas}i>ra>, hlm. 1824.

    (2) Sahih; diriwayatkan oleh Ibnu Ma>jah dan al-H{a>kim. al-H{a>kim menilai sanad hadis ini sahih, dan az\-Z|ahabiy pun setuju dengannya. Lihat: Ibnu Ma>jah, Sunan Ibni Ma>jah, dalam Kita>b at-T{ala>q, Ba>b az}-Z}iha>r, hlm. 356, hadis nomor 2063; al-H{a>kim, al-Mustadrak, dalam Kita>b at-Tafsi>r, Ba>b Tafsi>r Su>rah al-Muja>dalah, juz 2, hlm. 523, hadis nomor 3791.

    (3) Hasan; diriwayatkan oleh Ah}mad, Abu> Da>wu>d, dan Ibnu H{ibba>n. Lihat: Ah}mad, al-Musnad, juz 45, hlm. 300, hadis nomor 27319; Abu> Da>wu>d, Sunan Abi> Da>wu>d, dalam Kita>b at-T{ala>q, Ba>b fi> az}-Z{iha>r, hlm. 252, hadis nomor 2214; Ibnu H{ibba>n, S{ah}i>h}} Ibni H{ibba>n, dalam Kita>b at-T{ala>q, Ba>b az}-Z{iha>r, juz 10, hlm. 107–108, hadis nomor 4279.