Biografi KH. Abdul Razaq bin Ma'mun

 
Biografi KH. Abdul Razaq bin Ma'mun

Daftar Isi Profil KH. Abdul Razaq bin Ma'mun

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Mendirikan Madrasah
  5. Murid-Murid
  6. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Kelahiran

KH. Abdul Razaq bin Ma'mun atau yang kerap disapa dengan panggilan Guru Abdul Razaq lahir pada bulan Rabi’ul Awwal 1335H bertepatan dengan tahun 1916. Beliau merupakan  cucu dari Guru Muhammad Mughni, ulama besar Kuningan, Jakarta Selatan dari garis ibu.

Wafat

KH. Abdul Razaq bin Ma’mun wafat pada tanggal 25 Muharram 1404 H/1 Nopember 1983 pada usia 67 tahun. Jenazah beliau dimakamkan di Kompleks Masjid Darussalam, Kuningan, Jakarta Selatan, berdampingan dengan makam ayahnya, Guru H. Muhammad Ma'mun bin Jauhari bin Mi'un.

Pendidikan

KH. Abdul Razaq bin Ma'mun memulai pendidikannya dengan belajar dengan orang tuanya di Jakarta. Setelah selesai, beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Mekkah. Di sana beliau belajar selama 6 tahun.

Mendirikan Madrasah

Salah satu kiprah Guru Abdul Razaq adalah mendirikan Madrasah Raudhatul Muta’ allimin dengan berbadan badan hukum yayasan. Kisah pendirian madrasah ini bermula ketika pada awal tahun 1945, ia bersama dua kiai Betawi lainnya (KH. Ali Syibromalisi dan KH. Abd Syakur Khairy) mengikuti Mu‘tamar Nahdhatul Ulama yang diadakan oleh PBNU di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur.

Beberapa hari sebelum keberangkatannya menuju Jawa Timur mereka bertiga berkumpul di kediaman H. Abd Rachim bin Jahip untuk mempersiapkan kepantasan perlengkapan diri dalam acara yang dianggap sangat penting dan besar.

Sepulangnya dari mengikuti mu’tamar, ketiga ulama tersebut dengan berbekal ilmu disertai niat luhur, tulus serta pandangannya jauh ke depan dalam bercita-cita dan melaksanakan amanat yang telah diterima dalam rangka memajukan Agama, Bangsa, dan Negara dalam pendidikan dan ajaran-ajaran Islam yang berpaham pada Ahlussunnah Wal Jamaah, maka ketiga ulama tersebut mulai mengembangkan visi dan misinya untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan.

Cita-cita yang mulia tersebut mendapat dukungan dan restu dari para ulama Kuningan Jakarta Selatan diantaranya: KH. Abdulloh bin H. Suhaemi, KH. Sahrowardi bin Guru Mughni dan KH. Rahmatulloh bin Guru Mughni, serta sambutan yang sangat luar biasa dari masyarakat Kuningan Mampang dan yang lebih menggembirakan lagi dukungan dari para pengusaha yang ada di Jakarta Selatan khususnya Kuningan-Mampang.

Dengan modal awal hasil pembelian tanah di Kuningan Mampang, para perintis terus melakukan pendekatan kepada para pengusaha untuk perluasan pembelian lahan tanah dan pembangunan sebuah pendidikan madrasah di sekitar lokasi tersebut, para pendiri telah didukung oleh beberapa orang pengusaha susu di Kuningan dan pengusaha lainnya yang ada di Jakarta Selatan, serta sumbangan moril maupun material masyarakat Kuningan dan Mampang yang begitu antusias untuk mendirikan lembaga pendidikan.

Pada bulan Agustus 1945 terbentuklah sebuah lembaga pendidikan yang diberi nama “Madrasah Yayasan Raudhatul Muta’allimin yang dipimpin oleh KH. Abdurrazak Ma’rnun lokasi di Jalan KH. Abd. Rochim (Jalan Kuningan Barat Raya) Kelurahan Kuningan Barat Kecamatan Mp. Prapatan RT 003 RW 002 di lokasi inilah dijadikan sebagai titik awal fisik bangunan madrasah didirikan, yang pekerjaannya dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat Kuningan, Mampang dan sekitamya tetapi bentuk fisiknya masihlah sangat sederhana.

Berpindahnya kepala sekolah madrasah tsanawiyah negeri 1, Bapak H. Ahmad Chaerani H. Mardani, BA menjadi pengawas pendidikan tingkat Tsanawiyah kecamatan Mp. Prapatan maka dengan pengalaman yang didapatkan sejak kepemimpinannya di MTsN 1 beliau bersama kepala sekolah Ibtidaiyah Bapak Samani, Rifa’I Ishak dan sekretaris 2 Yayasan Bapak H. Muhamad Zakky Abd. Razak Ma’mun membuat team yang intinya mempersiapkan untuk membuka kembali pendidikan tingkat Tsanawiyah berdasarkan surat tugas nomor:020/YRM/3/1994 oleh pengurus Yayasan (H. Ishak Muhasyim dan KH. Siddiq Fauzi) membuka madrasah Tsanawiyah Raudhatul Muta’allimin untuk tahun ajaran 1994/1995.

Beliau bukan saja dikenal sebagai pendiri dan pemimpin madrasah, tetapi juga dikenal sebagai “singa podium”, namanya dikenal oleh hampir seluruh penduduk Betawi kala itu. Kiprahnya mulai dikenal orang ketika pada dekade 1950-an dan 1960-an, ia menjadi penceramah utama di Kwitang, di majelis Habib Ali Kwitang, sehingga menjadi kesayangan Habib Ali Kwitang.

Murid-Murid

Guru Abdul Razaq sangat peduli dengan pendidikan murid-muridnya. Salah satu kepeduliannya adalah mengusahakan dana pendidikan agar murid-muridnya dapat belajar keTimur Tengah. Di antara murid-muridnya yang kemudian menjadi ulama terkenal adalah KH. Abdul Azdhim Suhami, KH. Sidiq Fauzi, KH. Salim Jaelani dan adiknya, KH. Soleh Jaelani, KH. Muchtar Ramli, KH. Abdul Razak Chaidir, KH. Abdul Hayyi, dan KH. Abdur Rasyid.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Karena keluasan ilmu fiqhnya, Guru Abdul Razaq pernah duduk sebagai Katib Syuriah PBNU 1967-1971. KH. Bisri Syansuri menyaksikan sendiri dan mengakui kompetensi fiqh kiai Kuningan ini.

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya