Biografi KH. Ma'mun Ahmad Kudus

 
Biografi KH. Ma'mun Ahmad Kudus
Sumber Gambar: Dok. Laduni.ID

Daftar Isi Profil KH. Ma'mun Ahmad Kudus

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Mengasuh Pesantren
  5. Menjadi Direktur di Madrasah TBS
  6. Teladan

Kelahiran

KH. Ma'mun Ahmad Kudus atau yang kerap disapa dengan panggilan Mbah Ma'mun lahir di Kudus, Jawa Tengah. Beliau merupakan ke empat dari empat bersaudara, dari pasangan KH. Ahmad dan Nyai. Hj. Suparmi. Saudara-saudara beliau diantaranya, Ibu Muslimatun, Ibu Malihah, H. Abdul Muhid dan H. Ma'mun.

Wafat

KH. Ma'mun Ahmad Kudus wafat pada hari Ahad Legi, 22 Shafar 1423H/5 Mei 2002 dalam usia 87 tahun.

Sepanjang hayat dihabiskan untuk mengabdi di Pon-Pes TBS dan Madrasah TBS serta Madrasah-Madrasah lainnya di daerah Kudus, beliau juga banyak andil di masyarakat dan sosial dan hasil anak didik beliau sekarang banyak bermunculan sebagai ulama'-ulama' besar di Kudus seperti KH. Ma'ruf Irsyad (Rois Syuriyah PC NU Kab. Kudus), KH. Ahmad Basyir Jekulo (Mustasyar PC. NU Kudus), KH. Mohammad Mansur (Ketua Pengurus TBS Kudus), KH. Imam Sofwan (Ketua Umum PC NU Kab. Pati), dan KH. Abdulloh Sa'ad (Da'i dan Pengrus PC NU Kota Solo).

Beliau selalu berpesan "ati-ati zaman wea eker (lebih dari akhir) sakiki akeh wong ngelakoni duso tapi ura rumongso koyo wong kesandung roto kebentus awang-awang (hati-hati zaman sudah akhir sekarang banyak orang melakukan dosa tapi tidak terasa seperti orang yang tersandung jalan yang rata dan kebentur langit”.

Pendidikan

Ketika KH. Ma'mun Ahmad Kudus masih kecil, beliau berguru kepada KH. R. Asnawi dan KH. Arwani Amin. Dalam belajar dan mengaji beliau termasuk santri yang cerdas, dan beliau menjadi santri kinasih. Hingga suatu saat beliau ketika masih usia enam tahun mondok di Pondok Pesantren yang diasuh oleh KH. Asnawi dan diajak oleh KH. R. Asnawi dalam pengajian berzanji keliling Kota Kudus sampai Pati dan setelah acara tiba-tiba beliau disuruh berdoa sehingga menimnulkan pertanyaan oleh masyarakat, kenapa anak kecil yang berdoa. Kemudian dijawab oleh KH. R. Asnawi “anak kecil itu belum banyak dosanya sehingga doanya dikabulkan oleh Allah SWT”.

Delain belajar kepada KH. R. Asnawi dan KH. Arwani Amin beliau juga diajari oleh orang tuanya sendiri yaitu KH. Ahmad. Hingga pada suatu hari beliau bertemu dengan Mbah Sholeh Tayu Pati (ayahanda KH. Amin Sholeh) ketika berkunjung ke Ndalemnya KH. R. Asnawi bertemu dengan beliau mengajaknya ke Pati untuk diasuh dan dijadikan santri.

Beberapa tahun selanjutnya bersama Mbah Sholeh melanjutkan mondok ke KH. Dimyati Tremas Pacitan. Dalam perjalanan ke Tremas beliau menghafalkan kitab Alfiyah Ibnu Malik sampai benar-benar hafal. Di Tremas beliau termasuk santri kesayangan dan bahkan beliau akan dijadikan menantunya.

Selain nyantri kepada KH. Dimyati Tremas, beliau juga nyantri kepada Sayyid Ali Tuban dan usia muda beliau dihabiskan untuk mencari ilmu sampai usia 35 tahun.

Menjadi Pengasuh

Setelah beberapa tahun belajar kepada Syekh Dimyati Termas, beliau pulang ke Kudus untuk membantu mengajar di Pon-Pes TBS Kudus yang didirikan oleh kakek beliau KH. Abdul Lathif, didirikannya Pon-Pes TBS adalah sebagai wahana pembelajaran agama Islam ala Ahlusunnah waljama'ah. Berawal dari Pon-Pes TBS berkembang ide berdirinya Madrasah NU TBS Kudus dari Kiai Muhith (Kakak beliau) sebagai lembaga pendidikan formal, karena pesatnya pertumbuhan santri yang mengaji gagasan pendirian pondok TBS mendapatkan banyak dukungan dari para ulama dan masyarakat sebagai upaya untuk mendidik generasi penerus yang cerdas dan berakhlakul karimah.

Sebagai tindak lanjut untuk mendirikan Madrasah TBS Kudus diperlukan persiapan sarana dan prasarana, maka diadakanlah musyawarah yang dipimpin oleh Kiyai Muhith dengan mengundang ulama' dan tokoh masyarakat. Dari musyawarah tersebut terbentuklah suatu kepengurusan yang akan mengelola dan mengurus Madrasah TBS Kudus yaitu, Bp. Kromo Wijoyo, Bp. Asrurun, H. Nur Syahid, Bp. Chadziq, Bp. Nur Khudrin, H. Toyyib, Bp. Muqsith, Bp. H. Haris dan beliau sendiri.

Setelah terbentuk kepengurusan maka atas berkah rahmat dari Allah Madrasah TBS berdiri pada tanggal 7 Jumadil Akhiroh 1347H/21 November 1928. pertama kalinya nama TBS adalah "Tasywiquth Thullab Kudus" kemudian berubah oleh KH. Abdul Jalil menjadi "Tasywiquth Thullab School" (Pada zaman penjajahan) dan oleh KH. Turaichan Adjuri dirubah menjadi "Tasywiquth Tullab Salafiyah" dengan singkatan TBS.

Menjadi Direktur di Madrasah TBS

Dalam perjalanan kariernya, KH. Ma'mun Ahmad Kudus diangkat menjadi Direktur Utama Madrasah TBS Kudus, beliau sering keliling kelas dengan mengecek kondisi setiap kelas di TBS dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah I'dadiyah (MPTs), Madrasah Tsanawiyah (MTs) hingga Madrasah Aliyah (MA) agar selalu menghadap kiblat ketika pembelajaran.

Selain itu keikhlasan dalam mengamalkan ilmu juga menjadi semangat beliau dalam mengajarkan pelajaran kepada santri-santrinya, semangat untuk terus mengajar sampai akhir hayat juga menjadi spirit beliau sehingga pada suatu ketika beliau sakit dan tak mampu berdiri,beliau masih ingin mengamalkan Ilmunya sehingga siswa-siswa TBS yang hadir di ndalem beliau.

Salah satu sifat beliau adalah sifat selalu berprasangka baik (husnudzon) kepada Allah SWT sehingga pada suatu ketika beliau sakit panas dan disuruh memijat salah satu santrinya beliau selalu mengucapkan hamdalah berulang-ulang dan ketika santrinya bertanya "Mbah Yai sakit kok malah mengucapkan hamdalah," Mbah Ma'mun Ahmad Menjawab "alhamdulillah badan saya panas jadi tidak usah repot-repot memasak air panas karena telah dikasih oleh Allah" dan ketika beliau kedinginan beliau berkata "alhamdulillah saya kedinginan jadi tidak usah membeli es" hemat kata itu merupakan ungkapan hati seorang yang selalu ridlo dengan takdir-Nya.

Sehingga apapun yang terjadi pada diri manusia kalau tahu semua datangnya dari Allah maka yang pahit akan berubah menjadi manis, ujian dan cobaan dianggap sebagai kenikmatan. beliau juga terkenal dengan kezuhudannya dan menjauhi barang-barang syubhat (tidak jelas halal-haramnya), sehingga sampai sekarang ajaran beliau diterapkan di Ponpes TBS dan Madrasah TBS bahwa tidak mau menerima bantuan dari pemerintah (syubhat).

Teladan

KH. Ma'mun Ahmad Kudus adalah pribadi yang bersahaja (zuhud) bahkan dalam sepanjang hayatnya beliau tidak memikirkan tentang kebendaan (duniawi) dan kata beliau "masalah rizqi semua makhluk kabeh wes ono sing ngatur," (masalah rizqi semua makhluk semua sudah ditentukan sama Allah SWT). Namun dibalik kesederhanaannya beliau mempunyai sifat sosial yang tinggi sehingga beliau dikenal sebagai sosok yang dermawan, disiplin dan tegas.

Selain itu, prinsip perjuangan beliau adalah menjalankan dakwah dengan penuh keihlasan tanpa pamrih, walau dalam keadaan sakit masih mengajar, demikianlah keihlasan beliau dalam mengajarkan ilmu agama tanpa mengenal lelah, salah satu kebiasan beliau juga setiap hari jum'at menjalankan sholat Jum'at keliling hingga kepelosok-pelosok desa di Kabupaten Kudus.

Kebiasaan ini dimaksudkan untuk mengecek apakah di desa-desa imam masjid sudah membaca al-Qur'an sesuai tajwid dan masih menjalankan nilai-nilai ahlusunnah waljama'ah. kebiasaan tersebut melanjutkan seperti kebiasaan sang gurunya (KH. Arwani Amin).

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya