Biografi Syekh Quthb ad-Din asy-Syirazi

 
Biografi Syekh Quthb ad-Din asy-Syirazi

Daftar Isi Profil Syekh Quthb ad-Din asy-Syirazi

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Karya

Kelahiran

Syekh Quthb ad-Din asy-Syirazi bernama lengkap Quthbuddin Mahmud as-Syirazi. Beliau adalah pakar astronom dan kedokteran muslim. Ia lahir di Kazerun, daerah Syiraz, selatan Iran pada 6 Safar 634 Hijriyah/7 Oktober 1236 Masehi dari keluarga dengan tradisi tasawwuf. 

Wafat

Syekh Quthb ad-Din asy-Syirazi wafat pada 710 H/1311 M.

Lingkungan Keluarga Tasawwuf

Syekh Quthb ad-Din asy-Syirazi adalah putra Zia al-Din Mas’ud Kazeruni seorang dokter dan juga pemimpin Sufi dari golongan Kazeruni. Zia al-Din menerima Khirqanya (jubah Sufi) dari Omar Shahab al-Din Suhrawardi. Syekh Quthb ad-Din yang berpakaian Khirqa (jubah Sufi) sebagai berkah dari ayahnya pada usia sepuluh tahun. Kemudian, ia juga menerima jubahnya sendiri dari tangan Najib al-Din Bozgush Shirazni, Sufi terkenal di zamannya.

Pendidikan

Syekh Quthb ad-Din mulai belajar kedokteran di bawah asuhan ayahnya. Ayahnya melatih dan mengajar kedokteran di rumah sakit Mozaffari di Shiraz. Saat Syekh Quthb ad-Din berusia 14 tahun, ayahnya meninggal dunia, sehingga pamannya dan master lainnya melatihnya ilmu kedokteran. Ia juga mempelajari Qanun yang dikenal karena komentar-komentar sarjana Persia, Ibnu Sina. Secara khusus ia membaca komentar dari Fakhr al-Din Razi di Canon of Medicine dan Quthb al-Din mengangkat banyak isu sendiri. Hal ini menyebabkannya memutuskan sendiri untuk menulis komentarnya sendiri, di mana ia memutuskan banyak masalah di perusahaan Nasir al-Din al-Tusi .

Ketika dunia Barat masih diselimuti masa kegelapan, ketika Barat masih gagap ilmu pengetahuan, Quthbuddin asy-Syirazi telah hadir sebagai sosok yang begitu maju dan mengagumkan di bidang matematika, fisika, astronomi, dan kedokteran. Ia bekerja sebagai dokter di Syiraz setelah mampu menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu. Ketika Barat belum memiliki rumah sakit yang baik, Quthbuddin Shirazi sudah aktif sebagai dokter dan bertahun-tahun bekerja di rumah sakit Shiraz di Iran selatan. Saat itu, rumah sakit di belahan Timur, atau dunia Islam, sudah sangat istimewa dan berkelas sementara Barat masih terpusar dalam ilmu perdukunan dan sihir.

Selama menjadi dokter, ia senang membaca berbagai kitab dari ilmuwan yang terkenal pada zamannya, termasuk karya Ibnu Sina. Ketertarikannya juga ditunjukkan dengan mulai bergurunya ia kepada Nashiruddin at-Thusi. Quthbuddin As syirazi juga adalah seorang sunni penganut Syafi’iyah. Qutb al-Din kehilangan ayahnya pada usia empat belas tahun sehingga menjadi dokter mata di rumah sakit Mozaffari di Shiraz menggantikan posisi ayahnya tersebut. Pada saat yang sama, ia menimba ilmu dari pamannya Kamal al-Din Abu’l Khayr, Sharaf al-Din Zaki Bushkani, dan Shams al-Din Mohammad Kishi. Ketiganya adalah guru ahli dari Canon of Avicenna.

Dia berhenti dari profesi medis sepuluh tahun kemudian dan mulai mencurahkan waktu untuk pendidikan lanjutan di bawah bimbingan Nasir al-Din al-Tusi. Ketika Nasir al-Din al-Tusi, sarjana-wazir terkenal dari Mongol Holagu Khan mendirikan observatorium dari Maragha, Qutb ad-Din Shirazi menjadi tertarik ke kota. Dia meninggalkan Shiraz beberapa saat setelah tahub 1260 dan di Maragha sekitar tahun 1262. Di Maragha Qutb al-din kembali mendapat pendidikan dalam bimbingan Nasir al-Din al-Tusi, dengannya ia mempelajari al-Esharat wa-Tanbihat of Avicenna. Dia membahas kesulitan dia dengan Nasir al-Din al-Tusi pada pemahaman kitab pertama dari Canon of Avicenna. Saat bekerja di observatorium baru, ia belajar astronomi di bawahnya. Salah satu proyek ilmiah yang penting adalah penyelesaian tabel astronomi baru (zij).

Dalam wasiat, Nasir al-Din al-Tusi menyarankan anaknya Sil-a-Din untuk bekerja dengan Qutb al-Din dalam penyelesaian Zij. Selanjutnya, ia melakukan perjalanan ke Khorasan di akademi Nasir al-Din al-Tusi di mana ia tinggal untuk belajar di bawah Najm al-Din Katebi Qazvini di kota Jovayn dan menjadi asistennya. Setelah tahun 1268, ia berangkat ke Qazvin, Isfahan, Baghdad dan kemudian Konya di Anatolia. Ini adalah saat ketika penyair Persia Jalal al-Din Muhammad Balkhi (Rumi) mendapatkan ketenaran di sana dan melaporkan bahwa Qutb al-Din juga bertemu dengannya.

Di Konya, ia mempelajari Jam’e al-Osul Ibn Al-Atsir kepada Sadr al-Din Qunawi. Gubernur Konya, Mo’in al-Din Parvana menunjuknya sebagai hakim Sivas dan Malatya. Selama waktu ini ia menyusun buku-buku Mefta’ al-meftah, Ekhtiarat al-mo’affariya, dan komentarnya tentang Sakkaki. Pada tahun 1282, ia utusan atas nama Ilkhanid Ahmad Takudar ke Sayf al-Din Qalawun, Mamluk penguasa Mesir. Dalam suratnya kepada Qalawun, penguasa Ilkhanid menyebutkan Syekh Quthb ad-Din sebagai hakim ketua. Qutb al-Din selama ini mengumpulkan berbagai kritik dan komentar tentang Avicenna ‘s Canon dan menggunakannya pada komentarnya di Kolliyat. Bagian terakhir dari karir aktif Quthb al-Din mengajar Canon of Avicenna dan Shefa Avicenna di Suriah. Beliau segera berangkat ke Tabriz dan meninggal tak lama setelahnya.

Shirazi mengidentifikasi pengamatan oleh sarjana Avicenna di abad ke-11 dan Ibnu Bajjah di abad ke-12 sebagai transit dari Venus dan Merkurius. Namun, Ibnu Bajjah tidak bisa mengamati transit Venus, karena tidak terjadi dalam hidupnya. Pandangan Al-Quran tentang ilmu dan teknologi dapat diketahui prinsip-prinsipnya dari analisis wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw .“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari ‘Alaq (segumpal darah). Bacalah, dan Tuhan-mu-lah yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan pena, mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS Al-’Alaq : 1-5). Iqra’ terambil dari akar kata yang berarti menghimpun. Dari menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca baik teks tertulis maupun tidak.

Wahyu pertama itu tidak menjelaskan apa yang harus dibaca, karena Al-Quran menghendaki umatnya membaca apa saja selama bacaan tersebut bismi Rabbik, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalami-lah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu; bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis maupun yang tidak. Al-hasil, objek perintah iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya. Pengulangan perintah membaca dalam wahyu pertama ini bukan sekadar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak akan diperoleh kecuali mengulang-ulang bacaan atau membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan. Tetapi hal itu untuk mengisyaratkan bahwa mengulang-ulang bacaan bismi Rabbik (demi Allah) akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru, walaupun yang dibaca masih itu-itu juga.

Demikian pesan yang dikandung Iqra’ wa rabbukal akram (Bacalah dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah). Selanjutnya, dari wahyu pertama Al-Quran diperoleh isyarat bahwa ada dua cara perolehan dan pengembangan ilmu, yaitu Allah mengajar dengan pena yang telah diketahui manusia lain sebelumnya, dan mengajar manusia (tanpa pena) yang belum diketahuinya. Cara pertama adalah mengajar dengan alat atau atas dasar usaha manusia.Cara kedua dengan mengajar tanpa alat dan tanpa usaha manusia.Walaupun berbeda, keduanya berasal dari satu sumber, yaitu Allah Swt. Ilmu adalah suatu keistimewaan pada manusia yang menyebabkan manusia unggul terhadap makhluk-makhluk lain.

Syekh Quthb ad-Din memiliki pemikiran, bahwasanya akal menghasilkan ilmu, dan ilmu pasti akan berkembang. Karenanya, demi memudahkan dalam mempelajari ilmu.Maka ilmu perlu digolongkan atau diklasifikasikan. Syekh Quthb ad-Din muncul ke dalam gelanggang kecendikiawanan islam dua abad setelah Ghazali. Dia mewakili satu di antara periode-periode yang penuh tantangan dalam sejarah Islam (kejatuhan Baghdad, dan runtuhnya berbagai pusat kecendekiawanan dan keagamaan Islam di kawasan timur ke tangan bangsa Monggol).Tidak lama setelah peristiwa tragis itu, muncul perkembangan baru ilmu-ilmu berdasarkan pemikiran filsafat yang dipelopori oleh Syekh Quthb ad-Din dan gurunya Nasiruddin Tursi (Osman Bakar, 1997 : 18-19). Dalam uraian berikut akan disebutkan secara ringkas dan dan dalam garis-garis besarnya klasifikasi ilmu yang dibuat mereka. Quthbuddin menyajikan klasifikasi ilmu sebagai berikut:

  1. Ilmu-ilmu Filosofis (kefilsafatan)
  2. Ilmu-ilmu non-filosofis,( ilmu-ilmu religius atau termasuk dalam ajaran wahyu)

Ilmu non-filosofis, dibagi menjadi dua yakni:

  1. Ilmu-ilmu naqli (keagamaan)
  2. Ilmu-ilmu aqli (intelektual)

Di Indonesia, secara umum kita mengenal pembagian ilmu lewat ilmu dunia atau ilmu umum dan ilmu agama. Di antara cendekiawan muslim yang berhasil meneliti fenomena pembentukan pelangi dan berhasil menemukan penafsiran ilmiah atas fenomena tersebut adalah Quthbuddin Mahmud bin Mas`ud bin Mushlih asy-Syirazi. Bahkan, ia dianggap mendasari teori Rene Descartes dan Isaac Newton. Selain itu, ia pun dikenal sebagai seorang filosof terkenal. Tahun 1290 M, Syekh Quthb ad-Din, ahli ilmu bumi, berhasil membuat peta Laut Mediterania, yang kemudian dihadiahkannya kepada Gubernur Persia saat itu.

Lama sebelum Roger Bacon memperkenalkan dan mempopulerkan metode eksperimen ke dunia sains Eropa, studi-studi empiris tentang alam, yakni studi-studi yang didasarkan pada observasi dan eksperimentasi, sudah tersebar luas di dunia Muslim. Studi-studi seperti itu tentu dilakukan oleh orang-orang Islam dalam skala yang jauh lebih besar daripada yang pernah diupayakan dalam seluruh peradaban sebelumnya.

Banyak sejarahwan sains islam kontemporer terkagum-kagum pada apa yang mereka sebut sebagai karakteristik semangat modern dalam pendekatan empiris orang Islam pada kajian tentang alam. Ilmuwan-ilmuwan Muslim terkemuka seperti ar-Razi, Ibnu Sina, Al-Biruni, Ibnu Haytsam, Az-Zahrawi, Nashiruddin ath-Thusi, Quthbuddin asy-Syirazi, dan Kamaluddin al-Farsi, untuk menyebut beberapa nama, dikenang antara lain karena kekuatan observasi dan kecenderungan eksperimental mereka seperti yang terlihat dalam kajian-kajian ilmu alam mereka yang luas, termasuk ilmu kedokteran. Banyak karya yang telah ditulis tentang prestasi yang dicapai para ilmuwan ini di bidang eksperimental. Yang patut menjadi perhatian utama bukanlah pembahasan tentang prestasi yang dicapai orang Islam dalam eksperimentasi itu sendiri, tetapi dalam hubungannya dengan kesadaran religius dan spiritual mereka.

Sebagaimana luasnya penggunaan logika tidak membawa pada rasionalisme sekuler yang memberontak terhadap Tuhan dan agama, demikian pula luasnya praktik eksperimentasi tidak menggiring pada sebuah empirisme yang memandang pengalaman indrawi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Epistemologi (teori pengetahuan) Islam tradisional memberikan semua pengamanan yang diperlukan untuk mencegah penyimpangan filosofis semacam itu.Islam adalah agama kesatuan (tauhid) dan keseimbangan (i’tidal). Dengan demikian, ia menegakkan gagasan hirarki dan kesatuan pengetahuan dan cara-cara untuk mengetahui.

Semua jalan yang mungkin untuk menuju pengetahuan diakui dengan sewajarnya, dan masing-masing disesuaikan dengan tempat dan fungsinya yang absah dalam skema epistemologis Islam. Pemikiran logis, analisis matematis, observasi, eksperimentasi, dan bahkan interpretasi rasional terhadap kitab suci semuanya memiliki peran yang sah dalam upaya ilmiah para ilmuwan Muslim awal. Selama orang Muslim berpegang dengan setia pada semangat tauhid yang sejati, menerapkan keimanan tersebut pada gagasan tentang hirarki dan kesatuan pengetahuan, mereka terbebas dari kemalangan dan situasi intelektual yang berbahaya di mana suatu cara untuk mengetahui dikukuhkan dengan mengorbankan cara yang lain, atau keabsahan sebagian cara dinafikan demi menegakkan keunggulan cara-cara yang lain.

Selaras dengan perinsip tauhid, orang Muslim meyakini bahwa hanya Tuhanlah yang Mutlak dan bahwa semua yang lain adalah nisbi. Sebagai Kebenaran Mutlak (al-Haqq), Allah swt merupakan sumber dari semua kebenaran lain yang, meski demikian, mengakui adanya suatu hierarki atau tingkat-tingkat kenisbian. Tingkat-tingkat kebenaran relatif ini diketahui manusia melalui berbagai cara.

Menurut Islam, manusia telah dilengkapi dengan semua pengetahuan yang dibutuhkan untuk mengetahui yang memampukan dirinya untuk mengetahui semua yang perlu diketahuinya. Al-Quran mengatakan, “Dia (Tuhan) Yang membuat segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya dengan sebaik-baiknya.Dia memulai penciptaan manusia dari tanah.Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ruh-Nya ke dalam (tubuh manusia) dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, tetapi kamu sedikit sekali bersyukur.” (Q.S. 32: 7-9). Dengan demikian orang Islam diperingatkan oleh Al-Quran bahwa semua pengetahuan yang dimiliki manusia—yakni panca indera-nya, perasaan-perasaan internal-nya seperti pengingatan dan daya khayal, rasional dan spiritual, yakni akal dan hati — adalah pemberian Tuhan yang berharga baginya yang karenanya ia mesti bersyukur.

Bersyukur pada Tuhan bukan hanya dengan mengenal asal-usul ilahiah dari segala bentuk pengetahuan ini, tetapi juga dengan menggunakan semua itu secara sah sesuai dengan hakikat dan fungsinya yang tepat. Penggunaan yang sah atas setiap pengetahuan menghendaki adanya pengenalan yang baik tentang wilayah kompetensi dan batas-batas yang wajar. Sebagaimana ditekankan dengan jelas dalam ayat Al-Qur'an di atas sebagai komponen manusia telah dibuat oleh Allah swt “dalam bentuk yang paling baik”.

Pentingnya pengalaman inderawi sebagai sebuah sumber pengetahuan empiris tentang dunia sangat banyak ditekankan oleh orang Islam.Tetapi mereka juga menekankan fakta bahwa indera fisik, sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan, memiliki keterbatasan-keterbatasan tersendiri.Di sinilah datangnya intervensi kesadaran religius.Sistem kepercayaan orang Islam mengajarkan bahwa ada fenomena-fenomena dan realitas-realitas yang berada di luar jangkauan kemampuan indera fisik sekalipun dengan bantuan instrumen-instrumen teleskopik dan mikroskopik yang paling canggih dan hebat.

Fenomena-fenomena dan realitas-realitas non-fisik ini menghendaki penggunaan fakultas pengetahuan non-fisik yang sesuai. Realitas fisik hanyalah sebuah aspek dari realitas keseluruhan.Ia dipandang oleh seorang Muslim sebagai realitas tingkat terendah, sementara yang tertinggi adalah Tuhan. Bahkan pada tingkat realitas fisik, kesadaran religius seorang Muslim mempengaruhi sikapnya terhadap realitas dan kajian ilmiahnya terhadap realitas tersebut.

Seorang Muslim tahu bahwa dunia fisik tidak memiliki eksistensi yang berdiri sendiri.Dunia fisik, sebagaimana dunia-dunia yang lain, memperoleh eksistensinya dari Tuhan. Ia selalu terkait dengan Tuhan. Pada saat ia terlepas dari Tuhan, seketika itu pula ia lenyap. Deisme adalah suatu yang tak dikenal dalam pemikiran Islam. Orang islam tak pernah menerima gagasan alam semesta sebagai sebuah jam dan Tuhan adalah sang pembuat jam yang, setelah menciptakan jam hingga selesa dan sempurna, membiarkannya berjalan sendiri.

Semangat observasi dan eksperimentasi Muslim dibentuk oleh kesadaran religius ini.Bukanlah keraguan religius dan skeptisisme yang mengilhami kisah sukses sains eksperimental Muslim. Sebaliknya, semangat eksperimental Muslim diilhami oleh keyakinan tentang Tuhan sebagai Yang Absolut dan sebagai sumber dari semua kebenaran. Orang Islam melakukan observasi dan eksperimentasi dengan keyakinan yang teguh bahwa mereka berusaha untuk mencari tahu sebuah aspek dari realitas Tuhan.

Menurut filosof Muslim abad ke-12, Suhrawardi, dunia tak lebih dari pengetahuan Tuhan tentang dunia. Mengenal dunia, oleh karena itu, berarti mengetahui pengetahuan Tuhan tentang dunia. Keyakinan orang Islam bahwa kebenaran atau pengetahuan apa pun yang mereka temukan tentang alam tidak dapat dipertentangkan dengan ajaran Kitab Suci adalah berasal dari ajaran Kitab itu sendiri. Al-Qur'an mengimbau orang-orang yang beriman untuk mengamati tanda-tanda Tuhan yang termanifestasi di alam semesta, dalam jiwa-jiwa manusia, dan pada lembaran-lembaran sejarah manusia dan masyarakat, “Akan Kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segala penjuru bumi dan dalam jiwa-jiwa mereka sendiri, hingga jelas kebenaran itu bagi mereka…” (Q.S. 41: 53). Alquran juga mengimbau mereka untuk membuktikan semua klaim kebenaran dan pengetahuan untuk memastikan bahwa keadilan telah ditegakkan dan bahwa keraguan membukakan jalan bagi kepastian.

Karya

Syekh Quthb ad-Din asy-Syirazi memiliki banyak karya, antara lain:

  1. Nihayatu al-Idrak fi Dirayati al-Aflak, sebuah Kitab yang di dalamnya terdapat berbagai disiplin ilmu seperti Ilmu Falak, geologi, oseanologi, klimatologi, meteorologi, mekanika dan optik.
  2. Kitab at-Tuhfatu asy-Syahiyyah, tentang kinematika.
  3. Kitab at-Tabshirah, tentang kinematika.
  4. Kitab Nuzhatu al-Hukama’ wa Raudhatu al-Athibba, merupakan penjelasan dan komentar terhadap kitab Al-Qanun milik Ibnu Sina, kitab ini merupakan penjelasan tentang kebutuhan terhadap dokter dan adab serta nasehat di bidang kedokteran.
  5. Kitab At-Tuhfatu as-Sa`diyyah, penjelasan keseluruhan kitab Al-Qanun fi ath-Thibb.
  6. Tulisan tentang penyakit kusta.
  7. Tulisan dalam bidang ilmu falak dan berbagai sains lainnya.
  8. Tulisan dalam Ilmu Al-Qur’an dan Al-Hadits.