Sejarah Islam di Nusantara dari Orientalis Perlu Dipertanyakan
LADUNI.ID, Jakarta - Sebagian besar kaum orientalis berkesimpulan bahwa Islam yang dibawa ke Nusantara berasal dari anak benua India, bukan dari Arab atau Persia. Menurut G.W.J. Drewes dalam New Light On the Coming of Islām to Indonesia – seorang orientalis Belanda yang menekuni penelitian tentang Indonesia. Asumsi dasar teori tersebut berasal dari seorang sarjana Belanda, Pijnappel. Pijnappel berpendapat bahwa penyebaran Islam Nusantara berasal dari orang Arab bermadzab syafi’i di wilayah anak benua India, yaitu Gujarat dan Malabar, karena seringkali penyebutan dua daerah ini ditemukan dalam sejarah awal nusantara. Awalnya, kita melihat bahwa Pijnappel pertama kali menduga bahwa Islam yang dibawa ke Nusantara tidak berasal langsung dari Arab. Selanjutnya, Pijnappel membuat kesimpulan baru. Dia mempertahankan bahwa para Rasul paling awal adalah bukan orang India, melainkan orang Arab yang kemudian ke Gujarat dan Malabar.
Setelah Pijnappel, menurut Drewes, ada sarjana belanda lain, yaitu Snouck Hurgrone, yang berpendapat bahwa Islam dibawa ke Nusantara dari India, dan tidak secara langsung dari Arab. Pada tahun 1883, Hurgronje memberi sebuah pernyataan di sebuah pameran di Amsterdam yang mana dia pertama kali mengumumkan dan mengembangkan teorinya bahwa India Selatan adalah asal dari Islam Nusantara. Dia menyarankan bahwa Islam telah memasuki kota-kota pelabuhan di India Selatan. Banyak warga muslim Decca yang hidup sebagai tengkulak dalam perdagangan antara negara muslim timur-dekat dan Nusantara. Para pedagang muslim lah yang mengislamkan para kaum pribumi nusantara pertama kalinya. Kemudian orang-orang Arab, khususnya keturunan Rasulullah yang bergelar Sayyid atau Sharif, menyempurnakan dakwah Islam yang tidak hanya bertindak sebagai imam tetapi juga Sultan. Hurgronje telah menduga bahwa tahun 1200 adalah tahun awal dari Islamisasi Nusantara. Islamisasi paling awal adalah hasil dari orang-orang India yang telah berhubungan dengan Nusantara selama berabad-abad.
Tahun 1912, buku Islām Comes to Malaysia menyatakan bahwa J.P. Moquette membuat penemuan penting. Menurutnya, tipe batu nisan di Pasai tahun 1424 identik dengan tipe batu nisan yang ditemukan di makam Maulana Malik Ibrahim (w. 1419) di Gresik. Dan penemuan batu nisan di Pasai dan Gresik tersebut sama dengan batu nisan yang ditemukan di Cambay, Gujarat. Berdasarkan penemuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa para pembuat batu nisan di Gujarat tidak hanya memproduksi untuk dijual di pasar lokal saja, tetapi juga mengekspor ke pasar luar negeri, khususnya Sumatra dan Jawa. Dari bukti yang sama ini, dapat disimpulkan pula bahwa Islam dibawa ke Nusantara dari Gujarat, India.
UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN
Masuk dengan GoogleDan dapatkan fitur-fitur menarik lainnya.
Support kami dengan berbelanja di sini:
Rp86.999
Rp134.000
Rp89.000
Rp1.449.000
Memuat Komentar ...