Biografi KH. Ahmad Fayumi Munji

 
Biografi KH. Ahmad Fayumi Munji

Daftar Isi Profil KH. Ahmad Fayumi Munji

  1. Kelahiran
  2. Pendidikan
  3. Mengasuh Pesantren
  4. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Kelahiran

KH. Ahmad Fayumi Munji lahir di Desa Kajen, Kec. Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Beliau merupakan putra KH. Munzi.

Pendidikan

KH. Ahmad Fayumi memulai pendidikan formalnya di Perguruan Islam Mathali’ul Falah Kajen Margoyoso Pati, Pada waktu itu di Mathole’ (orang biasa menyebut) belum terdapat pendidikan di tingkat Aliyah. Jadi, beliau hanya berhenti sampai di tingkat Tsanawiyah. Meskipun hanya sebatas itu, kualitas ilmunya luar biasa. Terutama dalam bidang agama. Beliau merupakan penghafal yang handal. Tidak hanya hafal 1000 bait Alfiyah, namun hampir semua kitab beliau hafalkan. Dan kebanyakan orang yang menyelesaikan pendidikan di Mathali’ul Falah pada masa itu adalah orang yang alim.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Mathali’ul Falah, KH. Ahmad Fayumi kemudian melanjutkan dengan mengaji surau (bandongan) kepada KH. Muhammadun, yang merupakan pengasuh juga sekaligus pendiri Pondok APIK Kajen. KH. Muhammadun mengajarkan keteladanan atas keilmuan dan sikap yang selalu dibawa serta telah tertanam di dalam benak KH. Fayumi. Beliau merupakan guru besar bagi KH. Fayumi.

Karena sifat KH. Ahmad Fayumi yang terus haus akan ilmu pengetahuan. Maka beliau melanjutkan mengajinya di Pondok Sarang Rembang yang pada saat itu diasuh oleh KH. Zubair, bapak dari KH. Maimoen Zubair. Di Sarang beliau mengaji selama 9 bulan.

Mengasuh Pesantren

Pondok Pesantren Raudlatul ‘Ulum didirikan pada tahun 1865. Pesantren ini berada di Desa Kajen.

Perintis utamanya adalah kakek dari KH. Ahmad Fayumi Munji, yaitu KH. Ismail. Pada waktu itu pondok tengah merupakan pondok besar dengan jumlah santri yang tidak sedikit pula. Cukuplah KH. Ismail mengasuh pesantren tersebut hingga akhirnya diusia yang tidak muda lagi. Hingga akhirnya beliau wafat di tanah mekkah ketika beliau menunaikan ibadah haji pada tahun 1899.

Dikarenakan putra beliau terbilang belum mampu untuk meneruskan perjuangan orang tuanya. Kepemimpinanpun diberikan kepada kedua sahabat sekaligus murid dari KH. Ismail sendiri. Beliau adalah Kiai murtaji (lima tahun)  dan kiai murtaji (empat tahun) yang keduanya berasal dari Desa Waturoyo. 

Mereka berusaha untuk tetap mendedikasikan ilmunya untuk pondok tengah. Namun sangat disayangkan karena setelah itu terjadi kevakuman (perhentian) pemimpin yang cukup lama. Nama pondok tengah tenggelam.

Lalu tongkat kepemimpinan diteruskan oleh putra beliau KH. Munji. Sebelum KH. Munji merintis ulang beliau melaksanakn shalat istikhoroh bersama sahabat beliau KH. Thahir. Di tengah tengah perjalanan, pesantren tertua di Desa Kajen di bawah asuhan KH. Munji sempat stagnan  (berhenti) total yang cukup lama karena pergolakan penjajah jepang pada tahun 1942. Pesantren ini akhirnya bubar dan gedungnya pun mengalami kerusakan dan kehancuran.

Akan tetapi pada tiga dasawarsa kemudian, tepatnya pada tahun 1975 Pondok Pesantren Kajen Tengah akhirnya dirintis oleh putra mbah Munji, yaitu KH. Ahmad Fayumi. Lalu diberi nama Raudlatul ulum dengan jumlah santri kurang lebih 250 santri baik putra maupun putri untuk sekarang ini.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

KH. Ahmad Fayumi Munji adalah sosok kiai yang kemampuannya multi dimensi. Selain pakar di bidang fikih yang dibuktikan dengan aktivitasnya dalam forum bahtsul masail diniyah di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU), beliau juga ahli falak yang hasil hitungan falaknya menjadi rujukan umat, khususnya dalam penentuan awal Ramadan dan Syawal. KH. Ahmad Fayumi rajin ke masjid Kajen untuk membetulkan waktu shalat sehingga pelaksanaan shalat tepat waktu.

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya