Biografi KH. M. Cholil Bisri

 
Biografi KH. M. Cholil Bisri

Daftar Isi

1        Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1     Lahir
1.2     Riwayat Keluarga
1.3     Wafat

2         Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1      Masa Menuntut Ilmu
2.2      Guru-Guru Beliau
2.3      Mengasuh Pondok Pesantren

3         Penerus Beliau
3.1      Putera-puteri Beliau
3.2      Murid-murid Beliau

4        Jasa, Karya, dan Karir Beliau
4.1     Jasa-jasa Beliau 
4.2     Karya-karya Beliau 
4.3     Karier Beliau

5        Kisah Teladan
5.1     Tetap Mengajar Walau Sakit
5.2     Pemilihan Voting

6        Pengabdian di Nahdlatul Ulama (NU)

7        Referensi

 

1       Riwayat Hidup dan Keluarga


1.1    Lahir

KH. M. Cholil Bisri lahir pada tanggal 12 Agustus 1942 M bertepatan tanggal 27 Rajab 1263 H di Desa Kasingan Kecamatan Rembang Jawa Tengah.117 Mbah Cholil adalah putra dari pasangan suami istri KH. Bisri Mustofa dan Nyai Hj. Ma’rufah binti KH. Cholil Harun. KH. M. Cholil Bisri adalah putra pertama dari delapan bersaudara, empat putra dan empat putri, yaitu: M. Cholil Bisri (1942 M), A. Mustofa Bisri (1943 M), M. Adib Bisri (1950 M), Faridah (1952 M), Najichah (1955 M), Labib (1956 M), Nihayah (1958 M), Atikah (1964 M) dari pasangan KH. Bisri Mustofa dan Nyai Hj. Ma’rufah.

Ayahnya KH. Bisri Mustofa adalah seorang Kiai yang disegani di Jawa pada masa 1960-1978. Ayahnya, sebagai menantu Kiai Kholil bin Harun Kasingan yang terkenal di tanah Jawa sebagai ahli Nahwu (tata bahasa Arab) dan ilmu Manthiq (seni logika), memiliki kewajiban melanjutkan perjuangan mertuanya.


1.2     Riwayat Keluarga

KH. Cholil Bisri menikah dengan putri Kiai Shoimuri yang bernama Nyai Hj Muchsinah pada tanggal 19 Oktober 1964 dan dikaruniai  delapan orang anak, yaitu:

  1. Yahya  Cholil  Tsaquf  (1966)
  2. Ummi  Kultsum  Cholil  Zalith  (1968)
  3. Zainab  Cholil  Qutsumah  (1970)
  4. Yaqut  Cholil  Qoumas  (1975)
  5. Faizah  Cholil  Tsuqoibak  (1976)
  6. Bisri Cholil  Laquf  (1978)
  7. Hanis  Cholil  Barro’  (1982)
  8. M.  Zaim  Cholil Mumtaz (1991)

 

1.3     Wafat

KH. Cholil Bisri meninggal dunia dalam usia 62 tahun pada 23 Agustus 2004 pukul 20.40 di rumahnya di Leteh, Rembang, Jawa Tengah. Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang, itu meninggalkan, seorang istri Hj Muhsinah, delapan anak, dan sejumlah cucu. Beliau dikebumikan di pemakaman desa, di  Kabongan Kidul, kabupaten Rembang, tidak jauh dari kompleks Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang. 

2       Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau


2.1       Masa Menuntut Ilmu

KH. Cholil Bisri memulai pendidikanya dengan Sekolah, di SR (Sekolah Rakyat) 6 Kartioso. Di sekolah tersebut, beliau hanya menempuh waktu lima tahun, karena pada waktu itu, beliau langsung diterima di kelas dua dan tidak mau satu kelas dengan adiknya, Mustofa, yang pada saat bersamaan masuk kelas satu.

Selain menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat (1954), Cholil juga sekolah di Madrasah Ibtidaiyah (1954), kemudian melanjutkan di SMP Taman Siswa (1956) bersamaan dengan sekolah di Perguruan Islam (1956). Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, (1957), Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta (1960), Aliyah Darul Ulum Mekah (1962), dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Ketika Cholil diminta oleh KH. Machrus Ali dari Lirboyo dan KH. Ali Maksum Krapyak untuk nyantri di pesantrennya, beliau diminta memilih sendiri. kemudian memilih nyantri di kedua tempat itu.

Di tangan KH. Ali Maksum, beliau terasah tradisi menulisnya, karena setiap membuat kesalahan beliau diberi ganjaran. Salah satu ganjarannya, beliau disuruh menulis kitab tertentu dua kuras beserta artinya. Tradisi ini ikut membentuk tradisi menulis Kiai Cholil ketika dewasa.


2.2       Guru-Guru Beliau

  1.    KH. Bisri Mustofa
  2.    KH. Ali Maksum
  3.    KH. Machrus Ali


2.3       Mengasuh Pondok Pesantren

Pada waktu KH. Bisri Mustofa wafat, proses kegiatan belajar mengajar di Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin tetap seperti sedia kala, tanpa ada kendala yang secara serius mengganggu akibat ditinggal oleh pengasuhnya. Ini tidak terlepas dari upaya Kyai Bisri dalam hal mempersiapkan regenerasi kepemimpinan yang bisa meneruskan cita-cita dan harapan ia sepeninggalnya nanti. Sepeninggal Kyai Bisri Mustofa keberlangsungan kegiatan belajar mengajar menjadi tanggung jawab bersama antara KH. Cholil Bisri dan KH. A. Mustofa Bisri. Hal itu terlihat dari pembagian tugas antara keduanya dalam mengasuh pengajian rutin hari Selasa dan Jum’at. Di pesantren, KH. M. Cholil Bisri mengajar bandongan Alfiyah, Syarah Fath al-Muin, Jam’ul Jawami’, dan Ihya’ Ulumuddin.

Dalam mendidik santri, KH. M. Cholil Bisri tidak hanya menggunakan sistem konvensional yang dipraktekkan oleh lembaga formal yaitu transfer of knowledge (memberikan pengetahuan ). Namun, sesuai dengan pesan sang abah, ia pun tidak pernah lupa mendoakan para santri agar memperoleh ilmu yang bermanfaat. Dengan upaya semacam ini para santri diharapkan senantiasa berjalan lurus dalam mengamalkan dan memanfaatkan ilmunya.


3       Penerus Beliau

3.1      Putera-puteri Beliau

Puteri-puteri penerus KH. M. Cholil Bisri adalah:

  1. Yahya  Cholil  Tsaquf  (1966)
  2. Ummi  Kultsum  Cholil  Zalith  (1968)
  3. Zainab  Cholil  Qutsumah  (1970)
  4. Yaqut  Cholil  Qoumas  (1975)
  5. Faizah  Cholil  Tsuqoibak  (1976)
  6. Bisri Cholil  Laquf  (1978)
  7. Hanis  Cholil  Barro’  (1982)
  8. M.  Zaim  Cholil Mumtaz (1991)


3.2      Murid-murid Beliau

             Murid-murid KH. M. Cholil Bisri adalah para santri-santri di Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Rembang.

 

4       Jasa, Karya, dan Karir Beliau

4.1      Jasa-jasa Beliau

            i. Menjadi Laskar Hisbullah

Masa kecil Kiai Cholil Bisri dihabiskan di pengungsian. Bergaul dengan Laskar Hisbullah karena saat itu Ayahnya turut serta mengangkat senjata bersama santri-santri dengan mengajak anak istrinya.

Ketika itu terjadi peristiwa PKI di Madiun 1948. Ayahnya termasuk orang yang diburu oleh PKI saat itu. Sehingga mereka harus mengungsi ke arah timur, tepatnya ke Pare, sekitar Kediri. Pada masa pegungsian itu, ayahnya punya usaha kecil, membuat kertas daur ulang.

Dari kertas bekas koran diolah menjadi bubur, dibentuk dan dijemur menjadi kertas. Kemudian dipotong untuk dibuat kertas buku-buku catatan kecil (notes). Lalu dijual. Kiai Cholil Bisri sendiri sering ikut menjualnya. Di sini jiwa wirausahanya mulai terbangun.

            ii. Mendirikan Partai PKB

Sebelum PKB didirikan, Kiai Cholil Bisri tampak tertarik untuk berkiprah di PPP lagi, yaitu pada 1992 saat ia masuk DPR RI dari PPP. Tetapi, ketika PKB didirikan, kiprahnya juga besar di partai ini. Sebelum PKB didirikan oleh Tim Kerja PBNU, inisiatif awal untuk membentuk sebuah partai terjadi pada 30 Mei 1998 ketika diadakan istighatsah kubro di Jawa Timur, dan banyak kiai yang berkumpul di Kantor PWNU Jawa Timur.

Setelah acara itu, banyak kiai mendesak Kiai Cholil Bisri supaya menggagas dan membidani pendirian partai bagi wadah aspirasi politik NU. Pada 6 Juni 1998, beliaumengundang 20 kiai untuk membicarakan hal tersebut, dan tidak kurang 200 orang kiai datang. Dari pertemuan di rumahnya inilah gagasan tersebut mengkristal sampai proses pendirian PKB oleh Tim Kerja PBNU.

Ketika PKB dideklarasikan pada 23 Juni 1998, Kiai Cholil Bisri menjadi salah satu tokoh penting. Ia menjadi Wakil Ketua Dewan Syuro DPP PKB, dengan Ketua Dewan Syuro KH. Ma’ruf Amien dan Ketua Dewan Tanfdiziyah Matori Abdul Djalil. Keterlibatannya dalam PKB mengantarkannya menjadi anggota DPR dari PKB, bahkan sampai menjadi Wakil Ketua MPR.


4.2      Karya-karya Beliau

             1. Kami Bukan Kuda Tunggang 
             2. Ketika Biru Langit

4.3      Karier Beliau

            Dalam karir politik, jabatan yang pernah beliau pegang:
           i.  Ketua PPP Rembang (1973-1995)
           ii. Ketua MPW PPP Rembang (1995-1998)
          iii. Anggota FPP DPRD II Rembang (1970-1982)
          iv. Pimpinan Dewan FPP DPRD II Rembang (1982-1992)
          v.  Anggota FPP DPR/MPR RI (1992-1997)
          vi. Anggota Fraksi Utusan Daerah MPR RI Pusat (1997-1999)
         vii. Anggota FKB DPR/MPR RI (1999-2004), Wakil Ketua MPR RI (2002-2004)

 

5       Kisah Teladan


5.1     Tetap Mengajar Walau Sakit

KH. M. Cholil Bisri pada para santri ia rela pulang-pergi Jakarta-Rembang hanya untuk keperluan mengajar, meskipun hanya sehari beliau pulang dan kembali ke Jakarta.

Bahkan untuk gajian beliau waktu itu selaku wakil ketua MPR habis hanya untuk membeli tiket. Bahkan ketika KH. M. Cholil Bisri sama sekali tidak menampakkan diri sebagai orang yang sedang sakit, beliau tetap mengajar seperti biasa hingga akhirnya ketika telah parah baru diketahui kalau sedang sakit. 

5.2      Pemilihan Voting

Konbes NU di Bandar Lampung kebingungan memilih Rais 'Aam baru. Kiai Achmad Shiddiq telah wafat, Kiai Ali Yafie mengundurkan diri. Kiai Yusuf Hasyim, calon terkuat, didelegitimasi keponakannya sendiri.

Konbes pun kehilangan arah.

Dikerumuni wartawan, KH. M. Cholil Bisri melontarkan statement,

"Istikhoroh saja!"

"Bagaimana caranya?" wartawan bertanya.

"Pilih 40 orang kiai ahli riyadloh (tirakat). Beri kesempatan mereka beristikhoroh. Sesudah itu, saling mecocokkan isyaroh yang didapat masing-masing..."

Wartawan tak puas,

"Kalau diantara 40 kyai itu hasil istikhorohnya berbeda-beda bagaimana?"

Jawaban KH. M. Cholil Bisri mantap:

"Ya divoting!"

“Kalau Suap, Ya Jelas Neraka”

 

6   Pengabdian di Nahdlatul Ulama (NU)

Dalam organisasi, KH. M. Cholil Bisri berkiprah di lingkungan NU. Dimulai ketika beliau aktif sebagai Ketua GP Ansor Rembang, hingga menjadi ketua Partai NU Rembang (ketika NU menjadi partai sendiri pada 1971), Ketua DPC PPP (ketika NU fusi dengan PPP). Beliau juga pernah menjadi A’wan dan Mustasyar PWNU Jawa Tengah, dan Ketua MPW PPP Jawa Tengah.

Pada awalnya KH. M. Cholil Bisril tidak berkecimpung di partai politik. Sampai suatu ketika Kiai Ali Maksum menegurnya di Munas Alim Ulama Kaliurang Yogyakarta, “Kamu kok tidak ikut main politik seperti adikmu, Mustofa, kenapa?”

Pada akhirnya Kiai Cholil tertarik juga di politik, dan beliau memiliki parodi yang sangat mendalam tentang NU dalam politik. Parodinya yang sering dikutip berbunyi, “NU itu sering diidoni (diludahi).”

Karena keterlibatannya dalam PPP, pada 1982 beliau diminta untuk menjadi anggota DPRD Tingkat I, tetapi beliau menolak, karena beliau berprinsip harus mengurus pesantren.

Waktu itu, KH. M. Cholil Bisri hanya mau di DPRD Tingkat II, seumur hidup. Terlebih lagi setelah ayahnya meninggal pada 1977, beliau memegang tanggung jawab untuk menjadi pengasuh di Pesantren Raudhatut Thalibin.

Pada masa NU bergabung ke dalam PPP, di Muktamar 1994, faksi NU membentuk Kelompok Rembang, merujuk nama tempat kiai Cholil Bisri menjadi motor pentingnya. Kelompok ini semula bermaksud mengajukan tokoh NU untuk bersaing dengan Buya Ismail Metareum dari unsur Muslimin Indonesia (MI).

Bersama Matori Abdul Djalil, Imam Churmen, dan lain-lain, mereka mengoordinasi faksi NU di PPP. Tetapi, ketika pertarungan itu belum terlaksana Kelompok Rembang justru buyar karena sebelum Muktamar PPP sudah terjadi perpecahan dengan keluarnya kelompok Hamzah Haz dari Kelompok Rembang. Meski demikian, nama Kiai Cholil Bisri sangat dihormati sebagai sosok kiai politisi yang gigih membela NU.

Ketika NU kembali ke Khittah pada 1984, Kiai Cholil ikut terlibat dalam pemulihan Khittah NU. Dalam Muktamar NU ke-27 (1984), yang merumuskan Khittah NU, Kiai Cholil Bisri menjadi Ketua Panitia Perumus di Komisi Program dengan Sekretaris H. Tan Gatot dan anggota-anggota: H. Dahlan Ch, H.M. Husaini Tiway, H.M. Utsman Limbong, H.M. Asy’ari Sanak, H. Asnawi Lathif, H. Muhammadiyah, dan H. Syafrudin Syah.

 

7      Referensi

             https://www.gusmus.net/

 

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya