Biografi KH. Abdul Mukti bin Harun

 
Biografi KH. Abdul Mukti bin Harun

Daftar Isi Profil KH. Abdul Mukti bin Harun

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Pengabdian
  6. Menjadi Pengasuh
  7. Ahli Hizb
  8. Melawan Penjajah
  9. Teladan

Kelahiran

KH. Abdul Mukti bin Harun atau yang kerap dipanggil dengan Kiai Mukti merupakan putra KH. Harun yang lahir di Pandaan, Pasuruan, pada Tahun 1896.

Wafat

KH. Abdul Mukti bin Harun wafat pada 9 April 1963 sekitar pukul 11.00 WIB di kediamannya di Kasin. Beliau dimakamkan di pemakaman umum Kasin, Malang.

Keluarga

KH. Abdul Mukti bin Harun melepas masa lajangnya dengan menikahi putri ketiga KH. Yasin yang bernama Nyai Zahroh. Buah dari perkawinnya beliau dikaruniai 17 anak.

Pendidikan

Sejak muda, putra pertama KH. Harun dari enam bersaudara ini sudah giat berdakwah, dan mengabdi di Ponpes Kauman (belakang masjid Agung Jami’ Malang).

Pengabdian

Dalam menjalankan pengabdiannya, KH. Abdul Mukti menjadi pengajar di Masjid Agung Jami’ Malang, salah satu perintis Masjid Al Muarromah, Kasin, Syuriyah NU Cabang Malang, dan sebagai penggembleng pejuang kemerdekaan, yang ahli hizib bagi warga Kota Malang.

Menjadi Pengasuh

Pasca wafatnya Mbah Muhammad Kiai Mukti diminta warga Kasin untuk menetap dan membina masyarakat Kasin,. Karena figur ulama dan ketokohan Kiai Mukti sangat dibutuhkan. Bahkan, KH. Abdul Karim sekeluarga rela memberikan tanahnya untuk dibangun rumah dan pondok pesantren, serta Langgar Al Mukarromah (kini menjadi Masjid Al Mukarromah, dan menjadi monumen tentara Hizbullah), yang dirintis dan dikelola Kiai Mukti.

Ahli Hizb

Di Ponpes Kasin itulah, Kiai Mukti yang terkenal dengan ahli hizib itu memberi semangat kepada tentara Hizbullah untuk mengusir penjajah Belanda dan Jepang. Para santri yang berdatangan ke ponpes, tidak hanya dari Kota dan Kabupaten Malang, seperti Gondanglegi dan Kepanjen. Tapi juga dari Pandaan, Bangil, Pasuruan, Jember, Lumajang, dan beberapa kota lainnya.

Para santri selain diajar ilmu tasawuf, juga diajarkan ilmu fiqih, dengan rujukan kitab-kitab klasik (kitab kuning, yang hingga sekarang masih tersimpan ahli warisnya). Menariknya, selain ada yang nyantri untuk belajar ilmu agama, ada juga yang datang ke ponpes Kiai Mukti hanya ingin digembleng dan minta wirid atau hizib sebelum mereka ikut berjuang mengusir Belanda.

‘’Sebagian besar tentara Indonesia, yang tergabung dalam barisan Hizbullah selalu minta doa restu, dan penggemblengan agar mereka mempunyai keberanian dan selamat dalam pertempuran,’’ kata H. Umar Maksum, santri Kiai Mukti, yang masih hidup, dan kini berusia 92 tahun.

Melawan Penjajah

Menurut cerita dari Umar Maksum, mantan Komandan Pertempuran Hizbullah Jatim pada 1946 ini, Bung Tomo, penggerak pertempuran 10 Nopember di Surabaya sempat sowan dan minta digembleng Kiai Mukti. ‘’Waktu itu, oleh Kiai Mukti, Bung Tomo diberi wirid, dan air minum, serta dibekali dengan bambu runcing,’’ kenang Umar Maksum, yang pernah menerima Tanda Kehormatan Bintang Gerilya dari Presiden Suharto pada 15 Desember 1971.

Perjuangan Kiai Mukti pada masa penjajahan Belanda diakui, cukup besar, terutama dalam pembinaan mental dan rohani para santrinya yang ikut berjuang.

’Pernah suatu ketika, sewaktu Kiai Mukti sedang menggembleng sekitar satu kompi atau sekitar 100 tentara di pondoknya. Tiba-tiba tentara Belanda datang untuk menangkap mereka. Mengetahui hal tersebut, Kiai Mukti kemudian mengumpulkan para tentara di belakang langgar Al Mukarromah. Anehnya, sewaktu tentara Belanda mencari mereka di pondok, di rumah Kiai Mukti dan di langgar Al Mukarromah tidak ditemukan seorang pun tentara,’’ ungkap Umar Maksum, yang meski diusia senja masih tampak sehat dan bugar.

Teladan

Dimata anak cucunya, Kiai Mukti yang mempunyai 17 putra-putri ini dikenal sangat penyabar, disiplin, bahkan tidak banyak bicara.

‘’Demikian juga dalam menerapkan pendidikan, Kiai Mukti memberikan kebebasan kepada anak cucunya. Asalkan tidak sampai meninggalkan syariat Islam,’’ kata Umi Rosidah, satu-satunya cucu putri, yang menjadi kesayangan Kiai Mukti.

Demikian juga dalam hal bershodaqoh dan mencari nafkah, Kiai Mukti yang juga pernah menjadi Syuriyah NU Cabang Malang selalu menekankan agar melakukan ihtiar dan mencari barokah. Tidak ngoyo dalam mencari harta, dan tidak pelit dalam mengeluarkan shodaqoh. Karena prinsipnya, sepanjang manusia itu masih bernafas, berarti masih ada rizkinya.

‘’Mungkin karena ihlasnya. Dulu, di pondok Kiai Mukti itu selalu datang kiriman dari masyarakat. Baik berupa beras, ketela pohon, dan beberapa bahan makanan pokok, yang ditempatkan di beberapa gudang. Namun, bahan makanan itu kembalinya juga kepada santri, tentara yang datang ke pondok, dan masyarakat sekitar Kasin,’’ tambah Umi Rosidah, putri Ibu Makiyah, putri pertama Kiai Mukti.