Analogi Sederhana KH. Anwar Zahid tentang Mengapa Pentingnya Shalat Berjamaah

 
Analogi Sederhana KH. Anwar Zahid tentang Mengapa Pentingnya Shalat Berjamaah
Sumber Gambar: KH Anwar Zahid/islamramah

Laduni.ID, Jakarta – Shalat berjamaah memiliki banyak keutamaan, diantaranya ialah dihindarkan dari api neraka, dijauhkan dari sifat munafik, dan dibalas pahalanya dengan berlipat ganda. Shalat berjamaah juga memberikan peluang besar diterimanya shalat ketimbang shalat sendiri.

Di sisi lain, shalat berjamaah memiliki manfaat besar dalam kehidupan bersosial, dengan Shalat berjamaa di masjid orang-orang akan bisa saling bertemu, bertegur sapa, dan bersilaturahmi. Jika dalam suatu wilayah yang masyarakatnya jarang melaksanakan shalat berjamaah, maka akan berpotensi menimbulkan perpecahan dan sulit menemukan solusi.

“Desa kalau sholat berjamaahnya di Masjid atau Mushola sepi, tidak akan menjadi berkah. Masyarakatnya mudah berselisih, karena saling jarang bertemu. Orang-orang tidak menemukan solusi atau rundingan,” dawuh KH Anwar Zahid.

Shalat berjamaah juga mengajarkan umat untuk taat terhadap pemimpin, implementasi yang tergambarkan dalam shalat berjamaah. Makmum diwajibkan taat kepada imam, selama imam tersebut benar.

“Sholat jamaah itu mengajarkan, kewajiban patuh kepada pimpinan dalam satu komando. Semua makmum wajib patuh kepada imam, selama imam benar. Artinya, rakyat yang dipimpin wajib patuh kepada pimpinan, selama pimpinan benar. Bukti. Imam berdiri, niat bareng takbiratul ihrom sambil mengangkat kedua tangan, ‘Allahu akbar’. Semua makmum harus kompak untuk patuh. Berdiri, niat, takbiratul ihram, mengangkat tangan ‘Allahu akbar’. Begitu, patuh!” kata KH Anwar Zahid.

Makmum diwajibkan patuh kepada imam, dan tidak diperbolehkan melakukan sesuatu diluar rules (syariat) yang telah dibuat. Jika hal tersebut dilakukan, maka batal lah shalatnya, dan gagal pula menjadi makmum yang baik.

Jika imam melakukan kesalahan atau kekeliruan, Makmum wajib mengingatkan dengan cara yang baik dan benar sesuai syariat. Jika imamnya laki-laki maka wajib membaca tasbih, jika imamnya perempuan maka diberi tanda tapuk.

“Kalau imam lupa atau imam salah, makmum wajib menegur atau mengingatkan dengan cara yang baik. Artinya, kalau ada pemimpin yang lupa, pemimpin yang salah, maka rakyat harus mengingatkan dengan cara yang beretika. Duduk bersama, beri teguran yang halus. Jangan langsung datang gerombolan dengan membawa pentungan, ‘Allahu akbar, Pak Lurah mundur! Allahu akbar!’” ujar KH Anwar Zahid.

“Mengingatkan itu dengan cara beretika, pakai cara yang halus. Tidak boleh kasar. Misalnya imam shalat Isya, baru dapat tiga rakaat. Kok sudah duduk tawarruk (tahiyat akhir). Makmumnya bilang, ‘subhanallah’, niatnya dzikir. Bukannya, ‘he baru tiga rakaat sudah duduk, imam bodoh. Berdiri!’ ini namanya, makmum bodoh. Apalagi ada yang langsung maju menghampiri imam, langsung pegang bajunya, ‘berdiri!’” lanjut beliau.

Begitu pula kepada imam atau pemimpin, jika mendapat teguran dari makmum atau rakyat maka harus segera dibenahi kesahalan tersebut.

“Yang imam juga tidak boleh ngambek, kan shalat Isya menjadi imam, baru dapat tiga rakaat kok sudah duduk tawarruk hendak tahiyat akhir, siap-siap dapat salam. Diingatkan oleh makmumnya ‘subhanallah’. Jangan bilang, ‘yang mengimami saya apa kamu? Makmum cerewet.’ Itu namanya imam bodoh,” jelas KH Anwar Zahid.

Shalat berjamaah berpotensi besar mendapat pahala khusyuk, sebab jika dalam satu jamaah terdapat seorang yang khusyuk maka akan dicatat khusyuk satu jamaah.

“Kenapa saya menekankan sholat berjamaah, karena saya dan kalian membutuhkan sholat berjamaah. Karena shalat yang dinilai oleh Allah itu kualitasnya, khusyuknya, dan ikhlasnya. Kalau saya dan anda sholat sendirian, disuruh berkualitas, khusyuk, dan ikhlas akan kesusahan. Kalau berjamaah, mau bagaimana pun kualitas sholatmu, pasti diterima oleh Allah,” dawuh KH Anwar Zahid.


Editor: Daniel Simatupang