Biografi K.H. Chasbullah Badawi

 
Biografi K.H. Chasbullah Badawi

Nama lengkap beliau adalah KH. Chasbulloh Badawi yang kini biasa di pangggil oleh para santrinya, Romo Chas atau ada juga sebagian Mbah Chas. Terlepas dari perbedaan penyebutan, beliau adalah seorang ‘ulama besar, terbukti beberapa pejabat negara dan artis artis indonesia bahkan syeikh-syeikh dari timur tengah sering bertandang bersilaturrahim di Kesugihan Cilacap. Kegiatan beliau yang penulis ikuti tiap harinya adalah mengaji kitab Al-Ihya Ulumiddin karya Imam Ghozali setiap paginya.

KH. Chasbullah Badawi adalah putra ke-7 dari KH. Badawi Hanafi sosok kharismatik sang Muassis atau pendiri pondok pesantren Al-Ihya Ulumaddin. KH. Badawi Hanafi lahir di kampung Brengkelan, kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah sekitar tahun 1885 M.

Untuk pendidikannya beliau banyak melalang buana ke berbagai pesantren, bahkan beliau pernah masuk ke suatu universitas pada jurusan adab, tapi beliau tidak kerasan karena pelajaran yang di pelajarinya pada tingkat universitas adalah apa yang sudah di pelajarinya di pondok pesantren. Bahkan menurut pengakuan beliau,beliau pernah mencoba sebelum berdirinya sekolah formal di PP Al-Ihya Ulumuddin mencari beberapa santri untuk di ajarinya belajar ilmu ilmu kealaman. Dan hasilnya ketika beliau ikutkan santrinya ke ujian di sekolah lain, nyatanya mampu bersaing dengan yang bukan pondokan.

KH. Chasbullah Badawi adalah sosok yang sangat sederhana, tapi cakrawala pemikirannya sangat sangat luas, kedalaman ilmunya dicerminkan oleh akhlaq yang halus dan santun dalam perilaku sehari-hari. Kealiman dan kewibawaan KH. Chasbullah Badawi sangat tersohor se-Nusantara, sehingga santrinya datang dari berbagai daerah di Indonesia. Selain itu karena kewaraan dan kadar keulamaan yang dimilikinya, beliau masuk daftar kiai khos Nasional sehingga diberi amanah sebagai Musytasyar PBNU.

Pada awalnya pondok pesantren ini ( Al-Ihya Ulumiddin) dikenal dengan nama pondok pesantren Kesugihan, pada tahun 1961 Pondok Pesantren ini berubah nama menjadi Pendidikan dan Pengajaran Agama Islam (PPAI), dan pada tahun 1983 kembali berubah nama menjadi Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumiddin. Perubahan nama dilakukan oleh KH. Mustolih Badawi, Putra KH. Badawi Hanafi. Perubahan tersebut dilakukan untuk mengenang almarhum ayahnya yang sangat mengagumi karya monumental Imam Al-Ghozali (Kitab Ihya Ulumuddin) tentang pembaharuan islam.

Pemikirannya sangat kental sekali dengan nuansa Ke-Ghozali-an, terutama antara keseimbangan dunia dan akhirat. Salah satu ijtihad Rama Chas yang terwujud di usia senjanya adalah berdirinya Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (UNUGHA) yang terletak di Desa Kesugihan Kidul Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap

Dalam sejarah perjuangan menyebarkan Islam di pesisir selatan Jawa Tengah ini, setelah sang pendiri PP. Al-Ihya Ulumiddin KH. Chasbullah Badawi meninggal dunia, kepemimpinan ponpes ini kemudian dilanjutkan oleh KH. Ahmad Mustholih Badawi dan KH. Chasbulloh Badawi, putra pendiri. Dalam asuhan kedua kiai ini, pesantren mengalami perkembangan pesat sehingga lahir pula lembaga-lembaga pendidikan formal mulai TK hingga perguruan tinggi. Setelah KH. Mustholih Badawi wafat pada 1999, kepemimpinan pondok pesantren dipegang adiknya, KH Chasbulloh Badawi, hingga wafatnya hari ini 11 Ramadan 1438 H/ 06 Juni 2017.

Dalam masa kepemimpinan beliau terdapat perubahan orientasi kepondokkan,seperti yang sering di ceritakan oleh beliau, bahwa santri sekarang harus bisa bersaing dengan yang lain, Ini terbukti dari usaha gigih beliau memasukan Pendidikan formal di pesantren pada tahun 70-an, yang mana pada saat itu banyak sekali kyai-kyai yang sangat tidak mendukung beliau, tapi karena kekuatan tekadnya, beliau memulainya dengan ikut membangun sekolahan yang kini menjadi MI YA-BAKII yang merupakan cikal bakal dari Yayasan BAKII.

Sampai akhirnya beliau mulai merintis cikal Bakal madrasah di Pondok sampai kemudian merintis berdirinya Yayasan YA-BAKII yang kini menaungi sekitar 53 lembaga pendidikan formal dari mulai TK sampai Perguruan Tinggi.