Biografi KH. R. Abdul Fattah

 
Biografi KH. R. Abdul Fattah

Daftar Isi Profil KH. R. Abdul Fattah

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Mendirikan Pesantren
  5. Melawan Penjajah
  6. Karomah
  7. Jasa-Jasa

Kelahiran

KH. R. Abdul Fattah lahir pada Kamis Pon, 11 Syawal 1290 H atau 1872 M di Mangunsari Kedungwaru Tulungagung.

Silsilah nasab dari ayahnya, KH. R. Abdul Fattah putra KH. Hasan Tholabi Mangunsari Tulungagung. Beliau keturunan ke 14 dari Sayyid Nawawi (Sunan Bayat/ Sunan Pandanaran/ Ihsan Nawawi, Solo) dan keturunan Rasulullah Saw ke 31. Sedangkan ibunya bernama Nyai Dokhinah, buyutnya Prawiro Projo, Patih Ponorogo ke 5. Nama asli KH. R. Abdul Fattah adalah Muhammad Ma’ruf.

Wafat

KH. R. Abdul Fattah wafat pada hari Selasa Pon, 3 Robiul Akhir 1372 H  atau 29 November 1954 M. Jenazah beliau dimakamkan di barat masjid Pondok Mangunsari, pada hari Rabu Wage, 4 Robiul Akhir 1372 H atau 30 November 1954 M.

Pendidikan

KH. R. Abdul Fattah memulai pendidikannya dengan belajar ilmu tauhid kepada KH. Imam Bahri, pengasuh PP Mangunsari, Pace Nganjuk. Kemudian, belajar ilmu tasawwuf kepada KH. Zaenuddin, pengasuh PP Mojosari, Loceret Nganjuk. Setelah itu, belajar ilmu Fiqh kepada KH. Zaenuddin, pengasuh PP Cempaka, Brebek Nganjuk. Dan belajar ilmu tafsir kepada KH. Idris, pengasuh PP Jamsaren Solo.

Belajar ilmu Hadits kepada KH. Hasyim Asy’ari, pengasuh PP Tebuireng Jombang. Belajar ilmu Nahwu (Gramatika) kepada KH. Kholil, Bangkalan Madura. Belajar Al Qur’an kepada KH. Munawir, pengasuh PP Krapyak Yogyakarta. Belajar berbagai bidang ilmu agama Islam kepada KH. Sayyid Zein dan KH. Mahfudz At- Turmusy di Masjidil Haram Makkah Saudi Arabia. Waktu yang dihabiskan KH. R. Abdul fattah untuk belajar berbagai ilmu agama Islam di berbagai pondok pesantren tersebut selama 24 tahun.

Mendirikan Pesantren

Dalam perkembangannya, madrasah yang dirintis KH. R.Abdul Fattah menjadi cikal bakal Pondok Pesantren tertua di wilayah Mangunsari, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, atau yang kini dikenal dengan nama Pondok Pesantren Menara. Awalnya KH. R. Abdul Fattah mendirikan Madrasah, masjid, dan menara sebagai sarana ibadah bagi umat Islam di sekitar Desa Mangunsari, Kecamatan Kedungwaru, pada sekitar tahun 1354 H.

KH. Ibnu Katsir Siroj mengatakan pengasuh Ponpes Menara, bahwa terbentuknya pesantren bermula dari madrasah yang dikenal dengan nama Madrasah Bundar. Madrasah ini berdiri tahun 1354 H, dalam proses pembangunannya terdapat keunikan tersendiri, yang berkaitan dengan karomah sang pendiri. Yakni pembangunan gedung madrasah ini hanya membutuhkan waktu 40 hari.

Anehnya, konstruksi bangunan atap tembok tanpa menggunakan otot besi, maklum pada waktu itu otot besi tergolong langka sehingga beberapa lonjor bambu dijadikan otot bangunan.

Sementara itu, bangunan tersebut sebagai gambaran terhadap kehidupan ahli tarekat bahwa kehidupannya harus melaksanakan sebagaimana ibarat bangunan madrasah ini. Terlihat dari bentuk luarnya persegi sedang dalamnya bulat (bundar), sedang atasnya mlenthu, maron mengkurep, kekep mengkurep makutho dhuwur, bulan bintang sembilan, dan lengser.

Seiring waktu, kegiatan madrasah ini beralih fungsi yang semula memakai metode pendidikan klasikal (perpaduan antara pengetahuan umum dan ilmu agama) seperti halnya kegiatan diniyah di lingkungan ponpes, menjadi ponpes sepenuhnya.

“Akan tetapi santri juga ada yang khusus menghafal al-Qur’an dan kitab kuning saja tanpa mondok, ada juga yang nyambi kuliah di lembaga pendidikan yang berada di luar ponpes,” kata KH. Ibnu Katsir Sirojd.

Melawan Penjajah

Pada masa penjajahan Jepang, ulama- ulama di Tulungagung banyak yang ditangkap oleh Jepang. Diantaranya adalah KH. R. Abdul Fattah (Mangunsari), KH. Syarif (Majan), KH. Mustaqim (Kauman) dan lainnya.

Mereka disiksa dengan berbagai macam penganiayaan dipukul, disetrum listrik, dimasukkan ke kandang ular, ditenggelamkan ke dalam bak air, disulut dengan api rokok dan berbagai penyiksaan lainnya.

Mereka tetap tabah menjalani penyiksaan di dalam tahanan Jepang. Tidak cukup disitu mereka selalu membaca kalimat thoyyibah; subhanallah, astaghfirullah, masya-Allah, la haula wala quwwata illa billah dsb. KH. R. Abdul Fattah ditahan Jepang jam 8 pagi. Di dalam tahanan selama 9 bulan. Pulang dari tahanan hari Senin dan Selasanya sudah mulai mengajar santri- santrinya.

Karomah

KH. R. Abdul Fattah adalah termasuk hamba yang selalu mendekatkan diri kepada Allah. Oleh karena itu beliau mempunyai beberapa karomah, diantaranya adalah :

1. Setiap hari Senin dan Jum’at beliau biasanya membaca sholawat dziba’ rotibul hadad, tahlil dan dzikir bersama-sama dengan santri. Pada suatu ketika, setelah melakukan amal- amalan bersama santri, beliau membagi makanan dan minuman yang dipersiapkan sendiri. Yang membuat para santri heran adalah nasi yang disediakan hanya satu belanga dan satu kendi minuman, namun nasi dan minuman tersebut bisa mencukupi hadirin yang jumlahnya ratusan dan itupun masih tersisa.

2. Pada suatu hari Kiai Khobir bercerita: Kiai Khobir dan bapak Wardud mengantarkan makanan beserta lauk pauknya ke tempat KH. R. Abdul Fattah. Beliau hanya mengambil setengah dari makanan yang dihidangkan dan yang setengah lagi disuruh membawa pulang. Setelah sampai di rumah, ternyata makanan yang tadinya tinggal separo kembali utuh seperti semula.

3 Menurut cerita H. Tholhah Josermo (Surabaya), disaat KH. R. Abdul Fattah bermukim di pondok Mangunsari Pace Nganjuk, pada suatu malam Kiai Imam Bahri (ayah Gus Mundir) melihat cahaya yang bersinar cemerlang dari kamar KH. R. Abdul Fattah yang sedang tidur di dalamnya. Akhirnya disaat itu pula KH. R. Abdul Fattah dibaiat sebagai thoriqoh kholwatiyah oleh Kiai Imam Bahri, pimpinan pondok Mangussari Pace Nganjuk.

4. Pada suatu hari ada orang melihat KH. R. Abdul Fattah sedang Salat Jum’at di masjid Tawangsari, namun orang lain bercerita melihat beliau, pada hari Jum’at yang sama, Salat Jum’at di masjid tiban Sunan Kuning Macanbang Gondang. Sehingga keberadaan beliau tersebut menjadi pembicaraan para santri pondok.

5. KH. Hasyim Asy’ari Jombang (waktu itu sebagai ketua PBNU) ingin menemui KH. R. Abdul Fattah yang sedang berkhalwat. Sebelumnya menemui Kiai Siroj untuk menanyakan bagaimana cara menemui KH. R. Abdul Fattah. Oleh Kiai Siroj diminta menulis di sabak (papan kecil untuk menulis) nama dan keperluannya kemudian dimasukkan lewat pintu tempat berkhalwat.

Jika KH. R. Abdul Fattah berkenan menerima biasanya sabak diambil dan diberi jawaban “Salam dan doa semoga maksud dan tujuan dikabulkan dan diridhoi Allah”, dan jika belum berkenan menerima sabak tidak diambil. Ternyata sabak tidak diambil, kemudian KH. Hasyim Asy’ari kembali meneruskan perjalanannya bersilaturrahmi kepada KH. Zarkasyi dan Gus Qomaruddin Kauman Tulungagung.

Diwaktu yang sama, KH. R Abdul Fattah menemui Gus Wahid Hasyim (putra KH. Hasyim Asy’ari) di Jombang menyatakan ingin menemui ayahnya. Dikatakan oleh Gus wahid bahwa ayahnya pergi ke Tulungagung ingin bersilaturrahmi kepada Gus Ma’ruf (nama asli KH. R. Abdul Fattah). KH. R. Abdul Fattah tidak bersedia masuk rumah, tapi istirahat di masjid menunggu sampai KH. Hasyim Asy’ari datang dari Tulungagung.

Selang beberapa waktu yang ditunggu datang dan menceritakan kisah perjalanannya dari Tulungagung. KH. R. Abdul fattah menjawab: “Sebetulnya yang harus datang aku kepada Kiai, bukan malah Kiai datang kepadaku”.

Jasa-Jasa

Penemu Makam Bedalem

KH. R. Abdul Fattah sebagai perintis dan pelopor penggalian benda bersejarah, terutama makam- makam kuno. Beliaulah yang menemukan dan menggali makam Bedalem Campurdarat yang didalamnya dimakamkan pejuang- pejuang Islam, yaitu Pangeran Benowo, Raden Patah dan Dampu Awang.

Setelah ditemukan makam Bedalem beliau menyuruh Kiai Maklum untuk merawat makam dan mempelopori dakwah Islamiyah di Campurdarat. Disamping itu beliau juga mendirikan masjid di Bedalem.