Tuntunan Lengkap Shalat Gerhana

 
Tuntunan Lengkap Shalat Gerhana

Oleh Dr. KH. Zakky Mubarak, MA

LADUNI.ID, Jakarta - Gerhana Bulan dan gerhana Matahari merupakan dua peristiwa yang bersifat alamiah sesuai dengan ketetapan sunnatullah yang telah pasti, dan terjadi berulang kali dari masa ke masa. Agama Islam mengajarkan kepada umatnya, agar peristiwa itu dipahami secara ilmiah dan wajar, sehingga tidak menimbulkan keyakinan yang merusak akidah tauhid. Karena sebagian dari kelompok orang ada yang memahaminya secara salah dan keliru, yaitu pengaitan antara peristiwa gerhana tersebut dengan hal-hal yang bersifat takhayul dan khurafat. Pada masa hayat Rasulullah s.a.w., pernah terjadi gerhana Matahari yang kebetulan berbarengan dengan wafatnya putra Nabi, Ibrahim bin Muhammad, dari istri yang bernama Mariya al-Qibtiyah. Sebagian masyarakat menganggap bahwa terjadinya gerhana itu disebabkan hidup atau wafatnya orang besar. Nabi Muhammad s.a.w. membantah pandangan yang keliru itu dengan sabdanya:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آياَتِ اللهِ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذلِكَ فَادْعُوا اللهَ وَكَبِّرُوْا وَصَلُّوْا وَتَصَدَّقُوْا

“Sesungguhnya Matahari dan Bulan itu merupakan dua tanda dari tanda-tanda keagungan Allah. Karena itu, tidaklah terjadi gerhana (Matahari/Bulan), karena hidupnya seseorang atau matinya seseorang. Apabila kamu menjumpainya (gerhana), maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah...”. (HR. Bukhari, No. 997).

Pada masa lalu, peristiwa terjadinya gerhana masih merupakan peristiwa yang ghaib, tidak diketahui kapan terjadinya. Seiring dengan kemajuan sains dan teknologi, peristiwa gerhana itu menjadi sangat jelas, kapan terjadinya, berapa lama terjadi, gerhana total atau sebagian, dan peristiwa itu dapat diperhitungkan dengan ilmu astronomi, bertahun-tahun sebelum terjadinya. Tuntunan Rasulullah sangat terasa kebenarannya setelah semakin banyak diungkapkan oleh kemajuan sains dan teknologi. Karena itu, dalam ajaran Islam, apabila terjadi gerhana, diperintahkan untuk melakukan shalat gerhana. Shalat itu disebut shalat khusuf atau shalat kusuf yaitu apabila terjadi gerhana Matahari atau Bulan. Umat manusia diarahkan agar banyak bertobat, berdoa memohon kepada Allah dan memperbanyak sedekah.

Petunjuk al-Hadis Tentang Shalat Gerhana

Ada beberapa hadis yang menjelaskan tentang pelaksanaan shalat gerhana, baik Matahari maupun Bulan. Antara lain (1) riwayat al-Mughirah bin Syu’bah:

كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ مَاتَ إِبْرَاهِيْمُ، فَقَالَ النَّاسُ كَسَفَتِ الشَّمْسُ لِمَوْتِ إِبْرَاهِيْمَ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوْا وَادْعُوا اللهَ

“Telah terjadi gerhana Matahari bersamaan dengan hari wafatnya Ibrahim putra Rasulullah. Banyak orang berkata: “Terjadinya gerhana Matahari itu karena wafatnya Ibrahim”. Maka Nabi s.a.w. menolak pandangan mereka dengan bersabda: “Sesungguhnya Matahari dan Bulan itu merupakan dua tanda dari tanda-tanda keagungan Allah. Karena itu, tidaklah terjadi gerhana (Matahari/Bulan), karena hidupnya seseorang atau wafatnya seseorang. Apabila kamu menjumpainya (gerhana), maka shalatlah dan berdoalah kepada Allah”. (HR. Bukhari, No. 997).

Sayyidah Aisyah r.a. meriwayatkan hadis:

خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِيْ عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّيْ فَأَطَالَ الْقِيَامَ جِدًّا ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الركُّوُعَ جِدًّا ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَأَطَالَ الْقِيَامَ جِدًّا وَهُوَ دُوْنَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوْعَ جِدًّا وَهُوَ دُوْنَ الرُّكُوْعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ قَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ وَهُوَ دُوْنَ الْقِيَامِ اْلأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوْعَ وَهُوَ دُوْنَ الرُّكُوْعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ وَهُوَ دُوْنَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوْعَ وَهُوَ دُوْنَ الرُّكُوْعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ انْصَرَفَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ تَجَلَّتِ الشَّمْسُ فَخَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ مِنْ آياَتِ اللهِ وَإِنَّهُمَا لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُمَا فَكَبِّرُوْا وَادْعُوْا اللهَ وَصَلُّوْا وَتَصَدَّقُوْا (رواه مسلم

“Telah terjadi gerhana Matahari di masa Rasulullah s.a.w.. Kemudian Nabi (ke masjid) berdiri untuk melaksanakan shalat. Beliau lama sekali berdiri di dalam shalatnya, kemudian beliau ruku’ dan memperpanjang sekali ruku’nya, kemudian beliau berdiri mengangkat kepalanya, maka beliau memanjangkan waktu berdiri dengan sangat panjang lebih pendek dari berdiri yang pertama. Kemudian beliau ruku’ dan sangat memanjangkan ruku’nya, lebih pendek dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud, dilanjutkan dengan bangun dari sujud, kemudian memanjangkan waktu berdiri, lebih singkat dari berdiri sebelumnya. Beliau kemudian ruku’ kembali lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian beliau berdiri kembali lebih pendek dari berdiri yang sebelumnya, kemudian sujud dan menyelesaikan shalatnya, sementara Matahari telah sempurna kembali (gerhana telah selesai). Setelah itu beliau berkhotbah, dalam khotbahnya beliau menegaskan: ”Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah sebagian dari tanda-tanda keagungan Allah. Pada keduanya tidak terjadi gerhana, karena wafatnya seseorang atau karena lahirnya seseorang. Apabila kamu melihat kedua gerhana itu, maka bertakbirlah, berdoalah kepada Allah, kerjakan shalat, dan bersedekahlah”. (HR. Muslim: 901).

Tata Cara shalat Gerhana

Berdasarkan uraian hadis di atas, dan berdasarkan kajian dari beberapa kitab fiqih, cara melaksanakan shalat gerhana adalah sebagai berikut. Shalat gerhana dilaksanakan dua rakaat dengan empat kali sujud (tiap-tiap rakaat ada dua ruku’). Uraian lengkapnya sebagai berikut: (1) Sebelum shalat diserukan dengan kalimat: “Asshalatu Jaami’atun”. Kemudian imam memimpin shalat, membaca fatihah, membaca ayat-ayat al-Qur’an (disunnahkan yang panjang), kemudian ruku’. Dilanjutkan bangun dari ruku’, berdiri kembali, membaca alfatihah, dilanjutkan membaca ayat-ayat al-Qur’an (disunnahkan lebih pendek dari bacaan yang pertama). Kemudian ruku’ lagi, dilanjutkan dengan i’tidal dan sujud seperti kita melaksanakan shalat pada umumnya. (2) Setelah sujud langsung berdiri kembali, melanjutkan rakaat yang ke dua dengan membaca al-Fatihah dan membaca ayat-ayat al-Qur’an (disunnahkan lebih pendek dari bacaan sebelumnya). Dilanjutkan ruku’, kemudian bangun dari ruku’, membaca al-Fatihah dan membaca ayat-ayat al-Qur’an lagi (disunnahkan lebih pendek dari bacaan sebelumnya), kemudian ruku’, i’tidal, kemudian dilangsungkan dengan sujud dan tasyahhud, ditutup dengan salam.

Setelah shalat gerhana, dilakukan khutbah shalat gerhana sebagaimana dilakukan pada shalat Ied, tidak disertai membaca takbir sembilan kali pada khutbah pertama, dan tujuh kali pada khutbah yang kedua. Diperintahkan juga untuk memperbanyak istighfar, betaubat, berdoa, memohon kepada Allah s.w.t., memperbanyak takbir, dan memperbanyak sedekah.

Penutup

Demikian uraian singkat mengenai shalat gerhana dan khutbahnya, semoga bermanfaat dan mohon maaf apabila terdapat kesalahan dan kekhilafan.