Asbabun Nuzul Surat Fussilat Ayat 22

Ayat ini turun berkenaan dua orang dari suku Quraisy dan satu orang dari Bani s\aqif yang berdiskusi di Baitullah tentang pendengaran Allah.

  1. عَبْدِ اللَّهِ رضى الله عنه قَالَ: اجْتَمَعَ عِنْدَ الْبَيْتِ ثَقَفِيَّانِ وَقُرَشِيٌّ، أَوْ قُرَشِيَّانِ وَثَقَفِيٌّ، كَثِيرَةٌ شَحْمُ بُطُونِهِمْ قَلِيلَةٌ فِقْهُ قُلُوبِهِمْ. فَقَالَ أَحَدُهُمْ: أَتَرَوْنَ أَنَّ اللَّهَ يَسْمَعُ مَا نَقُولُ؟ قَالَ الآخَرُ: يَسْمَعُ إِنْ جَهَرْنَا وَلاَ يَسْمَعُ إِنْ أَخْفَيْنَا. وَقَالَ الآخَرُ: إِنْ كَانَ يَسْمَعُ إِذَا جَهَرْنَا فَإِنَّهُ يَسْمَعُ إِذَا أَخْفَيْنَا‏.‏ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى ‏(‏وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلاَ أَبْصَارُكُمْ وَلاَ جُلُودُكُمْ‏)‏ الآيَةَ‏.‏ (1)

    Abdulla>h bin Mas‘u>d berkata, “Ada tiga orang, dua di antaranya dari suku Quraisy dan yang lainnya dari Bani S|aqif, atau sebaliknya—perawi ragu. Pemahaman agama mereka masih dangkal dan perut mereka tampak buncit penuh lemak. Seorang dari mereka membuka percakapan dengan mengajukan pertanyaan, ‘Menurut kalian, mampukah Allah mendengar percakapan kita?’ Temannya menjawab, ‘Dia mampu mendengar bila kita bercakap-cakap dengan suara lantang, dan tidak mampu bila sebaliknya.’ ‘Andaikata Dia mampu mendengar saat kita bercakap-cakap dengan suara lantang, tentu saja Dia mampu mendengar saat kita bercakap-cakap dengan suara lirih,’ sergah pria satunya lagi. Allah lalu menurunkan firman-Nya, wama> kuntum tastatiru>na an yasyhada ‘alaikum sam‘ukum wala> abs}a>rukum wala> julu>dukum … hingga akhir ayat.”

    Sumber artikel:
    Buku Asbabul Nuzul: Kronologi dan Sebab Turun Wahyu Al-Qur'an
    Buku disusun oleh Muchlis M. Hanafi (ed.)
    Buku diterbitkan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, Badan Litbang dan Diklat, Kementerian Agama RI, 2017


    (1) Diriwayatkan oleh al-Bukhariy dan Muslim. Lihat: al-Bukhariy, S{ah}i>h}} al-Bukha>riy, dalam Kita>b at-Tafsi>r, Ba>b wa ma> Kuntum Tastatiru>n, hlm. 1858–1859, hadis nomor 7521; Muslim, S{ah}i>h}} Muslim, dalam Kita>b h}ifa>t al-Muna>fiqi>n wa Ah}ka>mihim, hlm. 2141, hadis nomor 2775.