Biografi KH. Mahfudz Ridwan

 
Biografi KH. Mahfudz Ridwan

Daftar Isi Profil KH. Mahfudz Ridwan

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Pesantren
  6. Kiprah
  7. Teladan

Kelahiran

KH. Mahfudz Ridwan atau akrab disapa Kiai Mahfudz, lahir di Salatiga pada 10 Oktober 1941. Beliau merupakan putra pertama dari lima bersaudara, dari pasangan KH. Ridwan dan Hj. Maemunah.

Kiai Mahfudz dikenal sebagai perintis Pondok Pesantren Edi Mancoro di Desa Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.

Wafat

KH. Mahfudz wafat pada hari Ahad tanggal 28 Mei 2017. Jenazah beliau di makam di pemakaman keluarga di Desa Gedangan Kecamatan Tuntang, Kab. Semarang, Jawa Tengah.

Sepeninggal dari KH. Mahfud Ridwan, semua urusan kepesantrenan diberikan kepada Gus Muhamad Hanif, M. Hum putra bungsu beliau.

Keluarga

KH. Mahfudz melepas masa lajangnya dengan menikahi Hj Nafisah asal Desa Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Buah dari pernikahannya dengan Hj Nafisah, beliau dikaruniai empat orang anak: Ir. Khamud Wibisono (Gus Wibi), Dr. Muna Erawati (Ning Muna), Sauqi Prayogo, S. T. (Gus Uqi), dan Muhamad Hanif, M. Hum (Gus Hanif).

Pendidikan

KH. Mahfudz memulai pendidikanya dengan belajar di Pulutan, lalu melanjutkan MTs dan Aliyah di kota Makkah. Selanjutnya, beliau kuliah di Baghdad University di jurusan Syariah dan Adab (Sastra). Ketika di Baghdad beliau pernah satu kamar bersama KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Mendirikan Pesantren

Pada 26 Desember 1989, KH. Mahfud Ridwan mendirikan pesantren yang lebih akrab disebut Pondok Pesantren Edi Mancoro dibawah “Yayasan Desaku Maju” sebagai pusat pendidikan masyarakat khususnya bagi masyarakat setempat sekaligus sebagai basecamp berbagai kegiatan.

Sejak saat itu keadaan pesantren terus berkembang. Yayasan ini pun dikenal luas di Salatiga, Kabupaten Semarang, dan sekitarnya. Program-programnya telah berhasil membuat perubahan yang sangat signifikan, khususnya memecahkan permasalahan antar umat beragama. Kemudian, karakter pesantren yang pluralis dan terbuka untuk siapa saja termasuk untuk orang non Islam membawa nama pesantren ini sangat terkenal hingga luar negeri. Bahkan banyak kunjungan dari berbagai negara hingga saat ini.

Pada akhir tahun 2007, nama Pondok Pesantren Edi Mancoro telah resmi menggantikan nama Wisma Santri Edi Mancoro dengan tetap menjaga prinsip pluralisme dan keterbukaan dengan umat non Muslim sebagai bentuk terciptanya konsep Islam Rahmatan lil’alamin.

Kiprah

Sebelum menjadi dosen di Fakultas Tarbiyah STAIN Walisongo Semarang Cabang Salatiga, KH. Mahfudz sempat duduk sebagai anggota DPRD Kabupaten Semarang (Fraksi PPP). Sejak tahun 1980-an beliau mulai intens berkiprah di berbagai kegiatan sosial, antara lain LSM Desaku Maju, Forum Gedangan, dan Forum Lintas Iman Sobat. Kelompok Qoriyah Toyyibah Kalibening termasuk salah satu yang mendapat binaan dari LSM Desaku Maju.

Amanah sebagai Rektor Universitas Nahdatul Ulama (UNU) Surakarta dan salah satu Mustasyar PBNU (periode 2015-2020) mewarnai catatan sejarah hidupnya.

Teladan

Teladan yang bisa diikuti dari sosok KH. Mahfudz adalah dengan memperlakukan semua orang sama, tidak pernah membedakan antara rakyat kecil, kalangan menengah ataupun atas. Bahkan, beliau akrab dengan banyak komunitas dari berbagai keyakinan. Beliau pun turut terjun memberikan advokasi kepada masyarakat sekitar Waduk Kedungombo, yang pada awal pembangunannya cukup menyita perhatian publik waktu itu.

Sumber: https://www.edimancoro.or.id/category/muassis/ dan Akhmad Saefudin SS ME, (Penulis Buku 17 Ulama Banyumas)