Biografi KH. Muhammad Sanusi

 
Biografi KH. Muhammad Sanusi

Daftar Isi Profil KH. Muhammad Sanusi

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Metode Pengajaran
  6. Melawan Penjajah
  7. Karya-Karya

Kelahiran

KH. Markab atau yang kerap disapa dengan panggilan KH. Muhammad Sanusi atau Mbah Sanusi lahir pada malam jum’at 12 Rabi’ul awal 1322 H atau bertepatan dengan 12 Januari 1904 M di Desa Winduhaji, Kuningan, Jawa Barat. Beliau merupakan putra ketiga dari tujuh bersaudara, dari pasangan KH. Agus Ma’ani bin Kiai Aki Natakariya dengan Ibu Nyai Asnita binti Kuwu Kiai Kauri.

Adapun saudara-saudara beliau diantaranya, Aminah (meninggal dunia saat usia 8 tahun), Mir’ati (meninggal dunia saat berusia 6 tahun), Sarpan (Abdur Rahim), Zaenab, Suknasih, Kasem (meninggal dunia saat usia 7 hari). Sedangkan saudara yang se-ayah lain ibu, adalah Kun’ah dan Saodah (meninggal dunia saat usia 5 tahun).

Wafat

Pada hari Jum’at tanggal 31 Mei 1974 bakda Isya’, semua putra-putri Mbah Sanusi dipanggil menghadap Mbah dikarenakan Mbah mengalami sakit yang cukup parah. Sambil menasihati dan dan memberikan beberapa wasiat, minta dipijit,i hingga pukul 23.00 WIB mereka disuruh pulang kembali.

Esok harinya, Sabtu 1 Juni 1974 pukul 08.00 WIB Mbah Sanusi kembali memanggil putranya untuk dihantar ke RSU Gunung Jati Cirebon yang ternyata menurut diagnosa dokter bahwa jantung Mbah telah pecah. Hingga beberapa saat kemudian, tepatnya pada pukul 12.30 WIB Mbah menghembuskan nafas terakhirnya.

Menjelang maghrib, jenazah Mbah Sanusi dikebumikan di pekuburan keluarga di depan Masjid Jami’ Raudhotu At-Tholibin Pondok Pesantren Babakan, Ciwaringin, Cirebon, berdampingan dengan makam gurunya, KH. Amin Sepuh.

Keluarga

Pada suatu hari Mbah Sanusi mendapat panggilan dari KH. Amin Sepuh dan diberi tahu bahwa kiai menjodohkan Mbah dengan saudari iparnya.

Padahal di rumah, Mbah pun dijodohkan dengan puteri Kuwu bernama Nyai Robi’ah. Mbah pun mulai dilema. Akhirnya melakukan Salat Istikhoroh, dan mendapat jawaban bahwa harus menikah dengan apa yang dijodohkan oleh Kiainya.

Maka pada tanggal 10 Syawal 1344 H (1926), Mbah menikah dengan Nyai Hj. Sa’adah binti KH. Ali bin Kiai Masinah, seorang janda dari Kiai Halif (Desa Lontangjaya). Nyai Sa’adah merupakan kakak ipar dari KH. Amin sepuh dan telah mempunyai seorang putera bernama Atho’illah.

Meskipun secara status Mbah Sanusi adalah saudara tua KH. Amin Sepuh, namun Mbah tetap takdzim dan menghormati KH. Amin Sepuh sebagai gurunya. Hingga di kemudian hari KH. Amin Sepuh dijuluki sebagai Kiai Sepuh, dan Mbah dijuluki sebagai Kiai Anom.

Pendidikan

Pada saat usia 10 tahun, Mbah Sanusi disekolahkan di Volk School (Sekolah Rakyat) yang terletak di Desa Ciporang. Kendati sudah berumur 10 tahun, Mbah Sanusi termasuk murid yang paling kecil. Dalam buku catatan Mbah Sanusi, setiap sore dirinya selalu mengaji di pesantren KH. Ghazali.

Pada masa kecilnya, Mbah diberi julukan “anak kecil yang pandai menjawab”, dikarenakan selalu bisa menjawab setiap pertanyaan KH. Ghazali tentang ilmu faraidh (ilmu waris) yang terkenal rumit secara spontanitas dengan benar. Padahal para santri yang lain tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Tanggal 10 Juli 1915 M, Mbah Sanusi menerima surat tanda tamat belajar dari sekolah Ciporang dengan prestasi juara satu.

Setelah tamat Sekolah Rakyat dan tamat pengajian di KH. Ghazali, Mbah meneruskan pendidikannya di Sekolah Dinas (Sekolah Calon Birokrat) di Kabupaten Kuningan. Di sekolah inilah Mbah mendalami hobi menulisnya hingga ia pernah memenangkan kejuaraan penulis lagu terbaik.

Tanggal 11 Dzul Qo’dah 1337 H, Mbah mulai mesantren di KH. Damanhuri Pakebon selama kurang lebih 6 bulan, lalu Mbah dipindahkan oleh KH. Damanhuri ke pesantren Sarajaya Karangsembung, Sindanglaut, Cirebon, yang diasuh oleh KH. Zen, karena terlalu pintar di pesantren ini Mbah diperlakukan lebih istimewa dengan memperoleh kamar yang juga dihuni oleh Kiai-nya, sehingga setiap saat Mbah bisa mensuri tauladani sosok seorang guru.

Baru setengah tahun di pesantren Sarajaya, Mbah Sanusi mendapat kabar ibunda tercintanya sakit dan disuruh pulang. Setelah diberitahu hingga tiga kali masih belum pulang, akhirnya Mbah dijemput paksa oleh saudaranya yang bernama Kerta Adiwangsa.

Karena kegigihannya dalam belajar, Mbah menolak untuk pulang dan memilih tinggal di pesantren untuk mengaji. Menurut cerita dari Kiai Mudzakir, cucu dari Mbah Sanusi, sampai pada akhirnya pengasuh memerintahkan Mbah Sanusi untuk pulang.

“Pulanglah sejenak, masalah panjang-pendeknya umur tidak ada yang tahu. mengenai ngaji, mungkin bisa nambal (private)”.

Tiga hari sepeninggal ibundanya, Mbah Sanusi memilih berangkat kembali ke pesantren untuk menimba ilmu yang sempat tertinggal. Ujian yang menghalangi Mbah dalam belajar tidak cukup hanya itu. Di pesantren, Mbah dibenci oleh teman santrinya yang iri dengan Mbah. Kejahilannya selalu mengancam keselamatan Mbah.

Tak hanya itu, Mbah Sanusi diberikan musibah berupa penyakit kulit yang sangat menjijikan. Kulitnya bernanah dan berbau busuk-amis. Akibat itulah Mbah semakin dijauhi oleh seluruh teman-temannya. Apabila saatnya mengaji, Mbah Sanusi selalu dipisah tempatnya di bawah kolong (saat itu langgar berupa rumah panggung yang terbuat dari bilik kayu.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Mbah menjadi kaligrafer bayaran. Karya-karyanya sering dijual bahkan hingga sering mendapat orderan karena tulisan Mbah (baik arab maupun latin) sangat bagus sekali. Hasil uang yang didapat Mbah selalu digunakan untuk membeli kitab. Bahkan sering pula mengirimkan uang ke rumah untuk kebutuhan sekolah adiknya.

Kendati secara materi telah tercukupi, mbah selalu hidup dalam ke-zuhudan. Bahkan pernah suatu ketika, Mbah Sanusi makan nasi yang dicampur sedikit pasir bersih dengan tujuan menghilangkan rasa nafsu hayawani. Mbah tidak pernah mau makan sebelum ia hafal setiap mata pelajaran yang ia pelajari.

Setelah cukup lama mesantren, Mbah diminta menjadi menantu oleh Kiai Ma’ruf (saudara dari Kiai Zen). Sikap tawadhu’ dan patuhnya terhadap guru, maka Mbah hanya sami’na wa atho’naa. Maka pada tanggal 24 Dzulhijah 1341 H, secara resmi Mbah dinikahkan dengan Nyai Qona’ah binti KH. Ma’ruf.

Pada hari kamis tanggal 27 Muharram 1341 H, Mbah berangkat lagi mesantren di Pondok Cikalong Tasikmalaya mengikuti jejak guru terdahulunya, KH. Zakaria. Tentunya setelah memohon pengertian dan keikhlasan dari istri dan mertuanya. Namun, agar lebih berkonsentrasi dan lebih thuma’ninah dalam belajar, Mbah meminta restu dari mertua dan istrinya untuk mentalak. Hingga pada akhirnya tanggal 15 Rajab 1341 H Nyai Qona’ah di-thalak.

Rabu, 4 Sya’ban 1341 H (1922 M) Mbah pindah mesantren di Pondok Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat. Jumlah santri saat itu masih 60 orang dengan lurah pondoknya bernama Kiai Nawawi dari Majalengka. Sementara pengasuhnya adalah Kiai Isma’il, Kiai Dawud, Kiai Muhammad, dan KH. Amin Sepuh.

Meski sudah sebulan mondok di Babakan, Mbah mengalami tidak betah di situ. Karenanya Mbah menghadap kiai untuk meminta nasihat.

Adapun nasihatnya berupa “orang mesantren itu sama dengan orang yang bertapa. Kalau tidak kuat menghadapi godaan, tidak akan sukses. Orang yang akan sukses besar tentu godaannya besar pula. Ibarat pohon yang menjulang tinggi, maka akan semakin besar angin yang menerpa. Maka bersabarlah”.

Karena kecerdasan ide dan kepintaran ilmunya, Mbah Sanusi dipercaya menjadi kepala pondok. Diamanahi menjadi kepala pondok membuat banyak menyita waktu Mbah karena harus membagi waktu antara mengurus santri dan mengaji.

Metode Pengajaran

Sewaktu Mbah Sanusi mulai mengajar di Pondok Pesantren Babakan tahun 1922 M, dimulailah pengajian nahwu dengan menggunakan sistem tahriran serta diajarkannya tulis-menulis secara kurikulum madrasah. Hal ini belum pernah terjadi di Pondok Pesantren manapun.

Oleh karena itu, banyak tokoh ulama sekitar yang tidak menyetujuinya karena dianggap sistem tahriran seperti bioskop dan sistem madrasah Tasyabbuh dengan penjajah Belanda, karenanya harus dihindarkan.

Sebenarnya tujuan utama Mbah Sanusi hanya ingin mengarahkan bagaimana cara belajar yang efektif. Mbah berpikir, jika cara itu dihentikan, maka jelas akan berakibat memperlambat kemampuan bernalar, optimalisasi penguasaan isi materi menjadi tidak sempurna.

Mbah Sanusi pura-pura tidak mendengar saja dan terus menjalankan keyakinannya dalam membuat program tersebut. Hingga pada suatu hari datanglah sepucuk surat dari kantor POS Jamblang yang ditunjukan kepada Mbah. isinya bernada ancaman.

“Sanusi, kamu harus menghentikan sistem pengajian dan madrasah. kalau tidak menurut, mending kamu mampus ke Kuningan !” wassalam, Johar Balarante.

Setelah menerima surat itu, hati Mbah Sanusi terenyuh dan sedih. Untuk itu Mbah Sanusi berniat mengecek kebenaran surat itu dan sekaligus tabayyun/klarifikasi ke Kiai Johar di Balarante. Ternyata sesampainya di Balarante tidak terjadi apa-apa. Bahkan Mbah disambut hangat dan dihormati.

Untuk lebih meyakinkan, akhirnya Mbah Sanusi memberanikan diri menanyakan langsung kepada beliau, “maaf Rama, apa benar Rama kirim surat ke saya?”. Dijawab oleh Kiai Johar “Tidak, apa ada surat? Lewat mana datangnya?” maka Mbah pun menjawab, “ada Rama, dari Kantor Pos”.

Kemudian dibacalah surat itu oleh KH. Johar, dan diklarifikasi oleh KH. Johar bahwa beliau tidak pernah mengirimkan surat itu. KH. Johar hanya tidak mengizinkan Mbah mengajar dengan sistem seperti orang kafir. Namun, jika tidak ada metode lain, gunakan saja lembaran kertas yang lebar, kemudian ditulisi.

Agar ketika selesai digunakan bisa digulung, dan ketika dibutuhkan lagi bisa dibuka. Menurut KH. Johar, yang terpenting jangan sampai menggunakan papan tulis kapur yang digunakan untuk menulis al-Qur’an/Hadits. Karena apabila dihapus akan menjadi debu yang beterbangan. Dan apabila diinjak sama artinya menginjak al-Qur’an.

Mbah Sanusi pun menuruti saran KH. Johar. Namun, setelah satu tahun menjalaninya dan dirasa kurang efektif, maka Mbah melakukan taktik baru, yaitu tetap membuat papan tulis yang diberi bingkai bentuk asbak bertujuan supaya menjadi wadah bagi debu kapur yang telah dihapus.

Namun demikian, Mbah Sanusi tetap tawadhu’ dan mengormati semua Kyai Sepuh meskipun banyak orang tahu bahwa karismatik Mbah lebih tinggi daripada para Kiai sepuh lainnya. Sifat tawadhu’ Mbah yang patut disuritauladani seperti kepada KH. Amin Sepuh (Adik Iparnya) tetap tidak berani berjalan mendahuluinya, atau sholat di depannya.

Bahkan untuk hal semacam sandal pun jika kebetulan berada di tempat yang sama, Mbah Sanusi tidak pernah berada didepan sandal Kiai Amin Sepuh dikarenakan rasa takdzim-nya terhadap beliau. Begitulah cerita dari Kiai Ali Munir, cucu dari Mbah Sanusi yang saat ini menjadi Pengasuh Pesantren Assanusi.

Melawan Penjajah

Pada zaman perjuangan merebut kemerdekaan, andil Mbah Sanusi sangatlah besar. Terutama dalam pengadaan bidang logistik dan persenjataan. Mbah Sanusi banyak mengirim pedang panjang, bambu runcing, dan keris kepada para santinya serta pasukan Hizbullah. Tak hanya itu, Mbah juga banyak merekrut para pemuda untuk ikut berjuang melawan penjajahan.

Bahkan pernah diceritakan bahwa Hadratussyaikh KH. Hasyim ‘Asy’ari bersama Bung Tomo di Surabaya tidak akan menyatakan perang sebelum mendapat restu dari ulama Cirebon, salah-satunya KH. Muhammad Sanusi. Mbah-lah yang mencetuskan resolusi jihad bersama KH. Hasyim Asy’ari dan ikut bertempur bersama Bung Tomo.

Mbah Sanusi pun sudah sering keluar-masuk penjara karena hal itu. Perlakukan kurang manusiawi dilakukan para pemberontak terhadap Mbah. Pukulan dengan gagang senapan laras panjang kerap kali diterima Mbah. Akibatnya, Mbah agak sedikit condong bila berjalan.

Karya-Karya

Dibalik sosok KH. Muhammad Sanusi yang tegas berwibawa dan alim, ternyata Mbah adalah seorang penulis yang produktif. Terlihat dari banyaknya buku catatan yang banyak mengupas perjuangan para santri dalam meraih kemerdekaan, sejarah pesantren, hingga riwayat hidup dirinya sendiri.

Mbah Sanusi merupakan seorang ulama yang pandai bersyair. Mbah Sanusi pun banyak sekali mengarang kitab dari pelbagai disiplin ilmu seperti Ilmu Pengetahuan Sosial, Ilmu Falak, Faraidh, Nahwu, Shorof, Fiqh, Tafsir, Ilmu tafsir, Akhlaq, maupun Tasawuf. Kitab-kitab yang ditulis Mbah merupakan kitab yang bertuliskan Bahasa Jawa Pegon (Bahasa Jawa yang ditulis menggunakan huruf Arab), Bahasa Indonesia, Bahasa Arab.

Karya-karya Mbah Sanusi diantaranya:

  1. “Jadwal Sholat Abadi” yang digunakan hampir di semua wilayah III Cirebon (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan). Jadwal sholat abadi ini dibuat pada tahun 1359 H.
  2. “Kitabul Adab fii durusi Al-Awwaliyah fii Al-Akhlaqil Mardhiyah”yang ditulis dalam Bahasa Jawa ini berisi tentang tata krama murid terhadap guru, anak terhadap orang tua, rakyat terhadap pemerintah, tatakrama orang mencari ilmu, tatakrama persahabatan(pergaulan), tatakrama seseorang terhadap dirinya sendiri dan masih banyak lainnya seputar adab.
  3. “Tanwiir Al-Qulub” yang berupa sya’ir berbahasa Jawa tentang aqidah, menjelaskan tentang Ahlu Sunnah wal Jama’ah, surga dan neraka, tauhid, malaikat dan sebagainya.
  4. “Sya’ir Wasiat” yang ditulis dalam bahasa Indonesia, berisi tentang tuntunan untuk mencari ilmu yang benar.
  5. “Kitabu At-Tabsyiru wa At-Takhdziru” berupa sya’ir berbahasa Jawa pegon yang mengupas kejadian-kejadian di akhirat seperti nikmat kubur, azab kubur, hisab, syafaat, haudh, dlan lain-lain.
  6. “Bisyri Al-Anami bi Fadho.ili Al-Hikami As-Shiyami ‘Alaa Madzahibi Al-A’immati Al-Arbi’atil A’lami.” Kitab ini berbahasa Arab yang menjelaskan seputar ibadah puasa dan keutamaan-keutamaannya.
  7. “Aronu Kalaami fii Syi’ri Al-‘Ilmi An-Nahwi Billughotil Jawiyah” yang berupa syair kitab Jurumiyah Tahriran. Kitab ini ditulis dalam Bahasa Jawa tentang nahwu yang merujuk pada kitab jurumiyah.
  8. “Tadzkirotul Ikhwan” yang ditulis dalam bahasa Arab, membahas seputar aqidah-akhlaq.
  9. “Baabu al-Jum’ati wa Dzuhri” yang ditulis dalam bahasa Arab, membahas seputar syarat, rukun dan sunnah sholat jum’at dan dzuhur.
  10. “Kitab Fasolatan”, kitab ini membahas seputar do’a-do’a dan niat sholat wajib, panduan sholat sunnah, panduan tahlil dan lain-lain.
 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya