Biografi KH. Badrus Salam

 
Biografi KH. Badrus Salam

Daftar Isi Profil KH. Badrus Salam

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mengajar di Madrasah Muallimin
  6. Murid-Murid
  7. Melawan Penjajah
  8. Teladan

Kelahiran

KH. Badrus Salam lahir di Desa Tempursari, Kecamatan Klaten, Solo Jateng, pada Tahun 1906.

Wafat

KH. Badrus Salam wafat pada hari Sabtu Pahing 2 Februari 1974, bertepatan pada 9 Muharram 1394 H pukul 04.40 WIB di RSU Saiful Anwar Malang, karena sakit tekanan darah tinggi, dan Jenazah beliau dimakamkan di Pemakaman Umum Kasin, Malang.  Pondok Pesantren Jamsaren, Solo.

Keluarga

KH. Badrus Salam melepas masa lajang dengan menikah Hj. Tursina, adik kandung H. Dardiri (ayahanda H. Hudan Dardiri, mantan Bupati Jombang, dan H. Gatot Muhdil Islam Dardiri, Bendahara Masjid Agung Jami' Malang). Dari pernikahan tersebut, beliau dikaruniai tujuh putra, diantaranya, Muhyil Islam, Muawinah Syariah, Muflihul Anam, Mujahiratul Aliyah, Mubasyiratul Sholihah, Suciati Nadifatul Qolbi, dan Mudakkir Ummah.

Dalam mendidik putra-putrinya, Kiai Badrus itu sangat demokratis dan anak-anaknya selalu ditekankan untuk mendalami ilmu agama sebelum mempelajari ilmu umum.

Pendidikan

Sejak kecil KH. Badrus Salam lebih banyak diasuh oleh H. Muhsin, ayahnya, dan kemudian nyantri di Pondok Pesantren Jamsaren, Solo. Selama di Pondok ini, beliau mengabdikan dirinya hingga menjadi pengurus.

Mengajar di Madrasah Muallimin

KH. Badrus Salam bersama beberapa kiai lainnya, seperti KH. Syukri Ghozali dan KH. Damanhuri diajak oleh KH. Nahrowi Thohir untuk ikut mengajar di Madrasah Muallimin, Jagalan yang didirikan pada tahun 1924.

Selain mengajar di madrasah, Kiai Badrus juga mengajar ngaji di beberapa masjid, termasuk di Masjid Agung Jami' Malang, dengan mengajarkan al-Qur'an dan tafsir, serta menjadi imam rowatib.

Pada tahun 1961, beliau bersama KH. Abdullah Sattar menjadi Pengurus pada bagian Hukum dan Ibadah di Masjid Agung Jami' Malang.

Berkat kealiman beliau dan kepintaran beliau dibidang fiqih dan tasawuf, beliau dijadikan sebagai Syuriyah NU Cabang Malang.

Murid-Murid

Diantara murid-murid beliau adalah :

  1. Brigjen (Pur) H Sulam Samsun, mantan Pengurus PBNU
  2. Hj Siamah
  3. Hj Muthomimah
  4. Hj Chusnul Chotimah (mereka bertiga menjabat Pengurus Cabang Muslimat NU Kota Malang)
  5. Hj Habibah
  6. H Thoha Mashudi (mantan anggota DPRD Kota Malang)

Melawan Penjajah

KH. Badrus Salam merupakan sosok orang patuh terhadap gurunya, termasuk pada waktu itu, guru beliau memerintahkan untuk melawan politik penjajahan Belanda.

Misalnya, sekitar tahun 1918-1925 ketika terjadinya perang Diponegoro para Kiai se Jawa memberi fatwa agar orang pribumi harus membentengi diri dari pengaruh politik Belanda, bahkan, para kiai mengharamkan segala sesuatu yang berbau Belanda, seperti memakai celana, sepatu, berdasi, makan menggunakan sendok dan garpu, termasuk sekolah umum.

Dengan adanya perintah tersebut, dengan sergap langsung dijalankan dan taat oleh KH. Badrus Salam.

Teladan

Menurut Drs. HM. Kamilun Muhtadin, Ketua I Takmir Masjid Agung Jami' Malang, teladan yang bisa diikuti dari KH. Badrus Salam adalah ketulusan, kehalusan budi beliau, dan menjadi pribadi yang qona'ah dan ikhlas, tidak pernah pilih-pilih, siapa yang membutuhkannya atau mengundang akan sangat diperhatikan, serta menjadi pribadi yang segala aktivitas hidup itu harus diniati untuk beribadah, tanpa pamrih atau mengharapkan sesuatu dari manusia.