Biografi KH. Ahmad Abdul Hamid Kendal

 
Biografi KH. Ahmad Abdul Hamid Kendal

Daftar Isi Profil KH. Ahmad Abdul Hamid Kendal

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pengasuh Pesantren
  4. Gemar Olahraga
  5. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  6. Sang Pencipta Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq
  7. Karya-Karya

Kelahiran

KH. Ahmad Abdul Hamid lahir pada tahun 1915 di Kota Kendal. Beliau merupakan putra dari KH. Abdul Hamid.

Beliau dilahirkan pada saat di negeri ini sedang marak berdiri berbagai pergerekan dan organisasi keagamaan, sosial, ekonomi, politik dan lain-lain. Seperti Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan pada tahun 1905 lalu pada tahun 1906 berubah menjadi Sarikat Islam,  Ormas Muhammadiyah berdiri pada tahun 1912. Pada tahun 1918 lahir Nahdlatul Tujjar sebagai cikal bakal Nahdatul Ulama (NU). Kemudian pada 31 Januari 1926 berdirilah NU, tahun 1928 terjadi Sumpah Pemuda dan lain-lain.

Wafat

KH. Ahmad Abdul Hamid wafat pada 14 Februari 1998 bertepatan dengan 16 Syawal 1418 H.

Pengasuh Pesantren

KH. Ahmad Abdul Hamid adalah pengasuh Ponpes Al-Hidayah Kendal Kota dan Imam Masjid Besar Kendal. Karena peran dan ketokohan beliau, masyarakat Kendal menyebut beliau sebagai “Bapak Kabupaten Kendal”.

Gemar Olahraga

Di masa mudanya, ketika nyantri di Pondok Kasingan Rembang yang diasuh oleh KH. Kholil Harun (guru sekaligus mertua Mbah Bisri ayah Gus Mus), beliau membentuk klub bal-balan. Posisinya striker.

Jejak ketrengginasannya dalam mencetak gol dibuktikan tatkala di Kendal, pada Hari Pahlawan 1979, diadakan pertandingan antara veteran versus tim pemda. Tim veteran menang telak 5-1. Empat gol diantaranya diceploskan Kiai Ahmad, ulama yang pernah bergabung dalam Barisan Sabilillah semasa revolusi kemerdekaan. Dahsyat!

Jangan heran jika di usia 72 tahun, Pengasuh Ponpes al-Hidayah Kendal itu masih sanggup lari jauh dan membawa obor PON XI di Jawa Tengah. Bahkan, fotonya ketika membawa obor dimuat di harian Wawasan, 9 Mei 1987, dan diberi ulasan dengan judul “KH. Achmad Abdul Hamid, Kiai yang Olahragawan.”

Karena pembawaannya yang supel, beliau banyak dekat dengan semua kalangan. Dari kiai, budayawan, para veteran perang kemerdekaan, hingga anggota klub jantung sehat, pecinta maraton, dan atlet sepakbola.

Karena dekat dengan kalangan olahragawan, beliau juga diberi posisi sebagai Wakil Ketua KONI Jawa Tengah, pada suatu era.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Khidmah KH. Ahmad Abdul Hamid (demikian panggilannya sehari-hari) di NU dimulai dari tingkat cabang sampai PBNU. Banyak tugas penting di NU yang pernah diembannya seperti Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Kendal, Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah (dengan Katib KH. Sahal Mahfudz), dan terakhir sebagai Mustasyar PBNU dan MUI Jawa Tengah.

Beliau juga tercatat sebagai kontributor dan distributor majalah Berita NO, yang terbit tahun 1930an. Dalam sebuah tulisan, Kiai Sahal Mahfudz menyebutkan bahwa Kiai Ahmad yang menyimpan dokumen-dokumen jurnalistik NU seperti Buletin LINO (Lailatul Ijtima’ Nadhlatoel Oelama).

Sang Pencipta Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq

Pada mulanya kalimat Billahit Taufiq wal Hidayah KH. Ahmad Abdul Hamid ciptakan sebagai ciri khas warga NU untuk mengakhiri ceramah, pidato dan surat menyurat. Pertama kali beliau mengucapkan kalimat itu di Magelang yang selanjutkan diikuti oleh para Ulama NU dan seluruh warga Nahdliyin.

Namun kalimat itu akhirnya ditiru dan digunakan oleh hampir semua kalangan umat Islam dari berbagai organisasi dan pergerakan, sehingga kekhasan untuk warga NU sudah tidak ada lagi. Untuk itu beliau menciptakan kalimat baru Wallahul Muwaffiq ila Aqwamith Thariq yang dirasa cukup sulit ditirukan oleh warga non-NU. Sehingga sejak itu warga Nahdliyin menggunakan kalimat Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq dalam mengakhiri ceramah, pidato dan surat menyurat sebelum salam penutup, meski yang tetap terbiasa menggunakan :”Billahit Taufiq wal Hidayah” juga masih banyak.

Karya-Karya

KH. Ahmad Abdul Hamid cukup produktif menulis dan menerjemahkan kitab-kitab. Salah satu tulisannya yang cukup fenomenal adalah terjemahan al-Qanun al-Asasi Hadlratusyekh KH. Hasyim Asy’ari ke dalam bahasa Indonesia, yang beliau terjemahkan atas permintaan Sekretaris Jenderal PBNU Prof. KH. Saifudin Zuhri.

Penerjemahan tersebut telah dimulai oleh KH. Mahfud Sidiq, tetapi belum selesai sehingga PBNU meminta Kiai Ahmad untuk menyelesaikannya. Terjemahan itu oleh Kiai Ahmad dinamakan Ihyau Amalil Fudlala’ Fi Tarjamati Muqaddimatil Qanunil Asasi li-Jam’iyati Nahdlatil Ulama.

Berikut karya-karya beliau:

I’anatul Muhtaj fi Qisshati al-Isra’ wal Mi’raj. Berbahasa Jawa beraksara Arab Pegon. Diterbitkan oleh Karya Thoha Putra, Semarang. Kitab ini berisi ulasan peristiwa Isra’ dan Mi’raj berdasarkan sabda Rasulullah di berbagai kitab hadits.

Risalatun Nisa’/ Risalah al-Huquq al-Zaujain. Berbahasa Jawa beraksara Arab Pegon. Diterbitkan oleh al-Munawwar Semarang. Kitab ini berisi panduan berumah tangga dan tips menjadi keluarga sakinah.

Tashilut Thariq. Berbahasa Jawa beraksara Arab Pegon. Kitab ini ditulis pada saat Kiai Ahmad bermukim di Makkah selama empat tahun. Kitab yang mengulas panduan beribadah haji ini diberi kata pengantar oleh Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, Syekh Abdul Jalil al-Muqaddasi, dan Syekh Abdullah bin Uzair Ad-Dimaki.

Fasholatan Jawa. Kitab legendaris. Karena menurut Penerbit Karya Thoha Putra yang menerbitkannya, kitab ini telah terjual lebih dari 50 juta eksemplar sejak awal rilisnya pada 1953. KH. Raden Asnawi Kudus, yang juga memiliki karya Fasholatan, memberikan kata pengantar dalam buku ini dengan menggunakan syiir Jawa yang indah dan motivatif.

Fasholatan Sunda. Tidak berbeda dengan yang berbahasa Jawa yang mudah dipahami orang awam, Fasholatan atau kitab berisi tatacara shalat dan maknanya ini ditulis menggunakan bahasa Sunda.

Sabilul Munji Fi Tarjamati Maulid al-Barzanji. Diterbitkan Penerbit Menara Kudus, kitab beraksara Arab-Pegon ini merupakan terjemah bahasa Jawa atas Maulid al-Barzanji. Gaya bahasanya sangat mudah dipahami orang awam.

Risalatus Shiyam. Ditulis dengan menggunakan aksara Arab-Pegon berbahasa Jawa, ulasan dalam buku ini sangat renyah dan mudah dikunyah orang awam sekalipun. Kiai Ahmad membahas hukum puasa, penentuan awal Ramadan, persoalan yang terjadi di dalam Idul Fitri, zakat, juga ulasan mengenai transaksi perdagangan menggunakan uang kertas. Kitab yang selesai ditulis pada 1956 ini diterbitkan oleh al-Munawwar Semarang.

Tuntunan Puasa. Buku ini merupakan versi bahasa Indonesia kitab Risalatus Shiyam. Kali ini diterbitkan oleh Karya Thoha Putra pada 1987, jauh setelah karya versi Jawa diterbitkan pada 1956.

Terjemah Yasin, Waqi’ah dan al-Mulk. Sesuai judulnya, kitab ini merupakan terjemah berbahasa Jawa atas tiga surat al-Qur’an. Kiai Ahmad memulainya dengan menyertakan keteragangan hadits keutamaan membaca al-Qur’an dan ketiga surat tersebut.

Primbon Tahlil. Berisi Yasin dan fadhilahnya, tahlil, etika ziarah kubur, shalat mayyit, terjemah talqin, disertai dengan doa-doa dalam tradisi tahunan kaum muslimin (doa awal dan akhir tahun, nisfu sya’ban, doa asyura dan sebagainya).

Manarul Jum’ah. Berisi kumpulan materi khutbah Jum’at selama satu tahun. Ditulis menggunakan Aksara Arab-Pegon. Diterbitkan Pustaka Alawiyah Semarang.

Khutbah Jumat Pembangunan. Berisi kumpulan materi khutbah Jum’ah berbahasa Jawa. Ditulis menggunakan Aksara Arab-Pegon.

Miftahud Da’wah Wat-Ta’lim. 2 Jilid. Ditulis menggunakan bahasa Indonesia. Diterbitkan oleh Menara Kudus. Ulasan dalam buku ini bertema materi pokok di dalam kehidupan kemasyarakatan. Juga disertai dengan beberapa tema pembelaan terhadap amaliah nahdliyyin, seperti tahlil, tawassul, ziarah kubur, talqin, dan sebagainya.

Surat Yasin dan Tahlil. Arab beserta terjemahan Indonesia. Terbit pada 1987. Disebarkan oleh Karya Thoha Putera Semarang.

‘Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah. Kitab ini berisi terjemah Aqidatul Awam yang diberi judul Mursyidul Anam dengan ulasan utawi iki iku (makno gandul) dan dilanjutkan dengan menggunakan metode tanya jawab. Juga ulasan pengertian Ahlussunnah wal Jamaah menggunakan metode yang sama. Kitab ini juga berisi panduan Birul Walidain dan ‘Uququl Walidain berdasarkan hadits.

Manasikul Hajji wal Umrah. Panduan Umrah dan Haji Berbahasa Jawa. Versi lain dari Tashilut Thariq.

Tuntunan Shalat. Versi lain dari Fasholatan Jawa. Kali ini berbahasa Indonesia beraksara Arab-Pegon.

Tuntunan Menjadi Anak Soleh. Ulasan versi Indonesia kitab Birrul Walidain dan Uququl Walidain.

Tarikh Nabi. Sirah Nabawiyah yang dikemas dengan bahasa Jawa yang mudah dipahami.

Amalan Sehari-Hari.

Risalah An-Nahdliyyah.

Risalah Sapu Jagat

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya