Biografi Habib Alwi bin Syihab

 
Biografi Habib Alwi bin Syihab

Daftar Isi Profil Habib Alwi bin Syihab

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Murid-Murid

Kelahiran

Habib Alwi bin Syihab adalah putra pasangan Muhammad bin Ali dengan Fatimah binti Muhammad bin Umar. Beliau dilahirkan di kampung an-Nuwaidiroh di kota Tarim pada bulan Muharrom 1303 H.

Nasab ibu dan ayah Habib Alwi bin Syihab bertemu di kakeknya Al-Faqih Al-Muqaddam. Beliau adalah keturunan Rasulullah SAW ke 37 dari sisi bapanya, dan 36 dari sisi ibunya

Nasab dari ayahnya sebagai berikut, Alwi bin bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Idrus bin Ali bin Muhammad bin Syeikh Syihabuddin Ahmad bin Abdurrahman bin Syeikh Syihabuddin Ahmad bin Abdurrahman bin Syeikh Ali bin Abu Bakar As-Sakran. Sedangkan  ibunya bernama Fatimah binti Muhammad bin Umar bin Ahmad Bilfaqih keturunan dari Al-Faqih Al-Muqaddam.

Sejak kecil Habib Alwi bin Syihab menderita sakit parah yang mengganggu pertumbuhannya, ketika Sayyid Al-Mursyid Idrus bin Umar Al-Habsyi berkunjung ke Hawi, Tarim, pamannya pun segera membawanya ke sana dan memintanya untuk mendo'akannya, sayyid Idrus kemudian meletakkan tangannya ke perutnya dan menyapu kepalanya sambil membaca do'a selama satu jam, kemudian ia menyuruh paman Alwi (Muhammad) untuk memberinya minum minyak (samin), beliau berkata : "Insya Allah ia akan sembuh, sesungguhnya aku tidak datang kesini kecuali untuk anak itu".

Wafat

Habib Alwi bin Syihab berpulang ke rahmatullah pada hari Sabtu 12 Ramadhan 1386 H, sekitar jam 02.00 malam di Tarim. Beliau meninggal dunia akibat sakit.

Pendidikan

Habib Alwi bin Syihab kecil diasuh oleh ibunya dan dididik oleh pamannya Syeikh bin Idrus bin Abdullah Al-Aydrus dan Ahmad bin Muhammad bin Abdullah Al-Kaff, karena saat itu ayahnya sedang pergi merantau ketanah Jawa.

Kepada pamannya lah, Habib Alwi bin Syihab memulai pendidikannya, dengan belaja membaca, menulis dan al-Qur’an, Fiqih serta tasawuf. Tempat beliau belajar di zawiyah masjid Syeikh Ali dengan Mufti Diyar Hadhramaut Al-Habib Abdurrahman Al-Masyhur (pengarang Bugyatul_mustarsyidin).

Ketika usianya menginjak 11 tahun atau tepatnya pada tahun 1318, ibunya meninggal dunia akibat mewabah penyakit kolera.

Akan tetapi, pamannya, Sayyid Abdurrahman menyuruhnya untuk tetap aktif dalam rutinitas belajarannya, sayyid Abdurrahman menasehati  "Jangan takut, kamu tidak akan menderita penyakit tersebut". Beliau pun taat dan pergi sebagaimana biasa, tanpa pernah menderita penyakit tersebut. Akhrinya, beliau belajar kepada guru-guru yang ada di sana.

Diantara guru-gurunya :

  1. Al-'Arifbillah Abdullah bin Hasan bin Sholih Al-Jufri Al-Bahr
  2. Idrus bin Alwi bin Idrus Al-Aydrus
  3. Al-Habib Muhyiddin bin Abdullah bin Husain Bilfaqih
  4. Al-'Arifbillah Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi
  5. An-Nibros Al-Habib Ahmad bin Hasan bin Abdullah Al-Atthas
  6. Sayyid Segaff bin Hasan bin Ahmad bin Husain Al-Aydrus
  7. Abdullah bin Umar As-Syatiri
  8. Syeikh Ahmad bin Abdullah bin Abu Bakar bin Abdullah Al-Bakri Al-Khatib

Murid-Murid

Kesabarannya menuaikan hasil yang tidak sia-sia sampai diangkat menjadi guru besar di Tarim di zawiyah.

Murid-murid beliau yang hadir saat beliau duduk mengajar adalah ulama-ulama besar, bahkan sebagian gurunya ikut belajar kembali dengannya, diantara mereka (muridnya) :

  1. Al-'Allamah Ahmad bin Abdurrahman bin Ali As-Segaff
  2. Al-'Allamah Muhammad bin Hadi bin Hasan As-Segaff
  3. Al-'Allamah Abdurrahman bin Ubaidillah bin Muhsin As-Segaff
  4. Al-'Allamah Abdullah dan Alwi bin Thahir Al-Haddad
  5. Al-'Allamah Salim bin Hafizh bin Syeikh Abi Bakar bin Salim

Ketulusan Dakwah Dan Kesungguhan Mujahadah Menginjak dewasa, beliau enggan untuk memberikan ceramah atau pengarahan di depan para guru-gurunya seperti Al-Habib Husain, sampai akhirnya sang guru (Al-Habib Husain) duduk di belakang secara sembunyi dalam masjid Syihabuddin mengikuti pengarahan Al-Habib Alwi.

ketika itu, Al-Habib Husain sudah melihat kemapanan Habib Alwi, beliau menyuruhnya untuk meneruskan, bahkan masyarakat yang tersentuh hati mereka dengan nasihatnya, meminta agar Habib Alwi melowongkan waktu tambahan selain hari Jumat, beliau pun mengabulkannya dan menempatkannya di masjid Baharun pada Senin malam.

Kemudian pindah ke masjid Surur yang sekarang dijalankan cucunya Habib Abdullah bin Muhammad bin Alwi Syihabuddin. Beliau juga mewarisi sifat-sifat kakeknya Nabi Muhammad SAW shalatnya adalah penyejuk hatinya, istiqomah dalam ibadah dan membaca wirid, lebih-lebih lagi di bulan Ramadhan, dibulan yang penuh berkah ini beliau hanya tidur 2/3 jam.

Suatu ketika seorang ulama bermimpi bahwa kubur sayyid Alwi berada di halaman masjid Syeikh Abdullah bin Syeikh Al-Aydrus sedang dikerumuni oleh masyarakat, sesudah delapan hari ia menceritakannya kepada Al-Habib Abdullah bin Alwi bin Zein Al-Habsyi, beliau menjawab : "Nafsu kita masih hidup dalam diri kita masing-masing, sementara nafsu Al-Habib Alwi sudah terkubur dalam kuburan tersebut".

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya