Biografi Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al Alawy

 
Biografi Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al Alawy

Daftar Isi Profil Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al Alawy

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Perjuangan Habib Abdul Qodir Bilfaqih
  5. Keteladanan Habib Abdul Qodir Bilfaqih
  6. Keistimewaan
  7. Murid-Murid

Kelahiran

Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawy dilahirkan di kota Tarim, Hadramaut, pada hari Selasa 15 Safar tahun 1316 H/1896 M.

Menurut sebuah kisah diceritakan, bahwa saat bersamaan menjelang kelahiran Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawy, ada salah seorang ulama besar, yaitu Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf, bermimpi bertemu Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir Jailani. Dalam mimpi itu Syekh Abdul Qadir Jailani menitipkan kitab suci al-Quranul Karim kepada Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf agar diberikan kepada Habib Ahmad bin Muhammad Bilfagih.

Baca juga: Syaikh Abdul Qadir Jailani Janji Muridnya Tidak Ada yang Masuk Neraka

Pagi harinya Habib Syaikhan menceritakan mimpinya kepada Habib Ahmad. Setelah Habib Ahmad mendengarkan cerita dari Habib Syaikhan, kemudian berkata, ”alhamdulillah, tadi malam aku dianugerahi Allah SWT seorang putra”.

Dan itulah isyarat takwil mimpimu bertemu Syekh Abdul Qadir Jailani yang menitipkan Al-Quranul Karim agar disampaikan kepadaku.

Oleh karena itu, putraku ini kuberi nama Abdul Qadir, dengan harapan, Allah SWT memberikan nama maqam dan kewalian-Nya sebagaimana Syekh Abdul Qadir Jailani.

Wafat

Habib Abdul Qadir wafat pada 21 Jumadil Akhir 1382 H/19 November 1962 dalam usia 62 tahun. Kala saat-saat terakhirnya, ia berkata kepada putra tunggalnya, “Lihatlah, wahai anakku. Ini kakekmu, Muhammad SAW, datang. Dan ini ibumu, Sayyidatunal Fatimah, datang….”.

Kemudian ribuan umat berdatangan untuk meyampaikan penghormatan terakhir kepada sang permata ilmu yang mumpuni itu. Setelah disemayamkan di Masjid Jami’ Malang, ia dimakamkan di kompleks makam Kasin, Malang, Jawa Timur.

Pendidikan

Pendidikan Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih diawali dari kota kelahirannya yaitu kota Tarim Hadromaut. Pendidikannya dimulai dari Ibtida’iyah, Tsanawiyah, Aliyah, sampai kuliah tinggi dari ulama-ulama besar dari berbagai fakultas ilmu agama.

Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih dalam memperdalam ilmu-ilmu tersebut bukan hanya di sekitar kota Tarim saja, melainkan sampai kota-kota lain seperti kota Sewun Hadramaut, Makkahtul Mukarromah, Madinah, Munawaroh, Kairo Mesir, Afrika Barat, dan sebagainya.

Selama menuntut ilmu, Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih dikenal sebagai murid yang cerdas dan tangkas dalam pelajaran. Juga dikenal sebagai seorang murid teladan yang penuh yang penuh kesungguhan, ketekunan, dan keuletan dalam belajar.

Disamping itu, Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih, dikenal sebagai seorang murid yang amat mengagungkan mahaguru-mahagurunya dan menaruh rasa hormat kepada mereka meskipun Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih terkenal sebagai pakar dalam berbagai banyak bidang ilmu agama.

Bukti kegigihan Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih dalam menambah ilmunya, sering mendatangi mahaguru-mahaguru dalam rangka menambah hasanah ilmu pengetahuannya. Sehingga salah seorang maha gurunya pernah berkata:

“Bangsa Bilfaqih dalam bidang fiqihnya bagaikan Imam Adzroi dan dalam bidang Tasawuf serta adabnya laksana lautan tak bertepi.”

Pernah pula salah seorang maha guru Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih yang bernama Al-Habib Al-Imam Ahmad bin Hasan Al-Aththos R.A di depan rumahnya berkata: “Aku mencium aroma ilmu yang harum nan murni dari rumah ini”.

Perjuangan Habib Abdul Qodir Bilfaqih

Pada tahun 1331 H/1921 M, Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih lulus mendapat ijazah dan berhak memberikan fatwa agama, antara lain bidang hukum, dakwah, pendidikan, dan sosial. Dengan sabar dan penuh keikhlasan Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih memberi fatwa-fatwa agama.

Ditengah kobaran semangat dan kegigihannya dalam berdakwah dan berjuang, beliau mendapat tugas yang suci dari Baginda Rasulullah SAW melalui dengan isyarah agar terus melanjutkan kegiatan dakwah, tidak hanya di dalam kota Tariem melainkan harus meninggalkan kota Tarim kota kelahirannya.

Perjalanan Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih tentu bukan perjalanan yang tanpa makna melainkan perjalanan mulia dan suci demi menyiarkan agama dakwah Islamiyah. Kapan dan dimana saja Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih berada selalu berdakwah.

Sehingga disetiap tempat yang Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih singgahi, selalu meninggalkan kesan mulia. Bahkan tidak sedikit pula kemudian hari muncul kader-kader agama yang tangguh berkat didikan Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih.

Hal diatas sebagai wujud nyata kecintaan dan kepatuhan Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih, baik terhadap baginda rasul maupun kepada mahagurunya meski harus meninggalkan sanak keluarga dan kampung halaman tercinta.

Sabelum meninggalkan kota Tariem, beliau sempat pula mendirikan “Jam’iyah Al-Ukhuwwah Wal Mua’awwanah dan Jam’iyah An-Nashr Wal Fadholi”.  Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih juga menyempatkan diri untuk menunaikan ibadah haji dan berziarah ke Makam Suci Baginda Nabi Muhammad SAW.

Setelah itu, Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih melanjutkan perjalanan menuju Aden dan selanjutnya berturut-turut menuju Pakistan, India, Malaysia, Singapore, dan terakhir menuju Indonesia.

Dalam menuju negara-negara tersebut diatas beliau selalu membina umat, baik secara umum maupun secara khusus dalam lembaga-lembaga pendidikan dan majelis ta’lim.

Disinilah terlihat kecintaan dan kepatuhan Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih R.A baik terhadap Baginda Nabi Besar Muhammad SAW maupun terhadap maha gurunya meski harus meninggalkan kota yang Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih cintai karena melaksanakan dan mengemban tugas yang suci.

Setiba di Indonesia, tepatnya kota Surabaya, pada tahun 1338 H/1919 M, Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih langsung diangkat sebagai Direktur Madrasah Al-Khoiriyah. Pada tahun 1358 H/1938 M di kota Solo. Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih mendirikan Lembaga Pendidikan Madrasah Ar-Robithoh.

Tetapi sebelum mendirikan Madrasah tersebut pada tahun 1351 H/1931 M, Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya, sekaligus berziarah ke Makam Suci Baginda Rasulullah SAW.

Pada Kesempatan itu, Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih mempergunakan waktunya untuk saling memanfaatkan ilmu dengan para tokoh ulama disekitar kota Mekkah dan Madinah.

Begitu tinggi dan besar tekad Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih dalam menyebarkan ajaran Allah SWT. Dan Baginda Rasulullah SAW, dengan tidak henti-hentinya berdakwah dan mengajarkan ilmu agama, seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW.

Dalam memperlancar dakwah Islamiyah dan pengajaran ilmu agama, Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih, pada tanggal 12 Februari 1945 (enam bulan sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI) mendirikan “Lembaga Pesantren Darul Hadist Al-Faqihiyah” dan “Peguruan Tinggi Atas” di Malang, Jawa Timur, yang terus berkembang sampai sekarang.

Hal ini membuktikan betapa tinggi dedikasi Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih dalam menyiarkan ajaran Allah SWT dan Rasulnya serta sebagai wujud nyata peran aktif dalam memajukan dan mencerdaskan bangsa Indonesia pada umumnya, umat islam pada khususnya.

Ketinggian ilmu dan kepakaran beliau dalam bidang agama tidak dapat diasingkan lagi. Semua kalangan, baik masyarakat umum maupun pejabat mengetahui hal itu. Maka pada tahun 1330 H/1960 M Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Malang mengangkat Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih sebagai dosen matakuliah tafsir.

Pada tahun berikutnya yaitu pada tahun 1331 H/1961 M, Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih diangkat sebagai Advisur Menteri penghubungan Alim Ulama Indonesia.

Dari jerih payah yang penuh tanggung jawab dan keikhlasan dalam mendidik dan mengasuh santri-santri, Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih telah berhasil banyak mendirikan Pesantren dan Majlis-majlis Ilmu di banyak daerah di Indonesia.

Keteladanan Habib Abdul Qodir Bilfaqih

Di dalam lubuk hati Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih telah tertanam untuk mengagungkan ilmu dan memuliakan ahli ilmu.

Pernah pada suatu ketika disaat menuntut ilmu pada salah seorang maha gurunya, beliau ditegur dan diperingatkan, padahal Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih dipihak yang benar.

Setelah gurunya memahami dan mengetahui kalau muridnya benar, maka gurunya meminta maaf. Namun Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih berkata:

“Meskipun saya benar andaikan paduka memukul mukaku dengan sepasang sandal paduka, tak ada rasa tidak menerima sedikitpun”.

Itulah salah satu contoh keteladanan yang tinggi bagaimana seharusnya seorang murid bersopan santun kepada gurunya. Contoh keteladanan budi pekerti yang patut kita ambil intisari dan hikmahnya sebagai pelajaran untuk diikuti.

Sebab inilah yang terpenting di dalam menelaah manaqib orang-orang besar seperti Yang Mulia Maha Guru Samahatil Ustadzil Imam Al-Habr Al-Qutub Al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawy R.A.

Kenyataan di atas sejalan dengan kata mutiara Sayyidunal Imam Ali bin Abi Tholib Karromallohu Wajhah Wa’alaihis Salam Warodiallohu ‘anhu : “Aku adalah budak sahaya dari seorang yang pernah mengajarku meski hanya satu huruf “.

Keistimewaan

Keistimewaan Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih sungguh tak dapat dihitung banyaknya dan sangatlah panjang untuk diuraikan. Namun demikian, skelumit diuraikan sebagian dari keistimewaan Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih yakni sebagi berikut:

  1. Ketekunan dan keuletan Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih dalam menuntut ilmu agam tanpa mengenal lelah tempat dan waktu. Sungguh sulit dicari tandingannya. Cinta Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih terhadap ilmu teramat dalam dan telah menyatu dalam lubuk hatinya.
  2. Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih bukan hanya ahli dan menguasai ilmu syariat saja, melainkan Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih ahli dan menguasai bidang thariqah. Begitu pula dengan bidang haqiqat dan ma’rifat, Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih ahli dalam menguasainya, sehingga Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih terkenal dengan sebutan “Syaikhusy Syariah Wat Thoriqoh Wal Haqiqat”.
  3. Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih, ahli dalam ilmu Alat, Nahwu, Shorof, Ma’ani, Bayan, Badi, Mantiq, dan sebangsanya, serta ahli dalam ilmu kalam. Dalam bidang hadist Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih benar-benar menguasainya, baik dalm hal riwayat maupun dalam diroyah. Beliau Hafal Jutaan Hadist Nabi Besar Muhammad SAW.

Disamping itu, Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih, banyak mendapatkan Al-Hadist Al-Musassal, yakni hadits riwayat langsung dari Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih, hingga tersambung isnadnya kepada Baginda Nabi Besar Muhammad SAW.

Misalnya, saat Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih berkunjung ke beberapa ulama di Saudi Arabia bersamaan dengan ibadah haji kedua, Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih saling bertukar isnad dengan Al-Allamah As-Sayyid Alwy bin Abbas Al-Maliky.

Penguasaan Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih dalam bidang hadits dan ilmu hadist diwariskan langsung dan khusus kepada putra tunggal Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih yaitu maha guru Al-Ustadzil Imam Al-Hafidz Al-Qutub Prof. Dr. Al-Habib Abdullah bin Abdul Qodir Bilfaqih Alawy.

Murid-Murid

Murid-murid Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih menyebar di banyak daerah di Indonesia. Seperti:

  1. Ustadz Ahmad Al-Habsy, pengasuh pesantren Ar-Riyadh di Palembang, Sumatra Selatan.
  2. Al-Habib Muhammad Ba’abud (alm), pengasuh pesantren Darul Nasyi’in  Lawang, Malang, Jawa Timur,
  3. Al-Habib Syekh Ali Al-Jufri, Pimpinan Yayasan Al-Khoirot Jakarta Timur,
  4. KH Alawy Muhammad, pengasuh pesantren At-Thoroqi Sampang, Madura, dan banyak tokoh lainnya.

Alhasil berkat didikan dan gemblengan Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih, murid-muridnya menjadi pelopor umat dalam meneruskan pejuangan suci menegakkan agama Allah SWT dan Baginda Rasulullah SAW.