Biografi KH. Taufiqul Hakim

 
Biografi KH. Taufiqul Hakim

Riwayat dan Kelahiran

K.H. Taufiqul Hakim atau yang lebih dikenal dengan Gus Taufiq lahir pada tanggal 14 Juni 1975 di desa Sidorejo kecamatan Bangsri kabupaten Jepara yang masih termasuk wilayah Jawa Tengah. Bapaknya bernama Supar dan Ibunya bernama Hj. Aminah, keduanya adalah seorang petani yang mempunyai ghirah keagamaan yang sangat tinggi sehingga sangat memperhatikan pendidikan agama kepada anak-anaknya termasuk kepada Gus Taufiq (Hakim, 2004).

Berkelana Menuntut Ilmu

Perhatian yang besar dari kedua orangtuanya tersebut dapat dilihat ketika Gus Taufiq selesai menamatkan sekolah TK (tahun 1981), dilanjutkan ke SD (1987), kemudian ke MTs Wahid Hasyim Bangsri (1990), ia diarahkan untuk melanjutkan pendidikannya sambil nyantri di pondok pesantren Maslakhul Huda Kajen, Margoyoso, Pati.

Di samping ia nyantri di PP. Maslakul Huda, ia juga bersekolah di Diniyah Wustha Mathali’ul Falah (Perguruan Islam Mathali’ul Falah / PIM) selama dua tahun (1992). Kemudian ia meneruskan pendidikannya ke Madrasah Aliyah (MA) PIM selama tiga tahun (1995) di bawah asuhan KH. Sahal Mahfudh dan KH. Abdullah Salam (Hakim, 2004).

Untuk menambah kekhusukan dan kemantapan hati, Gus Taufiq juga mondok di PP al-Manshur Popongan Klaten di bawah asuhan KH. Salman Dahlawi selama 100 hari untuk berguru thariqah an-Naqsyabandiyah.

Mengasuh Pesantren

Setelah selesai Berkelana mencari Ilmu, beliau kembali lagi ke desanya menjadi pengasuh pondok pesantren Darul Falah Sidorejo, Bangsri, Jepara sekaligus menjadi Mursyid Thariqah an-Naqsyabandiyah sampai saat ini.

KH. Taufiqul Hakim adalah pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah. Namun saat ini, beliau sudah tidak terjun langsung menangani santri sebagaimana dulu pada masa awal berdirinya pondok pesantren tersebut.

Hal tersebut dikarenakan Taufiqul Hakim sangat sibuk dengan urusan di luar pesantren. Saat ini beliau biasanya hanya dapat menyempatkan seminggu sekali untuk mengajar santri (hasil wawancara dengan Jamzuri, pengurus pesantren Darul Falah, pada 17 Maret 2017). Meskipun dikelilingi dengan kesibukan, kegiatan dakwah beliau pada masyarakat tidak begitu saja hilang.

Karya

Beliau bahkan masih sempat menulis buku-buku yang beliau sadur dari berbagai kitab kuning dengan tema menyesuaikan keadaan di masyarakat (wawancara dengan Jamzuri, pengurus pesantren Darul Falah, pada tanggal 17 Maret 2017). Adapun buku yang telah beliau karang jumlahnya lebih dari seratus judul, berikut daftar buku yang sudah beliau karang, diantaranya:

1. MUHTASOR THOHAROH
2. MUHTASOR UBUDIYYAH JILID I, II, III
3. MUHTASOR MUAMALAH JILID I, II
4. MUHTASOR MUNAKAHAH JILID I, II
5. MUHTASOR JINAYAT JILID I, II
6. BAHIYATI KHULAOSOH
7. BAHIYATI QOIDAH
8. JILID I, II, III, IV, V
9. RUMUS & QOIDAH
10.KHULASHOH
11.TATIMAH JILID I, II
12. SHORFIYAH
13. KAMUS AT-TAUFIQ
14. KAMUS ANTIQ BAHASA JAWA
15. KAMUS AL-KAHFI
16. AQIDATY
17.SYARI'ATI
18. TAFSIR AL MUBAROK I 
19. AL IJHAD JILID I, II
20. AL-WASIYAH JILID I, II, III
21. AL-AHAM
22. MAKARIMUL AKHLAQ JILID I, II, III, IV
23. FADLOILU ROMADHON
24. BID'AH HASANAH JILID I, II
25. TARBIYATUL JINSIYYAH JILID I, II
26. AL-ISRA' WAL MI'RAJ
27. SYIFAUL UMMAH SERIAL MENANGKAL RADIKALISME
28. SYIFAUL UMMAH SERIAL SEKS BEBAS DAN TATO
29 SYIFAUL UMMAH SERIAL MIRAS
30. SU'UDUZZAUJAIN JILID I, II, III
31. IRSYADUT THOLIBIN
32. IRSYADUL MUALLIMIN
33 AT-TAHDZIR
34. FARDHUL AIN SERIAL TAUHID
35. FARDHUL AIN SERIAL PIDANA
36. FARDHUL AIN SERIAL MURTAD
37. FADLOIHUL WAHABI
38. AL-HUJJATUN NAFI'AH
39. ADABUL MUTAALLIM
40. HIDAYATUL MUTAALLIM
41. TATMIINUL QULUB jilid I, II, III, IV
42. HIDAYATUL ASYFIYA' JILID I, II, III, IV, V
43. DURROTUN NASIHAH JILID I, II, III, IV, V
44. AL BAYAN JILID I, II 
45. HUQUQUL ARKHAM
46. FADOLILUL HAJJI
47. MITSAQUL MADINAH 49 KUMPULAN SHOLAWAT NABI 50 AL-JANNAH JILID I, II
48. AN-NAR JILID I, II 52 USWATUN HASANAH JILID I, II
49. MUTIARA HADITS JILID I, II, III
50. AT TADZKIROH 55 DURRUN SYARIF
51. BALAGHOTI JILID I, II, III, IV, V
52. NATIJATI JILID I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X

Aktivitas K.H Taufiqul Hakim

Ditinjau dari latar belakang riwayat hidupnya, Taufiqul Hakim sangat dekat dengan aktivitas pendidikan dan dakwah Islam, bahkan sebagai pemikir dan praktisi dakwah, beliau juga sering menjadi pembicara dalam seminar-seminar, baik yang diadakan oleh pondok pesantren maupun di perguruan tinggi diantaranya di UNDAR Jombang, Jawa Timur.

Setiap tiga puluh lima hari sekali atau orang jawa sering sebut selapanan, beliau selalu mengadakan kajian dan bedah buku di aula Pondok Pesantren Darul Falah yang dihadiri tidak hanya dari sekitar Jepara, tapi juga dari daerah lain diantaranya: Demak, Kudus, dan Pati.

Penemuan Metode Membaca Kitab ‘Amstilaty’

Dari situ ia melihat muridnya kesulitan menghafal seribu bait Alfiyyah, yaitu syair arab yang mengandung hukum dan aturan dalam ilmu nahwu (tata bahasa) untuk bias membaca Arab gundul. KH Taufiqul Hakim berfikir untuk mencari bait-bait yang terpenting saja. Ia memilih 150 bait saja.

Seratus lima puluh bait itu menjadi cikal bakal metode cepat membaca huruf arab tanpa harakat atau tanda baca.

Melalui pengujian selama enam tahun, ia akhirnya menemukan rumus ajaib itu pada ramadhan 2001. Dinamainya Amtsilati, yang berarti contoh-contohku. Metode baru itu ia uji cobakan pada empat rekannya, berhasil. Tapi, ketika diajarkan pada murid lain yang masih muda, tak sukses. Ia kemudian mencari terobosan dengan memberikan banyak contoh dan disampaikan dengan lagu.

Murid pun betah belajar. Dalam enam bulan mereka bisa membaca Arab gundul. Padahal, dengan metode lama, butuh 6-9 tahun. Yang menarik, murid yang sudah menyelesaikan buku pertama bisa mengajar siswa baru. Begitu seterusnya, sehingga proses belajar bias lebih cepat.

Untuk lebih memperkenalkan metode ini, KH Taufiqul Hakim mengantar muridnya yang lulus ke rumah orang tuanya. Sang murid mempraktekkannya di depan orang tua. Dari sini, metode itu menyebar di kawasan Bangsri. Tapi KH Taufiqul Hakim tak digubris ketika memperkenalkan metodenya di Jepara. Peluncuran buku temuannya pada 2002 sepi pengunjung. Tak putus asa, ia membawanya ke Mojokerto dan sukses. Metodenya menjadi pilihan di pesantren pesantren tradisional. Sejak itu, metode Amtsilaty menyebar dengan cepat.

Edisi awal buku itu hanya berupa foto kopi. Kemudian karena banyak permintaan, diperbanyak dengan mesin percetakaan yang besar yang sanggup mencetak 2000 eksemplar setiap hari.

Mendirikan Pesantren

Pondok pesantren Darul Falah terletak di sebelah timur kota Jepara. Tepatnya di Dusun Siturejo, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Secara resmi, pondok pesantren Darul Falah berdiri pada tanggal 1 Mei tahun 2002 oleh KH. Taufiqul Hakim selaku penemu metode Amtsilati; cara cepat membaca kitab kuning dengan mayoritas santri dari berbagai penjuru Nusantara, seperti Bali, Jawa, Madura, Sumatera, dan Kalimantan.

Program belajar Amtsilati menjadi program unggulan pondok ini. Karena dengan metode ini santri dapat cepat mampu membaca kitab kuning dalam kurun waktu yang singkat. Sebab metode inilah dari berbagai penjuru Nusantara datang untuk menimba ilmu di sini.

Karena kemudahannya, metode Amtsilati sudah banyak digunakan oleh lembaga-lembaga di luar pondok pesantren Darul Falah. Diperkirakan sudah ratusan lembaga yang menggunakan metode Amtsilati untuk memudahkan para santrinya dalam memahami kitab kuning.

Setiap tahun, pondok pesantren Darul Falah Amtsilati selau melakukan transformasi dengan begitu cepat. Dari bangunan kecil yang hanya mampu menampung beberapa orang santri saja hingga bangunan-bangunan bertingkat seperti sekarang. Selain melakukan perubahan dan peningkatan dalam memenuhi kebutuhan para santri, pondok pesantren Darul Falah juga selalu berusaha untuk mengembangkan program-program pendidikan yang diterapkan untuk para santri.

 

 

Sumber: Dari Berbagai Sumber