Biografi KH. Amin Sepuh

 
Biografi KH. Amin Sepuh

Daftar Isi Profil KH. Amin Sepuh

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Menjadi Pengasuh
  5. Murid-Murid
  6. Karomah

Kelahiran

KH. Amin bin Irsyad, atau yang lebih dikenal dengan panggilan KH. Amin Sepuh, lahir pada Hari jum’at 24 Djulhijjah 1300 H atau tahun 1879 M, di Mijahan Plumbon, Cirebon, Jawa Barat. Silsilah nasab beliau dari sang ayah KH. Irsyad sampai kepada Syekh Syarif Hidayatullah.

Wafat

KH. Amin Sepuh wafat diusia yang hampir seabad, pada Selasa 16.10 WIB, tanggal 16 Rabi’ul Akhir 1392 H atau 20 Mei 1972 M.

Setelah wafatnya KH. Amin Sepuh kepengurusan pesantren dilanjutkan putra-putranya, KH. Fuad Amin (wafat tahun 1997 M) dan KH. Abdullah Amin (wafat tahun 1999 M), kemudian dilanjutkan oleh KH. Fathoni Amin dan KH. Bisri Amin (wafat tahun 2000 M), KH. Amrin Hanan (wafat tahun 2004 M), KH. Azhari Amin (wafat tahun 2008) KH. Drs. Zuhri Afif Amin wafat pada tahun 2010.

setelah wafatnya KH. Drs Zuhri Afif Amin, kepengurusan dilanjukan oleh cucu-cucu KH. Amin Sepuh dan Ulama serta masyarakat yang berkompeten untuk kemajuan pesantren. Bahkan bukan pendidikan agama saja yang mereka terapkan, pendidikan umumpun mereka terapkan terhadap para santrinya. Dengan harapan, para santrinya dapat memenuhi semua kewajibannya, baik kewajiban dunia maupun akhirat, serta menyelaraskannya beriringan dan seimbang.

Pendidikan

KH. Amin kecil, beliau mendapatkan pendidikan langsung dari ayahnya KH. Irsyad. Setelah dirasa cukup menguasai dasar-dasar ilmu agama dari sang ayah, dan ilmu kanuragan, Kiai Amin melanjutkan pendidikannya ke berbagai tempat untuk menuntut ilmu dari para ulama yang mumpuni diantaranya, beliau belajar di pesantren Sukasari, Plered, Cirebon dibawah asuhan KH. Nasuha, setelah itu pindah ke pesantren di daerah Jatisari di bawah bimbingan KH. Hasan.

Beliau juga sempat mondok di Pesantren Kaliwungu Kendal (kakak angkatan KH. Ru’yat), lalu ke Pesantren Mangkang Semarang. Berikutnya beliau pindah ke sebuah pesantren Jawa Tengah tepatnya daerah Tegal, yang diasuh oleh KH. Ubaidah.

Lalu pindah lagi kepesantren yang waktu itu sangat kondang di Jawa Timur, yakni Pesantren Bangkalan Madura, belajar pada Hadratussyekh KH. Kholil Bangkalan, kemudian melanjutkan lagi pendidikan kepada Pondok Pesantren Tebuireng yang di asuh oleh KH. Hasyim Asy’ari. Dengan KH. Hasyim Asy’ari inilah beliau menjadi santri sekaligus mengabdi pada beliau.

Belum kenyang belajar di Pesantren Tebuireng, Beliau bertolak ke tanah Arab, untuk memperdalam ilmu, di sana beliau sempat belajar kepada KH. Mahfudz Termas Asal Pacitan, Jawa Timur, Salah seorang ulama nusantara Kesohor di Kota Makkah.

Sebagai santri yang sudah cukup matang, di waktu senggang beliau banyak ditugasi untuk mengajar para santri Mukim (pelajar Indonesia yang tinggal di Makkah).

Pada Masa penjajahan, para santri kelana inilah yang menjadi mediator antar pesantren untuk melawan penjajah. Sementara pesantren di manapun adanya selalu menjadi basis perlawanan yang menakutkan bagi penjajah, para santri kelana ini menyebarkan informasi dari satu tempat ketempat yang lain dari satu pesantren kepesantren yang lain. tak jarang mereka juga yang memimpin perlawanan.

Berdasar amanah ayahandanya, KH. Irsyad, (yang masih cucu dari Ki Jatira/pendiri Pesarean Babakan Ciwaringin Cirebon, dari pihak ibu), Kiai Amin agar belajar di Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin pada KH. Ismail bin Nawawi yang juga masih keturunan KH. Jatira (pendiri Pesarean Babakan Ciwaringin Cirebon).

Ketika nyantri di Babakan Ciwaringin Beliau dikenal dengan sebutan santri cerdas, karena beliau pandai mengaji. Kemudian beliau mengabdi di pesantren ini. Lalu dinikahkan dengan keponakan dari KH. Ismail.

Setelah KH. Ismail wafat, tepatnya tahun 1916, pengasuh Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin diteruskan oleh muridnya yang menjadi menantu keponakannya yakni KH. Amin Sepuh karena keilmuannya dan berasal dari tempat yang sama dengan leluhur dan moyangnya, KH. Jatira, dari Mijahan.

Menjadi Pengasuh

Bermodal ilmu pengetahuan yang telah beliau peroleh serta upaya mengikuti perkembangan Islam yang terjadi di timur tengah pada umumnya mulailah KH. Amin memegang tampuk pimpinan Pesantren Babakan Ciwaringin.

Kiai muda energik ini, selain mengajarkan berbagai Khazanah kitab kuning juga memperkaya pengetahuan para santrinya dengan ilmu keislaman modern yang mulai berkembang saat itu. Meski demikian, Seperti halnya pada kebanyakan pesantren, ilmu fiqih tetap menjadi kajian yang sangat diprioritaskan, sebab ilmu ini menyangkut tata kehidupan sehari-hari masyarakat dan individu, dengan sikafnya itu Kiai Amin semakin dikenal di seluruh Jawa sebagai seorang ulama yang sangat alim dan berpemikiran Progresif.

Pasca Revolusi Kemerdekaan beliau terus mengembangkan Pesantren dengan berbagai aral melintang. Bahkan yang dahsyat adalah ketika Agresi Belanda II, tepatnya tahun 1952 Pondok Pesantren diserang Belanda. Dikarenakan KH. Amin Sepuh sebagai sesepuh cirebon merupakan pejuang yang menentang penjajah. Pondok dibakar dan dikepung. Para santri pergi dan para Pengasuh beserta keluarga mengungsi.

Dua tahun kemudian, tahun 1954, KH. Sanusi yang masih salah satu murid KH. Amin Sepuh adalah orang yang pertama kali datang dari pengungsiannya. Sisa-sisa kitab suci berantakan, termasuk kitab-kitab karya KH. Amin Sepuh, habis dibakar, bangunan hancur. Semua itu secara bertahap dibereskan kembali.

Tahun 1955 KH. Amin Sepuh kembali ke Babakan, kemudian para santri banyak berdatangan dari berbagai pelosok. KH. Amin sepuh yang menjadi pengasuh Pondok Gede kembali memberikan pelajaran-pelajaran agama kepada para santrinya. Hingga akhirnya Pondok Gede sudah tidak dapat menampung para santri.

Kemudian santrinya dititipkan di rumah-rumah ustadznya seperti KH. Hanan, di rumah KH. Sanusi, hingga kelak anak cucunya membentuk dan mengembangkan pesantren-pesantren seperti sekarang ini. Sehingga Pondok yang awalnya hanya satu (Ponpes Raudlotut Tholibin) sekarang menjadi banyak. Alhamdulillah, tahun 2012 terdapat sekitar 40 Pondok di lingkungan Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon.

Murid-Murid

Pada masa pengasuhan KH. Amin Sepuh, Pondok Gede Babakan mencapai kemasyhuran dan masa keemasan serta banyak andil dalam mencetak tokoh-tokoh agama yang handal, hampir semua kiai sepuh di wilalayah 3 Cirebon bahkan menyebar ke pelosok Indonesia adalah muridnya, sebut saja Kang Ayip Muh (kota Cirebon), KH. Syakur Yassin, KH. Abdullah Abbas (Buntet), KH. Syukron Makmun, KH. Hannan, KH Sanusi, KH. Machsuni (Kwitang), KH Hassanudin (Makassar), di Babakan sendiri muridnya mendirikan pesantren seperti : KH. Muhtar, KH. Syaerozi, KH. Amin Halim, KH. Muhlas, KH. Syarif Hud Yahya..dll.

Bahkan ribuan Mutakharrijin/alumni telah tersebar di seluruh penjuru tanah air, dengan bermacam profesi dan jabatan di masyarakat maupun lembaga pemerintahan, baik sipil maupun militer, dari mulai Kepala Kantor Kementrian Agama Kota/Kabupaten sampai Kepala Kantor wilayah Kemenag Propinsi, dari Dekan, Direktur Pasca Srjana sampai rektor Perguruan Tinggi, dari Kapolres sampai Kapolda, dari Camat sampai Gubernur dan ribuan pula yang telah menjadi pemimpin di masyarakat dan Pengasuh Pondok Pesantren (Mama Tua, Karya Muhammad Mudzakkir)

Untuk artefak pesantren Babakan Ciwaringin (Raudhotut Tholibin) sendiri masih eksis, sejak KH. Amin Sepuh wafat pada tahun pada tahun 1972 dan KH. Sanusi wafat pada tahun 1974 M, dan kepengurusan dilanjutkan oleh KH. Fathoni Amin sampai tahun 1986 M.

Karomah

KH. Amin Sepuh adalah seorang ulama legendaris dari Cirebon, selain dikenal sebagai ulama, beliau juga pendekar yang menguasai berbagai ilmu bela diri dan kanuragan, Beliau juga seorang pakar kitab Kuning sekaligus jagoan perang. Kehebatan yang dimiliki kiai Amin ini sejak dirinya dikabarkan tidak mempan senjata maupun peluru saat bertempur. Pada saat itu, kiai Amin ini telah dilempari dengan 8 bom namun tetap saja dirinya masih selamat dan tidak ada kondisi luka sedikitpun.

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya