Abu Usman Al-Fauzi Lueng Ie #1: Sosok Ulama Kharismatik dan Pejuang Naqsyabandiah Aceh

Abu Usman Al-Fauzi Lueng Ie #1: Sosok Ulama Kharismatik dan Pejuang Naqsyabandiah Aceh

LADUNI. ID, ULAMA- ACEH yang terkenal telah banyak melahirkan ulama besar sebagai referensi dalam khazanah kebudayaan melayu dan nusantara. Tidak sedikit biografi ulama Aceh yang di kaji dan di bukukan oleh generasi Aceh sendiri sehingga para generasi penerus dalam menggali kembali riwayat dan biografi ulama Aceh terdahulu menjadi sebuah kendala.

Masyarakat Aceh dengan ulama tidak dapat di pisahkan. Kharismatiknya ulama menjadi sebagai standarisasi mereka sebagai lampu penerang umat. Salah seorang ulama karismatik yang terkenal dan hidup pada era awal pra kemerdekaan Indonesia, beliau bernama Teungku Teuku H. Usman Al-Fauzy atau akrap masyarakat menyapanya Abu Lueng Ie. Panggilan Lueng Ie merupakan sebagai tanah kelahiran beliau dan kini juga sebagai ciri khas para ulama dalam khazanah kebudayaan Islam menyebutkan nama gampong atau tempat kelahiran di akhir namanya bahkan hanya dipanggil nama gampongnya saja.

Begitu juga dengan Abu Lueng Ie. Beliau di lahirkan di Lueng Ie, sebuah gampong yang terletak dalam Kecamatan Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar, dan kecamatan ini berbatasan lansung dengan kecamatan Ulee Kareng yang berada dalam wilayah Kota Madya Banda Aceh.

Sosok ulama kharismatik Abu Lueng Ie merupakan ulama yang berasal dari keturunan terhormat, ampon. Masyarakat menyebutnya ataupun sering disebut dengan Teuku.

Dalam penelusuran catatan sejarah, Abu Lueng Ie lahir pada tahun 1921 M, tepatnya di Gampong Cot Cut, sebuah gampong yang berada dalam wilayah Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar.

Salah seorang putra beliau, Abon Tajuddin, menceritakan ayahanda beliau berasal dari kalangan Teuku sehingga pada masa kanak dan remaja mampu masuk sekolah favorit masa dulunya, sehingga wajarlah Al-Mukarram Abu Lueng Ie mampu banyak menguasai bahasa Asing baik Inggris dan lainnya.

Teungku Amiruddin, salah seorang guru senior di dayah Abu Lueng Ie, menyebutkan sapaan nama akhir beliau Al-Fauzy secara etimologi bermakna "kemenangan". Namun gelar " Al-Fauzy" itu merupakan laqab yang diberikan oleh gurunya Abuya Muda Waly, yang bermakna tembus dari cobaan dan ujian.

Konon cerita Al-Mukarram Abu Lueng Ie salah seorang murid kesayangan Al-Mujaddin Abuya Muda Waly, tentu saja pasca bermacam ujian yang dilakukan oleh Abuya Muda Waly, Abu Lueng Ie mampu dan berhasil menjalaninya. Sang Ulama kharismatik itupun di semat gelar " Al-Fauzy"

Abu Lueng Ie juga memiliki hubungan erat dengan Abuya Muhammad Muda Waly Al-Khalidi, hubungan keduanya sebagai guru dan murid. Abu Lueng Ie adalah murid keasayangan Abuya, bahkan sebagian sumber menyebutkan beliau adalah pemegang kas dayah semasa menentut ilmu di Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan.(Amiruddin, 2015).

Abu Lueng Ie pada mulanya sebelum mengenal dengan dayah dan Abuya Muda Waly, sehari-hari sebagai pedagang di seputaran kota di wilayah tersebut. Abu Lueng Ie saat itu belum mengenal sosok Abuya Muda Waly sebagai seorang yang Alim, Al-Mujaddin dan mursyid.

Salah seorang putra al-marhum Al-Mukarram Abu Lueng Ie kepada penulis, menceritakan pada awalnya Abu tidak mengenal ulama besar Abuya Muda Waly, konon pada suatu hari Abuya berpidato di seputaran kota Kutaraja di Masjid Raya Baiturrahman.

 Abu Lueng Ie muda melihat ada keanehan dengan sang orator, sesuatu yang belum pernah Abu Lueng Ie lihat, di mana awan melindungi Abuya saat berpidato, raut wajah yang sangat bercahaya dengan aura yang mengesankan dan beberapa hal keajaiban dan ketakjuban dalam pandangan Abu Lueng Ie saat itu.

**Helmi Abu Bakar El-Langkawi Penggiat Literasi dan Jamaah Tarekat Naqsyabandiah Aceh