Tirakatan: Warisan Laku Spiritual Bangsa dari Ulama hingga Kemerdekaan
Laduni.ID, Jakarta - Sejak masa nenek moyang, masyarakat Indonesia telah mengenal tradisi tirakat sebuah laku spiritual yang ditempuh dengan kesederhanaan, pengendalian diri, serta doa yang khusyuk. Tirakat bukan sekadar ritual, melainkan jalan batin untuk menyiapkan diri menghadapi peristiwa besar dalam kehidupan.
Tradisi ini mencapai makna paling luhur pada masa perjuangan kemerdekaan. Para ulama, kiai, santri, dan pejuang rakyat tidak hanya mengangkat senjata, tetapi juga menempuh jalan panjang tirakat, puasa, wirid, tahlil, dan munajat malam. KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahid Hasyim, hingga laskar santri yang tergabung dalam resolusi jihad, semuanya meyakini bahwa kemerdekaan bukan sekadar kemenangan militer, tetapi buah dari ikhtiar spiritual dan pengorbanan batin.
Tak heran, saat proklamasi dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, gema syukur dan doa langsung mengiringinya. Seperti ditegaskan dalam firman Allah:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN
Masuk dengan GoogleDan dapatkan fitur-fitur menarik lainnya.
Support kami dengan berbelanja di sini:
Rp228.000
Rp62.500
Rp4.603.500
Rp130.000
Memuat Komentar ...