Kisah Perjuangan KH. Ahmad Basyir Jekulo Kudus Jawa Tengah

Kisah Perjuangan KH. Ahmad Basyir Jekulo Kudus Jawa Tengah

LADUNI.ID, Kudus - Kabupaten Kudus adalah sebuah kabupaten di provinsi Jawa Tengah. Ibu kota kabupaten ini adalah Kota Kudus, terletak di jalur pantai timur laut Jawa Tengah antara Kota Semarang dan Kota Surabaya. Kota ini berjarak 51 kilometer dari timur Kota Semarang.

Kabupaten Kudus berbatasan dengan Kabupaten Pati di timur, Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Demak di selatan, serta Kabupaten Jepara di barat. Kudus dikenal sebagai kota penghasil rokok (kretek) terbesar di Jawa Tengah dan juga dikenal sebagai kota santri. Kota ini adalah pusat perkembangan agama Islam pada abad pertengahan. Hal ini dapat dilihat dari adanya tiga makam wali/sunan, yaitu Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Kedu.

Kudus, kabupaten yang memiliki semboyan 'Kudus Semarak' (Sehat, Elok, Maju, Aman, Rapi, Asri, Konstitusional) juga dikenal dengan kota Santri. Pasalnya, Kudus menjadi simpul keilmuan para santri baik dari dalam, maupun luar daerah. Tak ubahnya, Kudus juga menjadi surga bagi penuntut ilmu.

Maka tak heran, jika Kudus menjadi gudang ulama’ khos. Banyak ulama’ di Kudus yang menjadi simpul peraduan masyarakat. Salah satu diantaranya adalah ulama alim KH. Ahmad Basyir atau dikenal dengan Kiai Basyir Jekulo.

Menurut catatan yang dihimpun laduni.id Kiai Basyir dilahirkan pada tanggal 30 November 1924 M. Beliau dilahirkan dari pasangan Kiai Muhammad Mubin dan Nyai Dasireh.

Pendidikan Kiai Basyir

Saat usia kanak-kanak, Kiai Basyir mengenyam pendidikan formal di Veer Folex Schooll (sekarang SD) dan menamatkan jenjang kelas V. Pada saat itu belum ada jenjang kelas VI. Sekolah tempat Kiai Basyir mengenyam pendidikan formal itu sekarang menjadi SD Negeri 1 Jekulo.

Selama mengenyam pendidikan, beliau acapkali menjadi juara kelas. Karena prestasinya yang begitu gemilang, beliau pernah ditawari untuk diambil anak oleh gurunya di sekolah itu. Tujuannya akan dididik untuk jadi guru di sekolah.

Setelah tamat pendidikan di Veer FolexSchooll, beliau melanjutkan pendidikan non formal di madrasah Diniyyah yang sekarang bernama Tarbiyatus Sibyan. Di madrasah ini beliau dididik oleh para Kiai sepuh, diantaranya adalah KH.Dahlan.

Selain belajar di madrasah Diniyyah, beliau juga mengaji kepada KH. Mansyur Kaelani, KH. Yasin, Kiai Hudlori dan KH. Zainuddin. Dalam bidang ilmu Al-Qur'an masa muda beliau berguru kepada Kyai Muhammad Mubin (ayahnya sendiri) dan Kyai Mukhib, dan pentashihan Al-Qur’an kepada KH. Mansyur Jekulo.

Selain rasa haus beliau terhadap ilmu, ketika masa remaja, beliau juga mulai gemar berziarah kemakam-makam para wali, seperti Sunan Kudus, Sunan Muria, makam mbah Ahmad Mutamakkin Kajen. Juga gemar ziarah ke makam para wali di Jekulo, diantaranya, Mbah Abdul Jalil, Mbah Abdul Qohhar, Mbah Sewonegoro, Mbah Sanusi, Mbah Yasin, Mbah Ahmad, Mbah Rifa’i dan Mbah Suryo Kusumo (Mejobo), yang tidak pernah beliau tinggalkan hingga akhir hayatnya. Itu adalah perwujudan rasa ta’dzim beliau kepada para Masyayekh dan Auliya’.

Termasuk tradisi beliau saat masih mudanya, silaturrahim kepada para Ulama, seperti KH. Hamid Pasuruan. Beliau juga sering mengikuti khataman Al Qur’an bersama Mbah Arwani Kudus, baik di Kudus maupun di luar daerah.

Sebelum betul-betul menetap dalam menimba ilmu di Pondok Pesantren (PP) Bareng 1923 (sekarang PP. Al Qaumaniyah). Beliau pada tahun 1940 M sempat nyantri dan menghatamkan Alfiyah di PP. Kenepan Langgar Dalem Kudus, waktu itu beliau berguru dengan KH. Ma’mun Ahmad, mengkhatamkan Al Qur’an kepada KH. Arwani Amin serta berguru kepada para Masyayekh di sekitar Kudus, diantaranya adalah KH. Irsyad dan KH. Khandiq, kakak dari KH. Turaichan Adjhuri Kudus.

Aktivitas dan Masa Pengabdian di Masyarakat

Saat usia remaja, Kiai basyir sering mengikuti Romonya (bapaknya) mengajar di Pesantren. Oleh ibunya Nyai Dasireh, Kiai Basyir kecil juga sering diajak sowan kepada Mbah Yasin. Pada saat itulah beliau diwejangi oleh Mbah Yasin agar beliau mengurungkan niatnya menjadi guru sekolah.

Beliau diajak oleh mbah Yasin agar nyantri pada mbah beliau. Mbah Yasin itulah yang mengukir jiwa Kiai Basyir. Mulai saat itu, Kiak Basyir mengabdi pada mbah Yasin mulai dari abdi dalem hingga jadi qori’, menjadi badal (Pengganti) mbah Yasin mengajar para santri. Sejak saat itu, terkenal tiga serangkai ulama’ yang termasyhur. Yakni Kyai Muhammad, putra mbah Yasin, Kyai Hanafi menantunya, dan Kiai Basyir sebagai lurah pondoknya. Seiring waktu, selain nyantri pada mbah Yasin, beliau juga menimba ilmu pada KH. Muhammadun Pondohan Tayu.

Dalam pengembaraannya untuk tolabul ilmi pada tahun 1949 M, beliau kembali ke daerah Jekulo dan kembali nyantri di PP Bareng Jekulo asuhan KH Yasin atau Mbah Yasin. Sembari menimba ilmu, beliau mengabdi kepada Mbah Yasin. Semua urusan Mbah Yasin beliau yang menangani.

Bahkan, konon beliau juga dipercayakan masalah urusan finansial. Suatu ketika Mbah Yasin menderita penyakit bawasir. Dalam kondisi ini, Kiai Basyir selalu ada untuk merawat Mbah Yasin. Beliau, Kiai Basyir mendapatkan banyak pelajaran berharga dari pengabdiannya pada Mbah Yasin.

Selain pengabdian, Beliau juga ngaji riwayah dan dirayah. Sembari mengaji dan mengabdi, beliau melakukan riyadhah puasa tahunan, ijazah dari Mbah Yasin. Adab beliau pada sang guru begitu luar biasa.

Menurut putra Kiai Basyir, KH Ahmad Badawi juga menyebutkan, Kiai Basyir selalu merampungkan riyadah puasa. "Beliau tidak berani meminta khizib ini atau itu. Beliau matur kepada simbah Yasin,” kulo sampun ba’do siyam”, tidak “nyuwun niki niku”
“Ini rasa ta’dzim kepada guru” inilah cara orang dahulu dalam ta’dzim kepada guru, bagaimana mereka merasakan ilmunya,” ungkap kiai Ahmad Badawi.

KH basyir menghabiskan masa mudanya sebagai santri, abdi kiai, hari beliau dipenuhi dengan rutinitas belajar, pekerjaan keseharian dan puasa. Rutin dengan riyadloh selama puluhan tahun. Pada tahun 1958 M oleh Mbah Yasin beliau diserahi ijazah dalail khoiroit beserta khizib-khizibnya.

Masa Perjuangan Kiai Basyir

Semasa mudanya sekitar tahun 1944-1945 M, beliau bergabung dalam BPRI (Badan Perjuangan Republic Indonesia) sebuah organisasi pemuda yang gigih memperjuangkan kemerdekaan RI saat itu.

BPRI dipimpin karmain dan mulyadi Jekulo. Sebelum masuk BPRI, beliau juga masuk organisasi GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia).

Beliau adalah pelaku sejarah masa perjuangan kemerdekaan saat itu. Kiai Basyir yang saat itu menjabat lurah pondok. Setiap ada pejuang yang ditahan di Rendenga, langsung bergegas mengupayakan sesuatu untuk membebaskannya.

Kiai Basyir Mendirikan Pondok Pesantren

Pada tahun 1969 M bersama dengan kiai lain, beliau mendirikan madrasah diniyah Nurul Ulum Jekulo Kudus. Nama Nurul Ulum merupakan pemberian KH. Cholil. Madrasah tersebut dipimpin kiai Khalimi dengan guru-gurunya adalah KH Cholil, KH. Khalimi, Kiai Mahin dan Kiai Basyir sendiri.

Tahun 1970 M beliau mendirikan pesantren Darul Falah yang bertempat disebelah utara Masjid Kauman Jekulo. Cikal bakal pesantren ini merupakan wakaf dari H. Basyir. Ia memberikan wakaf bangunan kuno kepada Kiai Basyir. Kemudian bangunan itu dijadikan PP yang diberi nama Darul Falah, tepatnya pada tanggal 1 januari 1970 M.

Kiai Basyir Berkeluarga, Suri Tauladan Didepan Putra-putri nya dan Masyarakat

KH. Ahmad Basyir menikah dengan Hj. Sholikhah binti KH. Abdul Ghoni yang lahir di Desa Hadiwarno Mejobo Kudus pada tanggal 31 desember 1946 M.

Atas pernikahan Kiai Basyir dengan Nyai Hj. Sholihah ini dikaruniai sembilan anak.
Dimata keluarga, Kiai Basyir adalah sosok ayah yang penyayang. Beliau selalu memberi teladan kepada keluaganya.

Keuletan dan kesabaran beliau menjadi inspirasi bagi putra putrinya. Sosok Kiai Basyir di tengah keluarga tidak sekedar kepala rumah tangga, tetapi juga sosok idola yang menjadi inspirasi teladan putra-putrinya.

Kiai Basyir adalah sosok ayah yang bertanggung jawab, penuh dedikasi dan berfikir progresif. Perjuangan beliau untuk keluarga tak pernah letih, apalagi putus asa. Tidak sedikit perjuangan beliau untuk anak anaknya.

Pada saat itu, konon tidak ada tradisi sekolah. Sekolah formal di mata masyarakat Bareng adalah tabu. Kendati demikian, Kiai Basyir meminta anaknya sekolah. Setiap pagi beliau menggayuh sepeda hingga Kudus Kulon untuk mengantarkan putrinya sekolah. Saat itu beliau menyekolahkan putrinya dimadrasah Mualimat. Di mata masyarakat Kiai Basyir juga dilihat sebagai sosok yang moderat dan menjadi pembaharu.

Menghadapi masyarakat, beliau tampil khas dan kharismatik. Kedatangan tamu yang beragam latar belakang dari berbagai penjuru, dengan karakter masing masing.

Juga masyarakat yang datang dengan membawa masalah yang kompleks, beliau menghadapinya dengan santun dan hormat tanpa membedakan. Beliau dikenal orang yang tidak pemarah. Dikerutan wajahnya yang bersinar itu, beliau selalu tersenyum segar. Senyum itu menjadi siraman rohani bagi orang yang beliau temui.

Putra beliau, Kiai Badawi juga mengungkapkan kedermawanan. Menurut Kiai Badawi, Kiai Basyir di mata santri dan masyarakat merupakan sosok yang dermawan. Komitmen beliau jangan sampai santri rekoso dalam belajar. Beliau menangisi (memperjuangkan) anak dan santri (sungguh) luar biasa.

Kiai Basyir memegang falsafah ilmu itu harus diamalkan walau hanya satu kali, kalau ingin manfaat.

Kiai Basyir, sosok kiai yang teladan yang patut di contoh. Beliau adalah seorang ulama yang mentradisikan riyadhoh (laku prihatin) sejak mudanya. Tradisi itu masih beliau pegangi hingga usia 88 tahun.

Keseharian beliau dihabiskan untuk beribadah, berjama'ah, ngucal kitab kuning, ziarah, menyuguh tamu serta selebihnya untuk keluarga dan masyarakat.

Saat malam hari sehabis mendidik santri beliau istirahat sesaat. Disaat orang tertidur lelap, beliau dipastikan bangun ba’da nisfu lail (tengah malam) beliau melakukan rutinitas. Kiai Basyir wirid, sholat malam dan ibadah lainnya hingga waktu subuh tiba.

Sehabis menjadi imam jamaah sholat subuh di Masjid Baitussalam, rutinitas beliau adalah berziarah ke makam masyayekh dan auliya' sebagai guru beliau, yang sampai saat itu tidak pernah beliau tinggalkan. Itu adalah bentuk ta’dzim beliau tehadap para ulama yang telah mewariskan ilmu kepada beliau. Pada masa muda beliau terbiasa dengan puasa 'Dalail Khairat' dan riyadhah lainnya, sampai akhirnya beliau diutus menjadi mujiz Dalail Khairat.

Enome riyalat, tuwo nemu derajat, riyalat kuwi jiret weteng nyengkal moto demikian beliau memberi penyegaran rohani kepada para santri yang hendak mengamalkan tradisi riyadhah. Baik puasa dalail maupun riyadhah lainnya.

Menurut KH. Jazuli mengungkapkan, kalimat itu diartikan sebagai bentuk usaha yang sungguh ketika masih muda baik dalam menuntut ilmu dan riyadah, ketika sampai waktunya orang tersebut akan mendapat kesuksesan baik dunia maupun akhirat.

Rasa ta’dzim yang beliau agungkan saat itu juga merupakan suri teladan yang niscaya diteladani. "Beliau tradisikan hingga saat ini adalah berziarah ke makam para auliya di lingkungan Jekulo, yang merupakan guru guru beliau. Disinilah simpul hubungan guru dan murid yang tak pernah putus, terus berkesinambungan," tutur Kiai Jazuli.

Banyak hal yang dapat diteladani dari beliau, mulai dari kegigihan menuntut ilmu, kreatifitas hidup, perjuangan hingga akhlaqul karimah yang menjadi tempat para santri dan masyarakat berkiblat.

Artikel ini menerima pembaruan bila ada penambahan, kekurangan atau yang tidak sesuai dengan sejarah KH Ahmad Basyir Jekulo. (*)