Biografi KH. Achmad Nasrulloh Abdur Rohim

 
Biografi KH. Achmad Nasrulloh Abdur Rohim

Daftar Isi Profil KH. Achmad Nasrulloh Abdur Rohim

  1. Kelahiran
  2. Keluarga
  3. Wafat
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Lembaga Pendidikan
  6. Pemikiran
  7. Karier

Kelahiran

KH. Achmad Nasrulloh Abdur Rohim lahir pada tahun 1935 di Jombang. Beliau merupakan anak ketiga dari pasangan KH. Abdur Rohim Chasbulloh dan Nyai Mas Wardiyah asal Yogyakarta.

Keluarga

Pada tahun 1957 KH. Achmad Nasrulloh Abdur Rohim melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyai. Zubaidah, putri KH. Sulaiman Qosim asal Keboan, kecamatan Kudu Jombang.

Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai enam anak, lima perempuan dan satu laki-laki. Putra-putri beliau diantaranya: Munhidhatul Ummah, Umdatul Khoirot, Roidhatus Salamah, Zumrotus Sholichah, Moh. Habiburrahman dan yang terakhir Sa’adatul Athiyah. Kini mereka sudah menjadi manusia dewasa yang mengamban amanah Pesantren As-Sa’idiyah.

Wafat

Beliau wafat pada 02 Juni 2002 setelah 16 tahun masuk dalam jajaran Syuriyah PWNU Jatim, aktif di partai Golkar dan pernah menjadi  anggota dewan legislatif kabupaten Jombang dua periode pada tahun 1986, pernah menjabat kepala Madrasah Muallimin Muallimat Bahrul Ulum, mendirikan Sekolah Persiapan Muallimin (SP MMA) tahun 1982, sekaligus sebagai nahkoda madrasah.

Pendidikan

Masa kecil KH. Achmad Nasrulloh Abdur Rohim, memulai pendidikannya dengan belajar di Madrasah Ibtidaiyyah Tambakberas. Saat awal masuk sekolah, ketika usia beliau sekitar 7 tahun, abah beliau meninggal dunia.

Menginjak usia 13 tahun, beliau melanjutkan pendidikannya dengan mencari ilmu ke berbagai pesantren. Kiai pertama yang menjadi tujuan beliau untuk belajar adalah kH. Ma'shum, di desa Laren Bumiayu Brebes.

Kiai Nasrul memang tidak banyak cerita, dimana dan kemana saja beliau mencari ilmu. Bahkan, dalam hal ilmu yang paling digemari dan didalami, tidak banyak orang tahu. Tetapi anehnya, kiai Nasrul mahir berbahasa Arab dan Belanda, ilmu kejadukannya juga sudah teruji, beliau juga mampu mengurai dan menjelaskan secara detail isi kitab Tafsir Jalalain dan Durrotun Nasikhin, kitab yang menjadi rutinan ngaji beliau setelah jamaah mahgrib dan subuh.

Perjuangannya sesudah menikah, beliau yang saat itu terkenal terkenal dengan panggilan Gus Nasrul pulang ke rumah mertua di Keboan. Disinilah Gus Nasrul melanjutkan perjuangannya menjadi guru ngaji dan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah pada tahun 1961 dan sampai sekarang Madrasah tersebut masih hidup dan berkembang kurang lebih 21 tahun di Keboan lalu di panggil lagi untuk pulang ke Tambakberas sesudah wafatnya KH. Wahab Chasbullah.

Mendirikan Lembaga Pendidikan

Pada tahun 1977, KH. Achmad Nasrulloh Abdur Rohim diangkat menjadi kepala Madrasah Mualimin Mualimat (MMA) BU kurang lebih selama 15 tahun. Setelah memimpin madrasah, beliau mulai merintis As-Sa’idiyah yang sampai sekarang bisa kita manfaatkan bersama tanpa bergantung kepada bantuan pemerintah.

Pada tahun 1981, beliau mendirikan Madrasah I’idadiyah Lil Mu’alimin Wal Mu’alimat dua tahun, lalu pada tahun 1991 berubah menjadi Madrasah I’idadiyah Lil Jami’ah Bharul ‘Ulum Program lima tahun, hingga pada tahun 2005  Madrasah I’idadiyah memiliki program baru yaitu hanya tiga tahun untuk menempuh study dan berlanjut hingga sekarang MAJ terus berkembang.

Pada tahun ajaran 2009 ini MAI memiliki program baru yakni beasisiwa SPP dan asrama bagi seluruh murid baru.

Cita-cita beliau untuk mendirikan dan membesarkan Madrasah ini tidak pernah pudar sekalipun harus melalui jalan terjal yang memberatkan, terutama ketika belum mempunyai gedung sendiri kemudian dipaksa pindah dari tempat semula yang ditempati selama beberapa tahun, demi perjuangannya beliau KH. Achmad Nasrullah Abdurrahim rela mengorbankan sebagian rumahnya untuk belajar para siswa-siswi SPPT. Keadaan seperti ini berjalan selama tiga tahun dan alhamdulillah sekarang sudah memiliki gedung sendiri.

Pemikiran

Pola pemikiran KH. Achmad Nasrulloh Abdur Rohim yang paling kental dalam sikap hidupnya adalah: moderat, salafi modern, dan kepekaan sosial.

Moderat yang dimaksud disini adalah tidak kolot atau lalim juga disebut juga dengan ekstrim. Artinya adalah memandang suatu masalah yang berkaitan dengan hukum, tidak dikembalikan pada ketentuan fiqih murni (fiqih sentris) saja, tetapi lebih dikembalikan pada kaidah-kaidah fiqihiyah dimana faktor ilat hukum dan maslahat lebih sangat diperhatikan.

Misalnya pada zaman 70-an dimana memakai celana bagi kaum perempuan itu diharamkan oleh sebagian ulama, maka Kyai Nasrullah menetapkan “boleh” memakai celana selama tidak menyerupai laki-laki dan membawa rasa aman bagi perempuan itu.

Kemudian yang kedua adalah bahwa beliau tetap ingin memperhatikan nilai-nilai lama, kitab-kitab salaf, ajaran-ajaran ulama’ salaf tapi disampaikan dengan pendekatan dan metode yang modern. Hal ini bisa kita lihat, misalnya dalam mengajar tafsir fiqih atau ilmu-ilmu yang lain.

Pada saat memberikan dan menerangkan pelajaran tidak tekstual, akan tetapi kepada anak didik diajarkan pula tentang materi-materi pelajaran itu dalam kaitannya dengan kehidupan yang dialami oleh anak didik dimana dan kapan mereka tinggal dan belajar (konstektual).

Yang ketiga adalah Kepekaan Sosial. Sifat yang ketiga ini melekat dalam diri beliau barangkali karena beliau merasakan sendiri bagaimana menjadi anak yatim dan serba kekurangan. Karena itulah beliau mengajarkan bagaimana cara menyayangi orang-orang lemah (dhuafa’).

Dalam praktek keseharian beliau selalu memperhatikan santri atau anak anak didik yang potensial tapi tidak mempunyai biaya dengan memberikan beasiswa ataupun dispensasi SPP. Memberikan dukungan moral maupun material kepada para santri terutama yang tak cukup biaya namun mempunyai prestasi dan kepandaian karena beliau sangat mencintai ilmu dan orang-orang pintar.

Karier

Selain kesibukan mengajar di madrasah dan mengaji kitab kuning di pondok, KH. Achmad Nasrulloh Abdur Rohim juga aktif diberbagai oraganisasi. Tercatat beliau sebagai pendiri Madrasah Ibtidaiyyah di Keboan, masuk dalam jajaran Syuriyah PWNU Jatim, menjadi  anggota dewan legislatif kabupaten Jombang dua periode pada tahun 1986, pernah menjabat kepala Madrasah Muallimin Muallimat Bahrul Ulum, mendirikan Sekolah Persiapan Muallimin (SP MMA) tahun 1982, sekaligus sebagai nahkoda madrasah hingga beliau wafat 16 tahun yang lalu, 2 Juni 2002, dan beliau juga sempat mengarang kitab Attibyan Fi Tafsiri Ayatil Ahkam yang hingga kini masih terus jadi rujukan kajian dan penelitian berbagai universitas.

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya