Biografi Tuan Guru Turmudzi

 
Biografi Tuan Guru Turmudzi

Daftar Isi Tuan Guru Turmudzi

  1. Kelahiran
  2. Pendidikan
  3. Mengasuh Pesantren
  4. Mursyid Tarekat Qodiriyah
  5. Kiprah di Nahdlatul Ulama (NU)
  6. Karya-Karya

Kelahiran

Tuan Guru Bagu atau yang kerap disapa dengan panggilan Tuan Guru Haji (TGH) Turmudzi lahir pada hari Rabu, 1 April 1936 M atau bertepatan dengan 9 Muharram 1355 H di Bagu. Beliau merupakan putra dari pasangan Tuan Guru Haji Raden Badaruddin dengan Hj. Aminah binti Haji Ridwan.

Tuan Guru Bagu adalah anak kedua dari seibu sebapak dan merupakan anak ketiga dari seibu. Saudaranya, yaitu Haji Saharuddin (seibu), Hajjah Baiq Syaibah (seibu sebapak), Baiq Sarinah (seibu sebapak) , Baiq Mastah (seibu sebapak), dan Baiq Mukminah (sebapak).

Pendidikan

Tuan Guru Haji Turmudzi memulai pendidikannya dengan belajar di bawah asuhan ayahandanya. Ayahnya lah yang pertama kali mengajarkannya al-Qur’an sampai pada umur lima tahun. Ia juga diajar mengaji al-Qur’an oleh pamannya, yakni Haji Semaun sampai khatam. Ayahnya juga yang mengajarkan untuk membiasakannya melakukan kebaikan, seperti selalu diajak ke masjid, shalat berjamaah dan ngaji al-Qur’an.

Setelah selesai belajar dengan ayahnya, beliau kemudian berguru agama pada seorang tuan guru legendaris di Pulau Lombok, yakni Tuan Guru Shaleh Hambali Bengkel, pendiri Ponpes Darul Qur’an. Di sana, Turmuzi Badaruddin muda menimba ilmu selama 14 tahun sejak 1944-1958.

Pendidikan agama Turmudzi muda tak hanya berhenti di sana. Setelah tamat dari Ponpes Darul Qur’an, ia melanjutkan pendidikan agamanya di Masjidil Haram, Mekah, Arab Saudi, selama enam tahun. Sekembalinya dari Tanah Suci pada 1962, Tuan Guru Haji Turmudzi muda yang telah bergelar haji mewujudkan mimpinya membangun sebuah Pondok Pesantren di Tanah Lombok.

Mengasuh Pesantren

Sepulang haji, Tuan Guru Haji Turmudzi tidak memberitahukan kepada gurunya, Tuan Guru Bengkel bahwa namanya sudah berganti. Tetapi, tertulis di kipas yang ia hadiahkan kepadanya tulisan Haji Muhammad Turmudzi. Ketika melihat nama itu, Tuan Guru Bengkel berkomentar, “Bagus.” Ia merestui nama itu.

Setelah beberapa minggu dari kepulangan Tuan Guru Haji Turmudzi dari Mekah, ia berziarah ke Bengkel dan tinggal di Bengkel menjadi “guru muda” yakni bahwa Pondok Pesantren Qamarul Huda itu diserahkan kepadanya. Sejak saat itu, ia mengajarkan agama kepada para santri dari tingkat dasar atau diniyah hingga ke tingkat perguruan tinggi.

Mursyid Tarekat Qodiriyah

Selain mengurus pesantren, Tuan Guru Haji Turmudzi juga merupakan mursyid tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Bagu, Pringgarata, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Kiprah di Nahdlatul Ulama (NU)

Tuan Guru Haji (TGH) Turmudzi mulai banyak ikut terlibat di organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Pada tahun 1970, ia diangkat menjadi Rais Syuriyah Ranting Bagu dan juga menjadi Rais Syuriyah Majelis Wakil Cabang (MWC) Bagu Narmada. Pada saat itu, yang menjadi ketua Cabangnya adalah Bapak Bukhari dari Desa Batu Kuta, Narmada. Pada tahun yang sama, daerah Bagu dan Narmada terpisah.

Desa Bagu menjadi bagian dari Kecamatan Pringgarata Kabupaten Lombok Tengah, sedangkan Narmada menjadi kecamatan dari Kabupaten Lombok Barat. TGH Turmudzi secara otomatis menjadi Rais Syuriyah MWC Pringgarata dan ketuanya pada saat itu adalah H. Darwisah yang berasal dari Plabu. Satu tahun kemudian, yakni pada tahun 1971, TGH Turmudzi menjadi Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lombok Tengah di bawah Raisnya, yaitu Tuan Guru Haji Lalu Muhammad Faishal.

Adapun Ketua Tanfidziyahnya adalah Lalu Jailani. Pada tahun 1973, Tuan Guru Haji Lalu Muhammad Faishal naik jabatan menjadi Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (PWNU NTB) sampai pada tahun 1996. Pada tahun 1994, TGH Turmudzi mengikuti Tuan Guru Haji Lalu Muhammad Faishal menjadi Wakil Rais Syuriyah di PWNU.

Sampai pada tahun 1996, Tuan Guru Haji Lalu Muhammad Faishal wafat, maka TGH Turmudzi menggantikannya menjadi Rais Syuriyah PWNUNTB sampai tahun 2007. Selanjutnya, mulai tahun 2008 sampai sekarang, ia menjabat sebagai Mustasyar PWNU NTB sekaligus Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta, dan dipercaya menjabat sebagai Rais Syuriyah PWNU kembali masa khidmat 2019 – 2024.

Pada tahun 2008, saat Tuan Guru Bagu menjadi Rais Syuriyah PWNU NTB, ia juga menjadi Dewan Syura Partai Kebangkitan Bangsa Pusat menjadi wakil KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pada saat Gus Dur menjadi Presiden, ia diangkat menjadi Mustasyar PBNU di Muktamar Lirboyo sampai sekarang.

TGH. Turmuzi benar-benar menemukan jati dirinya sebagai tokoh ulama NU di NTB yang sudah menasional. Terutama setelah keterlibatannya pada kepengurusan Dewan Mustasyar Pengurus Besar NU maupun Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Hampir setiap ada gawe besar baik di NU maupun Partai Kebangkitan Bangsa, TGH. Turmuzi tidak pernah absen dan apalagi Gus Dur ada disitu.

“Mengurus PKB sama juga dengan mengurus NU“, katanya suatu ketika. Berpartai bagi Dato’ Turmudzi tidak untuk mengejar jabatan, tetapi semata-mata sebagai media dakwah.

Karya-Karya

  1. Zadul Ma’ad: Wirid Harian Muslim
  2. Wirid Bagu: Dzikir dan Doa Harian Muslim
  3. Kumpulan Materi Pengajian
  4. Ta’līmush Shibyān Bi Ghāyatil Bayān: Pengantar Studi Islam (Pentahqiq)7
  5. Dalīlul Haul (penahqiq)
  6. Kata Pengantar/Sambutan ”Berkah Guruku”