Kesalehan si Kaki Telanjang

 
Kesalehan si Kaki Telanjang

 

LADUNI.ID,HIKMAH - Ada banyak kisah para sufi terkemuka yang memiliki masa lalu kelam, penuh dengan noda kenistaan. Berkat hidayah Allah SWT, mereka pun kembali ke jalan yang lurus. Di antara kisah yang ternukilkan dari generasi ke generasi, ada cerita tentang pertobatan pentolan sufi, Bisyr bin al-Harits al-Hafi.

Kebesaran nama tokoh yang lahir di Merv 150 H/ 767 M itu tak terbantahkan lagi. Ia sangat dikagumi berbagai kalangan, baik ulama atau umara. Ahmad bin Hanbal sangat kagum dengan kepiawaiannya di bidang hadis. Khalifah al-Ma’mun menghormati kepakarannya dalam ilmu agama. 

Akan tetapi, tak ada yang pernah menduga bahwa sosok yang juga dikenal dengan Abu Nashr itu, pernah melewati masa-masa kelam sepanjang hidupnya. Ia dikenal sebagai berandal dan preman. Hari-harinya diisi dengan berfoya-foya, bermabuk-mabukan, dan kerap berbuat onar, serta mendengarkan musik ditemani para budak-budak wanita. 

Hingga suatu ketika, pada malam hari, saat ia berjalan sendirian terhuyung-huyung akibat pengaruh minuman keras, tiba-tiba ia melihat secarik kertas, lalu mengambilnya. Ternyata di atas selembar kertas itu, tertuliskan lafal basmalah. Ia kemudian membeli minyak mawar seharga dua dirham dengan sisa uang yang ia miliki. Ia percikan parfumnya itu ke kertas tersebut lantas membawa dan menyimpannya di rumah. 

Sesampainya di rumah, Bisyr tertidur. Di tengah-tengah tidur lelapnya, ia bermimpi mendengar suara yang sangat jelas, tanpa tahu secara pasti siapa sumber suara itu dan berkata, “Engkau telah mengharumkan nama-Ku maka Aku pun telah mengharumkan dirimu. Engkau telah memuliakan nama-Ku maka Aku pun telah memuliakan dirimu. Engkau telah menyucikan nama-Ku, maka Aku pun telah menyucikan dirimu. Demi kebesaran nama-Ku, niscaya kuharumkan namamu, baik di dunia atau di akhirat.”

Bisyr tidak percaya, ia menghiraukan mimpinya. Ia bergumam, tidak mungkin Bisyr yang berandal akan mendapatkan penghormatan sedemikian rupa. Ia pun bangun, berwudhu, selanjutnya shalat. Ia tertidur lagi. Mimpi itu berulang hingga tiga kali. Peristiwa ini selalu terngiang, tetapi ia tetap menjalani rutinitas seperti biasa. Bergelimang dengan dosa. 

Satu saat, Bisyr dan koleganya tengah berpesta pora di rumahnya, penuh suara musik, gelak tawa, ditemani anggur dan budak-budak perempuan. Seorang tokoh ulama yang terkenal saleh mengetuk pintu rumah Bisyr yang disambut oleh pembantunya. “Siapa pemilik rumah ini? Ia seorang hamba sahaya atau orang merdeka?” tanya orang saleh itu. 

Si pembantu menjawab bahwa pemilik rumah bukan hamba melainkan orang merdeka. 

“Pantas kalau begitu, jika ia seorang hamba, niscaya akan berperilaku dengan etika penghambaan dan meninggalkan berfoya-foya,” ujar alim tersebut sembari beranjak dari kediaman “Sang Berandal”. Dari ruang tengah, Bisyr mendengar percakapan mereka berdua. Ia pun bergegas menghampiri pembantunya dan menanyakan, siapa gerangan orang asing yang bertandang ke rumahnya tersebut. Pembantu tak tahu-menahu.

Bisyr pun mengejar dan mengikuti jejak alim misterius tersebut. Begitu bertemu, ia menanyakan apakah benar sosok yang ia kejar tersebut adalah alim yang berkunjung ke rumahnya, beberapa saat lalu. Ternyata benar.

Bisyr meminta sang alim mengulangi  kata-kata bijaknya. Tersentuh dengan petuah sang alim, Bisyr lantas menyentuhkan kedua pipinya di atas tanah sembari berujar, “Bukan, bukan, saya adalah seorang hamba,” ujarnya dengan kondisi kaki bertelanjang, tanpa alas apa pun.

SUMBER:Republika.co.id