Biografi KH. Faqih Muntaha

 
Biografi KH. Faqih Muntaha

Daftar Isi Profil KH. Faqih Muntaha

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Pengasuh Pesantren
  6. Kiprah di Nahdlatul Ulama (NU)

Kelahiran

KH. Faqih Muntaha atau yang akrab disapa dengan panggilan Abah Faqih lahir pada 3 Maret 1955 di Kalibeber. Beliau merupakan putra sulung KH. Muntaha Alhafidz dengan Nyai Hj Maiyan jariyah.

Wafat

KH. Faqih Muntaha wafat pada Jumat 20 Mei 2016 sekitar pukul 19.00 wafat dalam usia 61 tahun. Beliau meninggal dunia karena menderita penyakit komplikasi sakit jantung di rumah sakit Islam Wonosobo.

Keluarga

KH. Faqih Muntaha melepas masa lajangnya dengan menikahi salah seorang santri Kalibeber yang bernama Shofiah binti KH. Abdul Qodir Cilongok Banyumas. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai 5 putra dan 1 putri, diantaranya,

  1. H. Abdurrohman Al-Asy'ari, Alh, S.H.I
  2. H. Khairullah Al-Mujtaba, Alh
  3. Siti Marliyah
  4. Nuruzzaman
  5. Fadlurrohman Al-Faqih
  6. Ahmad Isbat Caesar

Putra-putri beliau sudah ada yang menyelesaikan pendidikan baik formal maupun non formal, baik S1 maupun tahfidzul Qur'an dan juga pondok pesantren. Bahkan putra beliau yang pertama dan kedua adalah alumnus Yaman "Ribat ta'lim Khadzral maut" dibawah asuhan Habib Salim As-Satiri

Pendidikan

KH. Faqih Muntaha memulai pendidikannya dengan belajar langsung kepada ayahnya, KH. Muntaha AlHafidz. Setelah selesai belajar kepada ayahnya, beliau melanjutkan pendidikanya dengan sekolah formal di SD Kalibeber, sedangkan SMP di Wonosobo, yang kemudian melanjutkan di STM juga di Wonosobo.

Setelah selesai sekolah formal beliau dikirim untuk belajar di pesantren, seperti gus-gus yang lain. Pada tahun 1973 beliau nyantri di Pondok Pesantren Tremas Pacitan di bawah asuhan KH. Chabib Dimyati, sampai tahun 1978. Kemudian beliau pindah ke Pondok Pesantren Krapyak yang pada waktu itu di asuh oleh KH. Ali Maksum (juga termasuk salah satu teman seperjuangan KH. Muntaha Al Hafidz). selama satu tahun.

Selanjutnya beliau nyantri lagi di Buaran Pekalongan kepada KH. Syafi'i yang juga terkenal sebagai salah satu teman seperjuangan KH. Muntaha Al hafidz. setelah itu pada tahun 1980 beliau pulang ke Kalibeber yang dilanjutkan dengan nyantri di Kaliwiro kepada seorang kyai yang terkenal dengan sebutan Mbah Dimyati.

Pengasuh Pesantren

Setelah pulang dari pesantren beliau aktif membantu mengajar di Pondok Pesantren Al-Asyi'ariyyah milik ayahandanya dan ikut berkecimpung dalam masyarakat. Waktu itu santri di Kalibeber baru sekitar 50 orang putra dan putri dengan prioritas Tahfidzul Qur'an dan menggunakan sistem salaf (baca: tradisional). Pertama kali beliau mengajar pada santrinya yaitu kitab "Burdah" yang bertempat di masjid Baiturrahim.

Selain mengajar santri beliau juga mengajar Dinyyah ba'da dzuhur untuk orang kampung yang waktu itu bertempat di MI Ma'arif. adapun kitab-kitab yang pernah beliau khatamkan antara lain Taqrib, Bidayatul Hidayah, Sulamuttaufiq, safinah dll. Sedangkan untuk ilmu alatnya diampu oleh KH. Quraisyin, teman seperjuangan KH. Achmad Faqih Muntaha.

Disamping mengajar, beliau juga ikut aktif dalam mendirikan lembaga-lembaga formal antara lain : SMP, SMA, SMK Takhassus Al-Qur'an dan IIQ (Sekarang UNSIQ). Beliau juga meneruska cita-cita ayahanda beliau yang belum terrealisir diantaranya : SD Takhassus Al-Qur'an, Darul Aitam, Menara Masjid Baiturrochim, dan gedung baru Pondok Pesantren Al-Asy'ariyyah.

Beliau juga mendirikan kelas jauh diantaranya adalah : SMA Takhassus  Al-Qur'an di Kepil, SMP + SMA Takhassus Al-Qur'an di Ndero duwur plus Pondok pesantren tanpa pemungutan biaya, Pondok Pesantren + SMA dan SMP Takhassus Al-Qur'an di Kalimantan barat, SMP TAQ Di Majalengka, di Tumiyang Purwokerto, di Buntu Banyumas, serta di Baran Gunung Ambarawa, dan masih banyak lagi.

Kiprah di Nahdlatul Ulama (NU)

Dalam bidang organisasi KH. Faqih Muntaha aktif di Mabarot dan selanjutnya aktif di Tanfidziyah Ranting kalibeber, sekretaris MWC Mojotengah. Tercatat mulai Tahun 1996 sampai sekarang beliau aktif sebagai Mustasyar NU cabang Wonosobo. Dulunya Beliau juga aktif dalam partai politik antara lain PPP, Golkar dan PKB. Namun demi kemaslahatan umat mulai tahun 2004 hingga sekarang beliau netral. Selain itu beliau juga menjadi salah satu sesepuh di Kalibeber bahkan di Wonosobo beliau termasuk salah satu Kiai yang paling disegani.