Biografi Abi Hanafiah Samalanga (Teungku Abi) 

 
Biografi Abi Hanafiah Samalanga (Teungku Abi) 

Daftar Isi Profil Abi Hanafiah Samalanga (Teungku Abi)

  1. Kelahiran
  2. Keluarga
  3. Pendidikan
  4. Mengasuh Dayah MUDI
  5. Teladan

Kelahiran

Abi Hanafiah atau yang kerap disapa dengan panggil Teungku Abi lahir di Aceh. Beliau merupakan putra Teungku Abbas.

Nasab beliau dari jalur ayah menurut satu riwayat merupakan keturunan Arab yang bersambung nasabnya dengan Sayyidina Abu Bakar.

Namun karena kondisi masa penjajahan, nasab ini disembunyikan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Hal ini menyebabkan bukti yang valid mengenai mata rantai keturunan Teungku Abi tidak dapat ditemukan.

Keluarga

Teuku Abi melepas masa lajangnya dengan menikahi Juwairiah putri Tgk. Idris. Buah dari pernikahannya dengan Juawairiah, Teugku Abi memiiki enam orang anak yaitu amanuddin, Badriah, Mahyeddin, Jalaluddin, Fatimah, dan Aisyah.

Pendidikan

Teungku Abi memulai pendidikannya dengan menuntut ilmu dan belajar agama di Ie Leubeu pada Tgk. Chik di Pasi. Setelah beberapa lama belajar pada Tgk. Chik di Pasi, Tgk. Abi melanjutkan pendidikannya untuk belajar ke Tanjongan pada Tgk. Idris.

Selain itu, walaupun telah menikah Teungku Abi (Teungku Syiek Disamalanga-II). Namun di awal-awal pernikahannya, Teungku Abi sempat merasa malu dengan ibu mertuanya Ummi Fatimah karena keliru dalam membaca kitab.

Ummi Fatimah menegur Teungku Abi seraya membaca matan bait Alfiyah untuk menunjukkan bahwa bacaan Teungku Abi menyalahi kaidah ilmu Nahwu. Karena merasa malu dengan keterbatasan ilmunya, akhirnya Teungku Abi pergi ke Mekkah untuk semakin memperdalam ilmu nya.

Di Mekkah Teungku Hanafiah sempat menimba ilmu dan mengambil pengijazahan thariqat pada Sayyid Abu Bakar Syatta, pengarang kitab I’anatuth Thalibin. Thariqat yang diperoleh dari Sayyid Abu Bakar Syatta inilah yang kemudian diijazahkan kepada Abu Usman Ali Kuta Krueng (Abu Kuta). Sedangkan thariqat yang diijazahkan kepada Abu Seulimum oleh Teungku Abi bersanad kepada mertuanya Teungku Idris.

Mengasuh Dayah MUDI

Tongkat estafet kepemimpinan dayah MUDI Masjid Raya Samalanga diserahkan kepada Teungku Abi. Ini juga berdasarkan beberapa tulisan yang menceritakan sejarah kepemimpinan MUDI Mesra, pada umumnya menyebutkan Teungku Abi memimpin dayah MUDI setelah Tgk. Syihabuddin (Abang Ipar nya Teungku Abi) meninggal dunia.

Namun berdasarkan riwayat yang lain dayah ini sebenarnya diserahkan langsung oleh Tgk. Syihabuddin (Syekh Syihabuddin) atau Teungku Chiek untuk dikelola oleh Teungku Hanafiah bin abbas dimasa hidupnya Tgk. syihabuddin. Karena dayah MUDI ini merupakan dayah kerajaan yang sudah berdiri sejak masa Sultan Iskandar Muda, Abon Chik Samalanga bertanya kepada Tgk. Syihab : “Ek jeut man dayah nyoe ta yue duek bak Teungku Abi ?” (Apakah bisa Tgk. Abi dijadikan sebagai pimpinan dayah ini ?).

Mendengar pertanyaan ini Tgk. Syihabuddin berkata “Meunyo han jeut pane mungken lon peu jeut keu parui lon” (Kalau memang tidak bisa bagaimana mungkin beliau menjadi sebagai adik ipar saya). Jawab Tgk. syihabuddin. Akhirnya kepemimpinan MUDI Mesra dipimpin oleh beliau.

Di masa kepemimpinan Tgk. Abi, tidak banyak perubahan dari segi pembangunan asrama dari masa sebelumnya. Hanya saja jumlah pelajar sedikit bertambah yang dulunya 100 orang putra kini menjadi 150 orang, sedangkan jumlah santriwati kurang lebih berjumlah 50 orang, sama seperti masa sebelumnya saat masih dipimpin oleh Tgk. Syihabuddin bin Idris (Teungku Chiek Samalanga (I))

Meskipun jumlah muridnya tidak terlalu ramai, namun banyak dari murid Teungku Abi menjadi Ulama yang sebagiannya juga memperdalam ilmu di tempat yang lain. Diantara murid-murid Tgk. Abi adalah Abon Aziz dan juga ayah beliau Tgk. Muhamad Shaleh, Abu Seulimum, Abon Muhammad Amin Arbi Tanjongan, Tgk. Muhammad Jamil dan juga menantunya Tgk. H. Abdul Muthalleb atau yang biasa dipanggil Abu Ie Lueng, Abu Kuta Krueng dan beberapa nama yang kemudian hari menjadi ulama.

Perkembangan demi waktu terus dilalui dan pembenahan, disamping itu ada juga teungku-teungku yang belajar pada teungki Abi diwaktu-waktu tertentu. Abu Hamid Arongan misalnya diamanahkan oleh gurunya Abuya Jailani agar selalu mengunjungi Teungku Abi untuk beristifadah (mengambil faidah) pada beliau. Dan ternyata Abu Arongan ketika pulang dari Kuta Fajar paling tidak dalam sebulan selalu berkunjung dan belajar pada Teungku Abi sesuai wasiat gurunya.

Murid-Murid

Abu Wahab Seulimum adalah murid Tgk. Abi yang sangat mengidolakan gurunya. Hampir setiap pengajian beliau menyebut nama gurunya Tgk. Abi Hanafiah. Banyak kenang-kenangan yang beliau peroleh pada masa menuntut ilmu di dayah MUDI dan belajar pada Tgk. Abi.

Ketika Abu Wahab Selimum marah, anak-anaknya terkadang mengingatkan Abu, “Abu, Teungku Abi han tom bungeh-bungeh” (Abu, Teungku Abi tidak pernah marah). Dengan seketika Abu Wahab terhentak saat mendengar disebut nama gurunya Teungku Abi.

Begitulah kecintaan abu Wahab yang begitu mendalam kepada sosok gurunya Tgk. Abi. Salah satu wasiat Teungku Abi kepada Abu Seulimum, “Gata ta woe u gampong seumeubeuet mantoeng, bek jak mita kaya” (Kamu ketika pulang kampung fokuskan diri untuk mengajar, jangan sibuk mencari kekayaan). 

Ini Kisahnya Pada suatu ketika saat Abu Wahab sudah memiliki dua orang anak, beliau pergi membersihkan kebun, tiba-tiba tangan nya terkena parang (golok). Saat itu beliau langsung terbayang wajah Teungku Abi dan nasehat beliau agar jangan mencari kaya

Melawan Pemberontak

Salah satu sikap politis yang ditunjukkan oleh Tgk. Abi adalah beliau tidak setuju dengan pemberontakan DI/TII, karna menurut beliau tidak boleh hukumnya memberontak kepada pemerintah yang sah. Ketika Indonesia baru merdeka, Abu Krueng Kale pernah berkunjung ke Mesjid Raya Samalanga dalam rangka mengadakan rapat bersama para Ulama guna mengambil sikap tentang penentuan nasib Aceh.

Abu Krueng Kale, Tgk. Abi dan beberapa ulama lainnya sepakat agar Aceh mendirikan negara nya sendiri. Namun hal itu tidak disetujui oleh Abu Daud Beureueh. Pada saat itu Abu Krueng Kale dan ulama lainnya menawarkan solusi lain kalau Aceh dijadikan Negara Bagian dengan membayar pajak kepada pemerintah Indonesia, namun lagi-lagi Abu Daud Bereueh tidak setuju. Perbedaan sikap politik ini membuat suasana tegang antara pihak Abu Krueng Kale, Tgk. Abi dengan Abu Daud Beureueh.

Namun akhirnya Aceh bergabung dengan Indonesia karena Abu Daud Beureueh tetap ngotot dengan keputusannya.

Ketika Abu Daud Beureueh menggerakkan pemberontakan DI/TII, Teuku Abi menolak untuk ikut terlibat. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh Abu Krueng Kale.

Dalam hal ini, Teungku Abi menilai pemberontakan kepada pemerintah yang sah tidak dibolehkan dalam agama. Mereka sebenarnya telah lebih dahulu mengusulkan agar Aceh berdiri sendiri, namun ketika keputusan yang diambil adalah bergabung dengan Indonesia, maka taat kepada Pemerintah sudah menjadi bagian dari kewajiaban.

Teladan

Teungku Abi juga sosok yang menjadi rujukan dalam penetapan hukum. Ketika diadakan acara muzakarah, biasanya Teungku Abi hanya sibuk berzikir. Saat sudah ada keputusan, peserta muzakarah bermusyawarah dengan Teungku Abi untuk meminta pendapat Teungku Abi. Terkadang meraka harus kembali membahas sati persoalan hingga empat kali sehingga baru mendapat persetujuan Teungku Abi.

Teungku Abi sosok yang paling dihormati di wilayah utara dan timur Aceh sebagaimana dihormatinya Abu Krueng Kale di wilayah barat, Banda Aceh dan sekitarnya.

Selain itu, sosok ulama zuhud dan sederhana tentunya sudah menjadi darah daging Abi Hanafiah Abbas. Keteladanan ini patut di teruskan oleh generasi selanjutnya, bukan hanya  dikenal san tenar Teungku Abi dikenal sebagai sosok yang zuhud dan hidupnya sederhana namun beliau juga sering berkhulwah (mengasingkan diri) memfokuskan diri dalam beribadah kepada Allah Swt.

Teungku Chiek Di Samalanga ini yang populer dengan Tgk. Abi juga sering berpuasa. Salah satu kebiasaan Teungku Abi, beliau selalu berbuka puasa di dayah dan mengajak santri menemaninya setelah Ummi Juwairiyah menyiapkan makanan buka puasa kepada Teungku Abi, makanan itu selalu dibawanya ke dayah agar suasana keakraban dengan santri lebih terasa.

Salah satu kisah menarik lainnya, apabila ada orang yang menyumbangkan kain sarung kepada Teungku Abi, beliau akan memakainya walau hanya satu kali. Setelah itu sarung-sarun itu dihadiahkan kepada orang lain. Teungku Abi juga memiliki gaji karena menjabat jabatan Qadhi.

Ketokohan dan ulama tidak menghalangi Tgk. Abi untuk memegang jabatan di pemerintah dalam hal ini sebagai qadhi. Jabatan qadhi ini wilayahnya sedikit lebih besar dari KUA karena mencakup wilayah Samalanga, Ulim dan Peudada. Setiap tanggal 5 awal bulan yang biasanya Tgk. Abi gajian, banyak masyarakat yang datang ke rumah Tgk. Abi karena mereka sudah tau Tgk. Abi akan membagi-bagikan gajinya kepada masyarakat.

Karomah

Salah satu hal yang membuat nama Teungku Abi (Teungku Chiek Di Samalanga II) selalu terdengar hingga sekarang adalah sumur yang dido’akan oleh Teungku Abi hingga sekarang menjadi sumber air minum bagi santri-santri yang belajar di dayah MUDI Mesra.

Sumur ini dido’akan oleh Teungku Abi agar layak diminum oleh santri dan menyehatkan. Alhamdulillah, Santri dayah MUDI tidak perlu memasak air atau membeli air minum isi ulang karena air sumur yang dido’akan oleh Teungku Abi cukup untuk seluruh santri MUDI yang kini mencapai 7000 orang bahkan lebih.

Dulunya sumur ini dapat dilihat dengan jelas, namun setelah perluasan Mesjid Raya Samalanga pada awal 2010, sumur ini sedikit tertutup karena sudah masuk dalam bagian mesjid. Walau demikian, sumur ini tidak diganggu dan masih difungsikan hingga sekarang.