Wisata Ziarah dan Berdoa di Makam KH. Imam Yahya Mahrus Kediri

Memperoleh Donasi Sebesar : Rp 0. Donasi Sekarang
 
Wisata Ziarah dan Berdoa di Makam KH. Imam Yahya Mahrus Kediri

Sekilas Biografi

KH. Imam Yahya Mahrus adalah putra pertama KH. Ali Mahrus, Pondok Peantren Lirboyo, Mojoroto, Kediri, Jawa Timur. Beliau lahir pada 01 Agustus 1949. KH. Mahrus (ayahanda Kiai Imam) memberi nama Imam Yahya yang diambil dari nama pemimpin Yaman tahun 40-an, Imam Yahya yang berjuluk Amir al-Muslimin, seorang ahli politik, strategi dan ilmu alat (Nahwu-Sharaf). Tentu, harapannya kelak Imam Yahya menjadi sosok seperti Imam Yahya, Sang Amir al-Muslimin.

Di masa kecilnya, Kyai Imam mendapat pengawasan penuh dari KH. Mahrus Aly dan Ibunda Nyai Zainab. Tempaan ilmu agama terus ditanamkan oleh KH. Marus Aly dalam kepribadian Kyai Imam. Setiap malam Kyai Imam sorogan al-Qur’an kepada ayahandanya.

Awal perjalanan Kyai Imam menimba ilmu di Sarang, beliau bertemu dengan KH. Zubair (ayahanda KH. Maimun Zubair). Anehya, Kyai Imam malah langsung disuruh menemui dan ikut KH. Maimun. Padahal Kyai Imam bermaksud nyantri kepada KH. Zubair. Akhirnya Kyai Imam diterima sebagai santri pertama KH. Maimun Zubair.

Untuk menambah wawasan, KH. Mahrus Aly memerintahkan Kyai Imam agar melanjutkan studinya ke Timur Tengah. Tepat tahun 1974, Kyai Imam berangkat menuntut ilmu ke Saudi Arabia bersaman dengan sang ayah menunaikan ibadah haji. Setelah dua tahun di Makkah, kemudian beliau belajar di Universitas Islam Madinah al-Munawwarah. Beliau banyak belajar dari para ulama terkemuka di sana, di antaranya Sayyid Alawi al-Maliki, Syekh Yasin al-Padani, Dr. Muhammad Abduh al-Yamani, dsb.

Waktu terus bergulir, tiba saatnya di mana kyai Imam menikah. Beliau dijodohkan dengan Ning Zakiyah Miskiyah, putri KH. Muhammad Utsman al-Ishaqi (Mursyid Thaqirat al-Qadiriyah wan-Naqsyabandiyah Surabaya). Beliau menikah di saat libur kuliah pada tahun 1978. Sebenarnya waktu itu beliau masih dalam tahap belajar di bangku kuliah Universitas Islam Madinah.
 
Pada tahun 1985, KH. Mahrus Aly wafat. Semenjak itu, Kyai Imam melaksanakan amanat dan wasiat sang ayah, termasuk mendidik santri, beliau memulainya dengan membantu mengurusi pondok HMC dan mengembangkan perguruan Tinggi Universitas Islam Tribakti (UIT). Kyai Imam bersama keluarga menempati sebuah rumah yang memang sudah mulai dibangun semasa hidup sang ayah.

Waktu itu, beliau belum berniat mendirikan pesntren. Kyai Imam hanya berniat menjadikan santri-santri sebagai teman mukim, dan membangunkan kamar-kamar untuk mereka. Hingga akhirnya dengan segala pengorbanan, wasiat sang ayah untuk membeli tanah di depan dan di utara rumah beliau laksanakan untuk dibangun sebuah asrama yang sekarang menjadi gedung Hidayatul Mubatadi’in Putra, gedung MA dan MTs HM Tribakti serta SMK al-Mahrusiyah.

Awalnya, di tahun 1988, pesantren tersebut diberi nama Ibnu Rusyd diambil dari nama kecil Kiai Mahrus, kemudian berubah menjadi HM. Putra dan berganti lagi menjadi al-Mahrusiyah (hingga sekarang).

Berkat ketekunan dan ketegasan Kiai Imam, al-Mahrusiyah sekarang mempunyai tiga cabang dengan berbagai macam unit pendidikan, baik formal maupun non formal.

Pada tahun 2004, Kiai Imam divonis oleh dokter mengidap diabetes tinggi, meski demikian aktifitas selalu dijalani dengan tabah. Hingga awal tahun 2011, kondisi beliau semakin drop dan dilarikan ke RS. Gambiran Kediri. Kemudian dokter menyarankan agar Kiai Imam dilarikan ke Graha Amerta Surabaya. Beliau terkena kanker paru-paru yang telah menjalar ke saluran pernafasan.

Menjelang akhir 2011, penyakit kanker beliau kambuh dan bertambah parah. Beliau meminta untuk dirujuk ke RS. Graha Amerta Surabaya. Sehari sebelum ke RS, beliau menyempatkan untuk mengunjungi lahan perluasan pondok di ds. Ngampel, Mojoroto. Setelah mengukur sepetak tanah, beliau bilang kepada mandor tukang “ini tempat kuburan saya”. Dan benar, setelah dirawat di Surabaya, tanggal 14 januari 2012 beliau dipanggil oleh Allah SWT.

Ribuan santri dan pengunjung dari berbagai lapisan masyarakat memenuhi area pondok pesantren Lirboyo. Mereka berbondong-bondong datang dan mensholati janazah almarhum sebanyak 31 gelombang yang dipimpin oleh kyai-kyai sepuh. Jenazah disholati di tiga tempat yaitu di kediaman beliau, di musholla al Mahrusiyah dan di masjid pondok pesantren Lirboyo.

Pelepasan jenazah dipimpin oleh KH Anwar Manshur dengan sambutan dari ketua PBNU, KH. Sa’id Aqil Siradj dan diiringi dengan doa yang dipimpin oleh guru beliau KH. Maimun Zubair. Tepat pukul 11.00, hari ahad, 15 Januari 2012, janazah diantar ke tempat pemakaman yaitu di lahan pondok pesantren al Mahrusiyah, desa Ngampel, Kecamatan Mojoroto, Kediri.


Lokasi Makam

Makam KH. Imam Yahya Mahrus Ngampel Kediri di komplek pemakaman pondok pesantren al Mahrusiyah, Desa Ngampel, Kecamatan Mojoroto, Kediri.