Biografi KH. Dimyathi Syafi'e

 
Biografi KH. Dimyathi Syafi'e

Daftar Isi Profil KH. Dimyathi Syafi’e

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Menjadi Komandan Hizbullah Blambangan
  5. Pengabdian Terhadap Nahdlatul Ulama (NU)
  6. Mendirikan Pesantren
  7. Metode Pendidikan Pesantren KH. Dimyathi
  8. Keistimewaan KH. Dimyathi
  9. Karya-Karya

Kelahiran

Muhibbut Thobari atau yang akrab dipanggil KH. Dimyathi Syafi’e, adalah anak ke kesembilan dari sepuluh bersaudara. KH. Dimyathi merupakan putra dari pasangan KH. Syafi’i dan Nyai Munthasiroh pada tahun 1912, di sebuah desa kecil, Wonokromo di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Dari jalur ayahnya, Kiai Dim masih merupakan keturunan ketujuh dari Kiai Ageng Kalimundu. Tepatnya, Kiai Dimyathi bin Kiai Syafi’i bin Kiai Irsyad bin Kiai Mubarok bin Kiai Ageng Minak bin Kiai Ageng Kalimundu.

Wafat

KH. Dimyathi tutup usia pada usia 47 tahun, beliau wafat saat menunaikan ibadah haji ke Mekkah.

Pendidikan

Terlahir dari keluarga terpandang (priyayi), membuat Kiai Dim, memiliki akses pendidikan yang cukup. Ia dididik langsung oleh orang tuanya.

Namun pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya, hanya sebentara, karena saat usia menginjak lima tahun, ayahandanya meninggal dunia. Kemudian, pendidikannya dilanjutkan oleh pamannya, Kiai Kholil.

Dari pendidikan dasar yang berkualitas itulah, terbentuk karakter Kiai Dim yang haus ilmu dan sosok yang sholeh. Karakter yang terbentuk hingga dewasa kelak.

Kegemaran Kiai Dim pada ilmu semakin terlihat ketika pindah ke Banyuwangi. Pada 1922, ibundanya, Nyai Munthasirah, hijrah ke ujung Timur Pulau Jawa itu. Ibunya yang menjanda setelah ditinggal wafat orang tuanya mengadu nasib untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Meski berada di lingkungan keluarga terpandang dan berkecukupan, namun hal itu tak membuat Nyai Munthasirah menggantungkan hidup pada uluran tangan keluarga besarnya. Ia mendidik anak-anaknya untuk mandiri.

Di Banyuwangi, Nyai Munthasirah dan anak-anaknya tinggal di Desa Kebaman, Kecamatan Srono. Di tanah rantau inilah, ia membesarkan kesepuluh putra putrinya. Dengan kerja keras dan doa yang tak pernah berhenti dilafalkan tiap melakukan aktivitas.

Meski keadaan ekonomi keluarga masih belum stabil, gejolak Kiai Dim untuk menuntut ilmu tak pernah padam. Setelah membujuk ibu yang sebelumnya menolak, beliau diperbolehkan untuk melanjutkan mengaji.

Kiai Dim ketika menginjak masa-masa remaja, ia ingin menuntut ilmu ke luar dari wilayah Blambangan (Banyuwangi). Maka, ia pun mengutarakan maksudnya ini kepada ibundanya. Namun sang ibu menyatakan bahwa keluarganya sedang tidak memiliki bekal yang cukup untuk membiayai keinginannya. Keluarga di Banyuwangi hanya memiliki tanah persawahan yang tidak dapat diharapkan banyak karena sulitnya zaman akibat penjajahan.

Namun Kiai Dim nampaknya telah teguh dengan keinginannya. Beliau menginginkan untuk menjual sawah yang menjadi bagain warisannya kelak ketika dewasa. Walaupun hampir tak percaya, Ibunya pun kemudian menyangupi ketika melihat tekad bulat anaknya ini. Ibunya lebih heran lagi ketika melihat bahwa semua uang hasil penjualan sawah satu satu hektar bagiannya, ternyata seluruhnya dibelikan kitab.

Saking herannya ibunya bahkan sempat mengatakan, ”Makan tuh kitab.” Walhasil Kiai Dim pun segera meninggalkan rumahnya untuk mondok ke Pesantren Termas, di Pacitan. Karena seluruh uangnya telah dibelikan kitab, maka ia hanya dibekali oleh ibunya dengan sekarung cengkaruk/karak campur jagung. Bahan makanan ini berupa bahan yang menunjukkan betapa sebenarnya keluarga Kiai Dim di Banyuwangi juga sama-sama susah akibat penjajahan Belanda.

Namun rupanya dengan bekal hanya sekarung cengkaruk ini, Kiai Dim mampu bertahan hingga tiga tahun di Pesantren Termas. Rupanya ia bertahan di Termas dengan cara bekerja ke sawah untuk mencukupi kebutuhannya selama mondok. Selama mondok Kiai Dim memang terkenal sebagai santri yang tekun, konon ia adalah santri kesayangan sang pengasuh Pesantren Termas.

Pada saat itu Pondok Pesantren Termas berada di bawah bimbingan KH. Hafidz Dimyati. Karena saking sayangnya, di sinilah nama Muhibbut Thobari berganti namanya menjadi Dimyati, nama yang digunakannya hingga akhir hayatnya.

Dalam pandangan Kiai Dim, para santri sah-sah saja bekerja selama menimba ilmu di pesantren, karena justru akan membantu mereka untuk mandiri sejak dini dan tidak membebani orang tua di rumah.

Pesantren dapat menyediakan lahan yang digunakan oleh para santri untuk bercocok tanam atau membuka usaha, asalkan tidak mengesampingkan tugas utamanya, yaitu belajar ilmu agama. Dengan demikian para santri dapat menopang sendiri hidupnya, sehingga tidak perlu dikirim oleh orangtua dari rumah.

Begitulah yang dijalaninya selama mengaji di tiga pesantren, yakni Pesantren Termas Pacitan, Pesantren Cemoro di bawah asuhan KH. Abdullah Fakih dan Pesantren Idham Sari, Genteng di bawah bimbingan KH. Abdullah Syuja’. Kedua pesantren yang terakhir berada di wilayah Banyuwangi sendiri. Maka demikian pun ia mempraktekkan ilmunya ketika telah mengasuh pesantren. 

Menjadi Komandan Hizbullah Blambangan

Kiai Dim menjadi komandan Hizbullah pertama di Blambangan Selatan Pada zaman-zaman perjuangan merebut kemerdekaan, banyak sekali korban yang harus dipertaruhkan oleh bangsa Indonesia. Tak terhitung lagi korban yang telah dipersembahkan demi sebuah kemerdekaan. Bukan sekedar harta dan nyawa, namun juga perasaan terhinakan karena terus dikejar-kejar dan terusir dari kampung halaman.

Namun tentu saja banyak sekali para pahlawan yang justru memanfaatkannya untuk berjuang di dua ranah, yakni perjuangan fisik dengan mengangkat senjata dan perjuangan dakwah dengan mendidik generasi penerus bangsa. Salah satu di antara sekian banyak para pahlawan bangsa yang berjuang di dalam dua medan perjuangan sekaligus ini adalah KH. Dimyati Banyuwangi.

Pengabdian Terhadap Nahdlatul Ulama (NU)

Seorang ulama kharismatik yang telah memiliki banyak jasa bagi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Kiai Dim adalah salah satu di antara para ulama Nahdlatul Ulama dengan andil besar dalam perjuangan fisik yang berpuncak pada meletusnya Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama. Salah satu bentuk sumbangsih nyata bagi perjuangan fisik merebut kemerdekaan adalah fatwa Beliau yang berbunyi, “seluruh santri santri di daerah Banyuwangi selatan (kawasan Blambangan lama) wajib masuk Hizbullah.”

Fatwa ini memiliki konsekwensi yang cukup besar bagi santri-santri di kawasan Banyuwangi selatan. Dengan adanya fatwa ini, para santri memiliki tugas ganda. Pada malam hari mereka harus mengendap-endap untuk menyerang pos-pos keamanan tentara Belanda dan Jepang. Sementara pagi harinya mereka kembali memeluk kitab-kitab yang berisi ajaran-ajaran agama. Walhasil sebenarnya mereka belajar di atas timbunan amunisi dan mesiu hasil rampasan dari tentara penjajah.

Memang secara struktural, KH. Dim adalah Komandan Hizbullah (laskar pejuang yang berafiliasi ke NU) untuk wilayah Blambangan selatan. Kegiatan ganda semacam ini di jalani oleh Kiai Dim bersama dengan santri-santrinya di Pondok Pesantren Nahdlatut Thullab. Bukan tanpa resiko, selain menantang bahaya pada malam hari, mereka juga selalu diintai bahaya pada keesokan hari ketika mereka sedang mengaji.

Banyaknya intel penjajah yang berkeliaran membuat keselamatan mereka selalu dipertaruhkan setiap saat. Selain mengasuh Pondok Pesantren Nahdlatut Thullab, KH Dimyati juga dipercaya sebagai Rois Suriyah I Nahdlatul Ulama cabang Blambangan (saat itu Banyuwangi selatan). Sementara pada waktu tersebut Pengurus Tanfidiyah dipercayakan kepada K Syuja’i. Keduanya, bersama para ulama lain, bahu membahu memimpin penduduk di sana untuk melawan penjajahan.

Baik secara fisik maupun melawan terhadap segala dampak buruk penindasan Belanda dan Jepang, termasuk kebudayaan negatif yang dibawa oleh setiap pemerintah penjajah. Keadaan ini berlangsung terus hingga masa-masa setelah kemerdekaan. Dalam mempertahankan kemerdekaan, para santri terus melakukan penyerangan-penyerangan terhadap pos-pos tentara Belanda pada malam hari.

Maka benar saja, lama kelamaan perlawanan mereka pun tercium oleh Belanda. Sehingga pondok pesantren yang dipimpinnya pun digerebek oleh tentara Belanda. Seluruh bangunan dibakar, termasuk bangunan pesantren dan tempat tingaal Kiai Dim diratakan dengan tanah oleh Belanda. Seluruh kitab-kitab Beliau sebanyak dua lemari besar pun habis di makan api.

Karena di bawah bangunan pesantren banyak tertanam amunisi dan mesiu hasil rampasan para santri ketika bergerilya malam hari, maka akibat pembakaran semakin menjadi-jadi. Mesiu-mesiu ini mengakibatkkan api yang melalap gedung pesantren semakin menyala menjadi-jadi dan menimbulkan ledakan-ledakan hebat.

Meski para santri telah diperintahkan menyingkir dan berpencar, salah seorang santri bernama Muhammad Fadlan tertembak dan gugur pada penyerangan Belanda tersebut. Muhammad Fadlan kemudian dikuburkan sebagai syuhada dan dipindahkan ke Makam Pahlawan Banyuwangi pada tahun 1962.

Sementara KH Dimyati ditangkap oleh Belanda dan ditahan selama 27 bulan hingga pertengahan tahun 1949. Komandan Hizbullah Blambangan selatan ini sebenarnya sudah hampir dieksekusi oleh Belanda. Namun menurut beberapa cerita, ketika menjelang hari-hari eksekusi, dokumen-dokumen pidananya oleh Belanda ternyata hilang dan tidak pernah ditemukan lagi. Sehingga eksekusi tidak pernah benar-benar dilaksanakan, sampai waktunya ia dibebaskan karena kekalahan-kelahan Belanda di Indonesia.

Mendirikan Pesantren

Setelah keluar dari tahanan Belanda dan bangsa Indonesia kembali menata kehidupannya dengan merdeka, maka Kiai Dim kembali membangun pesantrennya. Pada tahun 1950 Kiai Dim mengumpulkan para tokoh agama di wilayah Banyuwangi selatan, dan pada tahun 1951 beliau secara resmi mengasuh Pesantren Nahdlatut Thullab kembali.

Pada tahun 1957 Beliau dan keluarganya mendirikan Yayasan Nahdlatut Thullab. Beberapa saudara-saudara dan relasi keluarga Kiai Dim kemudian mengajukan permohonan kepada Presiden Soekarno di Jakarta. Rupanya pengajuan ini berhasil dan mendapatkan dana yang cukup untuk membangun kembali kompleks pesantren yang telah dibumihanguskan Belanda tersebut.

Dana dari Presiden Soekarno ini rupanya diirit-irit oleh panitia pembangunan, sehingga memiliki sisa yang cukup untuk dibelikan sawah seluas 5 hektare yang kemudian dikelola oleh para santri untuk menunjang kehidupan mereka selama mondok di Pesantren Nahdlatut Thullab. Metode penggarapan sawah oleh santri ini merupakan perluasan manfaat yang didapatkan oleh KH.  Dimyati dari pengalamannya selama Beliau menuntut ilmu di berbagai pesantren di Jawa Timur. Menurut ceritanya, dahulu sewaktu

Para santri di Nahdlatut Thullab tidak harus membawa bekal atau dibekali oleh orang tuanya dari rumah. Asalkan santrinya bekerja keras tentu dapat menopang kehidupan dan membiayai pendidikannya selama di pesantren. Karenanya, dana pembangunan pesantren yang dari Presiden Soekarno disisakan untuk membeli lahan, agar para santri tidak membebani orang tua masing-masing.

Kenyataan ini adalah yang sebenarnya, karena entah kebetulan atau tidak, jumlah santrinya tidak pernah lebih dari kapasitas lahan yang tersedia untuk menopang kehidupan dan kebutuhan belajar mereka. Sehingga KH Dimyati dapat benar-benar mendidik mereka dengan seksama, termasuk ketika harus membina mereka sebagai laskar Hizbullah pada kegelapan malam. Mengendap-endap dan menyergap musuh, untuk merangkul kitab kuning pagi harinya di pesantren.

Metode Pendidikan Pesantren KH. Dimyathi

Dalam metode pendidikan di pesantrennya, KH. Dimyathi lebih mengandalkan metode sorogan. Metode ini menjadikan santri-santrinya menyimak dengan seksama. Karena sorogan yang dipakai oleh KH. Dimyathi adalah "sorogan tak langsung”. Artinya para santri mengulangi membaca kitab yang telah dibaca oleh sang kiai beberapa hari sebelumnya.

Jadi para santri secara otomatis akan mendengarkan dengan seksama ketika sang kiai sedang membacakan, karena mereka harus mengulanginya secara lengkap.

Selain itu, cara lain yang digunakan oleh KH. Dimyathi di pesantrennya adalah metode bandongan. Dalam mekanisme bandongan sang kiai bebas menerangkan agar para santri mengerti maksud-maksud tersirat dari teks-teks kitab yang sedang dipelajari.

Cara ini lazim digunakan di madrasah-madrasah Blambangan selatan sebagaimana juga pesantren-pesantren Nusantara lainnya. Selama mengasuh pesantren, selain terlibat dalam perjuangan fisik secara langsung di malam hari.

Keistimewaan KH. Dimyathi

KH. Musthofa Bisri menceritakan pertemuannya dengan Kiai Hambali Pemalang, ada cerita yang sungguh luar biasa, misalnya Kiaia Hambali cerita saat mondok ke pesantren tua Termas dan bertemu Allah yarham Kiai Dim. Dalam bahasa Pekalongan yang medok, beliau menceritakan waktu pertama kali datang di Termas ditanya Kiai Dim, "Naik apa dari Pemalang?" beliau menjawab, "Jalan kaki." | "Berapa lama?" | "16 hari" | "Ah, masih lama aku," kata Kiai Dimyathi; "Ketika aku mencari ilmu ke Uzbekistan, jalan kaki sampai 2 tahun" .

Kiai Dim mondok Termas mulai tahun 1912 hingga tahun 1922. Kemudian ke Mataram, Lombok Barat dengan berjalan kaki 26 hari. Ngaji ke Kiai Hasan Hariri. Beliau juga cerita tentang Kiai Abdul Manan bin Kiai Dzulkifli Weleri yang merobohkan pohon dengan diameter 5 meter dari alas Roban dan memotongnya 4 bagian.

Dua di antaranya diperuntukkan Kiai Dimyathi, untuk soko guru mesjid Termas dan Kiai Saleh Darat, dibuat bedug. Beliau sempat mengritik kiai-kiai yang ikutan menjadi tim sukses di pemilihan umum, pilpres maupun pilkada; tentang adanya 'haji hadiah' dari pemerintah; sampai dengan bicara soal kekayaan Indonesia, termasuk produksi emas Freeport, yang kemanfaatannya tidak kembali kepada rakyat."

Karya-Karya

KH. Dimyathi membuat karangan tentang akhlak (karakter) yang semestinya dimiliki oleh para remaja Islam. Karangan ini berbentuk nadzam (semacam pantun dalam bahasa Arab), yang menggunakan susunan rima ab ab.

Nadzam karangan KH. Dimyathi ini berjudul Muidzotus Syibyan (Nasehat untuk para Remaja). Pesantren Nahdlatut Thullab sendiri sangat mengutamakan penguasaan ilmu alat, nahwu dan shorof.

Meski tentu saja kitab-kitab tafsir juga menjadi kajian utama para santrinya. Menurut beberapa santri yang sempat menimba ilmu kapada KH. Dimyathi, kehebatan Pesantren Nahdlatut Thullab adalah dalam pengembangan aqoid 50-nya. Melalui pembinaan Aqoid 50 ini para santri yang telah boyongan dapat memberikan solusi untuk masalah-masalah ketuhanan kepada masyarakat di daerah alumni itu sendiri.

Beberapa santri bahkan menyatakan ilmu-ilmu tersebut dapat mereka kuasai secara ”laduni”. Artinya, dulu ketika diajar langsung terkadang mereka tidak memahami pelajaran saat itu juga, namun setelah keluar dan mengabdi untuk masyarakat, mereka tiba-tiba teringat dan mengerti maksud penjelasan KH. Dimyathi sewaktu di pesantren dahulu.

Metodenya pembelajaran KH. Dimyathi sebenarnya sangat sederhana sekali. Namun karena keyakinan tinggi dari para santrinya, maka mereka mendapatkan semacam pencerahan. Hal pertama yang ditancapkan kepada para santri adalah Al-Qur’an. Para santri diwajibkan senantiasa mendawamkan membaca Al-Qur’an di sepanjang hari, di setiap aktifitas mereka.

Kemudian barulah didoktrin dengan Aqoid 50 dan baru belajar nahwu shorof serta ilmu-ilmu lainnya. Hal penting lain yang diajarkan KH Dimyati adalah pendidikan bilhal/bifi’li. Yakni pendidikan praktek langsung, bukan hanya teori. KH Dimyati terkenal suka mengajak para santrinya untuk bersilaturrahim. Hal ini adalah salah satu aspek pendidikan yang terus tertanam di hati para santrinya sepanjang hidup mereka.

Beberapa santri bahkan menyatakan, sifat kewiraan KH. Dimyathi banyak menitis/menurun kepada anak didiknya. Mereka sering didatangi oleh KH. Dimyathi jika malakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran KH Dimyati. Jika mereka mengalami hambatan atau kendala dalam kehidupan, kemudian bertawassul kepada KH. Dimyathi, maka biasanya mereka kemudian segera menemukan solusi dari permasalahan mereka.

“Semasa masih di pondok, para santri seakan tidak merasakan keistimewaan menimba ilmu kepada KH Dimyati, namun setelah mereka kembali pulang ke daerahnya masing-masing, barulah mereka mengerti keistimewaan tinggal di pondok ini. Kebanyakan para santri baru menyadari manfaat menimba ilmu pesantren Nahdlatut Thullab, Kaliogoro Kepundungan Srono Banyuwangi, ini setelah berdakwah di rumah,” demikian diungkapkan KH Syaifullah Ali Subagiono, Pengasuh Pondok Pesantren al-Hikmah, Ketapang Banyuwangi.