Biografi KH. Ahmad Hafiduddin (Mbah Hafid Nogosari)

 
Biografi KH. Ahmad Hafiduddin (Mbah Hafid Nogosari)

Daftar Isi Profil KH. Ahmad Hafiduddin (Mbah Hafid Nogosari)

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mengisi di Pengajian
  6. Amalan-Amalan
  7. Karomah-Karomah

Kelahiran

KH. Ahmad Hafiduddin bin Usman Basyaiban atau yang kerap disapa dengan panggilan Mbah Hafid Nogosari lahir di Desa Brongkal Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Ageng Usman berasal dari mataram dan masih ada keturunan dengan Raden Fatah sekaligus juga keturunan Prabu Brawijaya Majapahit. Ayah beliau, KH. Ageng Usman di makamkan di pemakaman Gribik Malang.

Wafat

Mbah Hafid menghadap keharibaan ilahi Rabbi pada Senin tanggal  27 Shafar 1406 H, dalam usia kurang lebih 105 tahun. Beliau meninggalkan 12 putra-putri, dan diantaranya yang masih hidup : KH. Nur Ali Yasin, Kiai Imam Ahmad Nur Sadah, dan Kiai Hasan.

Keluarga

Sepulang dari belajar ilmu agama di Mekkah Mbah Hafid kembali mengabdi kepada gurunya KH. Khozin di Siwalan Panji, dan beliau pun di ambil menantu oleh Kiai Khozin dan dinikahkan dengan putrinya Nyai Muhsinah.

Pendidikan

KH. Ahmad Hafiduddin memulai pendidikannya dengan belajar ilmu agama kepada ayahnya. Setelah selesai, beliau melanjutkan dengan belajar ilmu agama kepada KH. R Khozin bin Khoiruddin bin Ahmad Al-Adhomat Khon Siwalan Panji Sidoarjo. Setelah bebarapa tahun beliau belajar kepada Mbah Kiai Khozin, Kiai Hafid berangkat menimba ilmu di Mekkah kurang lebih selama tujuh tahun. Menurut salah satu sumber dari Almarhum mbah Kiai Ibrohim Pasuruan (teman mondok Mbah Hafid) bahwasanya menurut beliau jika Kiai Hafid juga berguru kepada Mbah Kholil Bangkalan selama kurang lebih 16 tahun.

Mengisi di Pengajian

Setiap hari minggu beliau Mbah Hafid mengadakan pengajian kitab tafsir secara umum yang banyak di hadiri oleh masyarakat dan kiai-kiai sekitar Kecamatan Rambipuji.

Ketika membaca ayat-ayat suci al-Quran suara beliau sangat tartil,  merdu dan sangat fasih, beliau sangat hati-hati dan benar-benar menerapkan ilmu tajwid seuai makhorijul hurufnya. Begitu juga ketika beliau membaca aurad dzikir-dzikir beliau membacanya dengan cara perlahan, jelas, fasih, tidak terburu buru, karena bahasa arab beda pengucapan artinya bisa jauh berbeda.

Amalan-Amalan

Amalan utama Mbah Hafid, yang menjadi dasar hidup yang sangat di pegang teguh ada 2 hal, yaitu :

  1. Mengerjakan wudlu di usahakan dengan sesempurna mungkin
  2. Mengerjakan shalat di usahakan dengan sesempurna mungkin

Sampai-sampai Mbah Hafid ketika akan melaksanakan shalat beliau berdandan terlebih dahulu, memakai minyak wangi, memakai celak, memakai jam tangan, memakai sarung paling bagus, pakaian paling bagus, jubahpaling bagus, serban yang paling bagus. Dan beliau senantiasa mengerjakan shalat lima waktu secara berjamaah. Sehingga apabila ada santri atau salah satu keluarga beliau sendiri yang tidak shalat berjamaah maka beliau tidak segan-segan untuk memberikan hukuman.

Karomah-Karomah

Mbah Hafid tidak hanya terkenal dengan kealimannya tapi juga dengan kekeramatanya, banyak orang yang sowan kepada beliau minta sambung barokah doa, mulai dari habib, ulama, kiai, masyarakat umum dan orang-orang non muslim, juga orang-orang tionghoa atau china.

Habib Muhammad bin Ali Al-Habsy dari Ketapang Probolinggo sendiri sangat menghormati Mbah Hafid Nogosari, sampai-sampai karena ta’dzimnya Habib Muhammad beliau tidak berani duduk dihadapannya tanpa seizin Mbah Kyai Hafid.

Menurut beberapa sumber yang bisa dipercaya salah satu kekeramatan  Mbah Hafid yang luar biasa yang Allah anugrahkan bahwasannya beliau sering dirawuhi (di kunjungi) Rasulullah secara yaqdloh secara sadar.  Kejadian ini sering terjadi kepada orang-orang yang sudah menjadi pilihan Allah, yang memiliki tingkat mahabbah billah serta mahabbah birrasul yang tinggi.

Suatau hari sekitar tahun 1975 Mbah Hafid kedatangan tamu istimewa dari Brongkal Malang, yang tidak lain adalah adik kandung beliau sendiri yang bernama KH. Muhammad Kholil bin Usman (Mbah Kholil Brongkal) yang rencana mau pamitan kepada sang kakak untuk menunaikan ibadah Haji. Belum sempat Kiai Kholil masuk rumah tiba-tiba Mbah Hafid sudah keluar untuk menyambut sang adik langsung menciuminya dan memeluknya begitu lama sambil beliau menangis, dengan suara gemetar Mbah Hafid mengucapkan waktunya sudah tiba – waktunya sudah tiba. Ternyata sang adik tercinta di panggil oleh Allah dan di makamkan di Makkah.

Selain itu, ada suatu kisah yang menarik, suatu hari Pak Sholeh sowan kepada Mbah Kiai Khotib Abdul Karim Curah Kates- Ajung Jember yang juga terkenal kekeramatannya, banyak yang mengatakan jika Mbah Khotib adalah seorang Waliyullah.

“Namamu siapa dan darimana”? tanya Kiai Khotib

“Nama saya Sholeh dari Nogosari Kiai”, jawab sang tamu

Kamu beruntung tinggal di Nogosari, disitu ada wali agung yang masih hidup dan kedudukanya lebih tinggi dari saya, Mbah Hafid itu adalah Wali Qutub.

Begitu kata Mbah Khotib kepada Pak sholeh.

Ucapan beliau yang terkenal dan di ketahui banyak orang, bahwasanya beliau Mbah Hafid pernah berkata “saya mengetahui jumlah para wali-wali Allah di dunia ini, lokasi atau tempat dimana mereka tinggal, saya mengetahui mereka semua tetapi mereka tidak mengetahui saya”.

Suatu ketika Mbah Kiai Hafid di depan rumah beliau, tiba-tiba Mbah Hafid berteriak-teriak memanggil Wahyu...... Wahyu.... kamu segera kesini. Wahyu adalah Khadam sekaligus santrinya Mbah Kiai afid

“Ada apa Mbah Kiai” ? tanya Wahyu

“Sebentar lagi akan ada peristiwa besar, aku melihat di langit ada tulisan besar Lailaha illa Allah Muhammadurasulullah, yang arahnya dari pasuruan tepatnya di lokasinya KH. Hamid Pasuruan, dan aku juga punya tulisan itu berada atasku,” Jawab Mbah Kiai Hafid.